Rumah Kaki Seribu: Rumah Adat Suku Arfak yang Unik dan Khas

Rumah Kaki Seribu: Rumah Adat Suku Arfak yang Unik dan Khas

Last Updated: 4 January 2026, 03:00

Bagikan:

rumah kaki seribu
Foto: Wikipedia

Rumah Kaki Seribu – Rumah adat asli milik penduduk Suku Arfak yang menetap di Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Rumah adat ini dikenal karena bentuknya yang khas, berdiri di atas banyak tiang kayu yang tersusun rapat sehingga menyerupai kaki hewan kaki seribu.

Keunikan rumah adat ini tidak hanya terlihat dari bentuk bangunannya, tetapi juga dari fungsi dan filosofi yang melekat di dalamnya. Menurut Wikipedia, rumah kaki seribu merupakan warisan budaya turun-temurun yang mencerminkan cara hidup, sistem kepercayaan, serta kemampuan masyarakat Suku Arfak dalam beradaptasi dengan lingkungan alam pegunungan.

Asal Usul dan Penamaan Rumah Kaki Seribu

Rumah kaki seribu dinamakan demikian karena bagian bawah rumah ditopang oleh banyak tiang kayu dengan jarak yang sangat rapat. Jika dilihat dari kejauhan, tiang-tiang tersebut tampak seperti deretan kaki seribu. Tiang penyangga ini terdiri dari kayu berukuran tinggi dan pendek yang disusun secara kuat dan teratur.

Dalam bahasa lokal, rumah adat ini memiliki beberapa sebutan. Masyarakat Meyah menyebutnya Mod Aki Aksa, suku Wamesa mengenalnya sebagai Igkojei, dalam bahasa Hattam disebut Igmam, sementara suku Sougb menyebutnya Tu Misen. Perbedaan penyebutan ini menunjukkan keberagaman bahasa lokal di wilayah Papua Barat, meskipun bentuk dan fungsi rumahnya tetap sama.

Struktur Bangunan dan Bahan Alami

Rumah kaki seribu termasuk jenis rumah panggung. Atap rumah dibuat dari daun jerami, ilalang, atau daun sagu yang diikatkan pada rangka kayu. Tiang, lantai, dan dindingnya menggunakan bahan utama berupa kayu dan kulit kayu yang dilebarkan, kemudian diikat rapat menggunakan tali dari serat rotan dan kulit kayu.

Ukuran rumah adat ini pada umumnya sekitar 8 x 6 meter. Tinggi panggung dari permukaan tanah berkisar antara 1 hingga 1,5 meter, sementara tinggi puncak atap mencapai sekitar 4,5 hingga 5 meter. Tiang-tiang fondasi memiliki diameter sekitar 10 cm dengan jarak antar tiang kurang lebih 30 cm, sehingga menciptakan kesan bangunan yang kokoh dan alami.

Fungsi Tiang dan Desain Tanpa Jendela

Banyaknya tiang penyangga pada bangunan memiliki fungsi penting. Selain menopang rumah, tiang-tiang tersebut dipercaya mampu melindungi penghuni dari serangan musuh dan ancaman ilmu hitam. Desain rumah yang tinggi juga bertujuan untuk menghindari gangguan hewan buas.

Bangunan ini tidak memiliki jendela, agar suhu di dalam tetap hangat mengingat rumah biasanya dibangun di daerah pegunungan yang berhawa dingin. Sirkulasi udara hanya mengandalkan pintu depan dan pintu belakang sebagai akses keluar-masuk udara.

Tata Ruang dan Kehidupan Penghuni

Bagian dalam rumah kaki seribu tidak dibagi menjadi kamar-kamar seperti rumah modern. Ruangan hanya dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu sisi kiri untuk kaum perempuan yang disebut ngimsi, dan sisi kanan untuk kaum laki-laki yang disebut ngimdi. Di dalam rumah juga terdapat perapian yang berfungsi untuk menghangatkan seluruh ruangan.

Sebagaimana rumah panggung tradisional lainnya, hunian ini biasanya dihuni oleh beberapa keluarga yang tinggal bersama. Kolong dimanfaatkan sebagai kandang ternak, sementara di bagian tertentu terdapat ruang khusus untuk upacara adat dan kegiatan pesta.

Fungsi Sosial dan Budaya Rumah Kaki Seribu

Bagi masyarakat Suku Arfak, rumah kaki seribu bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat kehidupan sosial dan budaya. Rumah ini digunakan sebagai tempat mendidik anak, melaksanakan pesta adat, dan berbagai kegiatan bersama masyarakat.

Pada bagian tengah rumah, lantai tidak dilapisi kayu sehingga memungkinkan pelaksanaan tarian adat langsung di atas tanah saat upacara atau pesta berlangsung. Celah-celah pada lantai juga membantu sirkulasi udara agar kondisi di dalam rumah tetap nyaman.

Keberadaan Rumah Kaki Seribu Saat Ini

Rumah kaki seribu merupakan warisan turun-temurun yang hanya dapat ditemukan di wilayah wilayah Pegunungan Arfak, Kabupaten Manokwari, dan sekitarnya. Pembangunannya didasarkan pada filosofi hidup masyarakat lokal yang sangat menghargai alam dan kebersamaan.

Namun, saat ini keberadaan rumah adat tersebut semakin jarang ditemukan karena banyak masyarakat mulai beralih ke rumah modern dengan lantai semen, dinding batako, atap seng, serta jendela. Perubahan ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pelestarian sebagai identitas budaya Suku Arfak.

Penutup

Rumah kaki seribu mencerminkan kearifan lokal masyarakat Suku Arfak dalam membangun hunian yang selaras dengan alam dan kebutuhan hidup di wilayah pegunungan. Keunikan struktur, fungsi, serta makna budayanya menjadikan rumah adat ini sebagai salah satu kekayaan budaya Papua Barat yang bernilai tinggi.

Simak berita menarik seputar budaya dan arsitektur Indonesia di Negeri Kami, serta temukan beragam cerita inspiratif tentang warisan budaya Nusantara. Jangan lewatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan tentang tradisi lokal yang kaya makna dan penuh nilai sejarah.

Search

Video

Budaya Detail

Papua Barat

Rumah Adat

Kabupaten Manokwari, Wilayah Pegunungan Arfak

Budaya

Budaya Lainnya