Pasola Sumba: Tradisi Lempar Lembing di Atas Kuda

Pasola Sumba: Tradisi Lempar Lembing di Atas Kuda

Last Updated: 19 December 2025, 03:00

Bagikan:

pasola
Foto: Pinterest / Explore Sumba

Pasola – Tradisi khas masyarakat Sumba, Nusa Tenggara Timur, yang melibatkan lempar lembing kayu dari atas kuda yang sedang dipacu kencang. Tradisi ini mempertemukan dua kelompok yang saling berhadapan, mencerminkan keberanian, ketangkasan, dan semangat persaudaraan pemuda Sumba sekaligus menjadi bagian dari ritual adat Marapu.

Selain sebagai permainan, pasola sarat makna sosial dan religius. Menurut Wikipedia, kegiatan ini menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen sekaligus mempererat hubungan antarwarga di kampung-kampung pelaksana tradisi.

Sejarah Pasola

Pasola berasal dari kata “sola” atau “hola,” sejenis lembing kayu. Setelah mendapat imbuhan “pa” menjadi permainan lempar lembing dari atas kuda. Tradisi ini bagian dari upacara adat masyarakat yang menganut agama Marapu, dan diadakan secara bergiliran di empat kampung di Sumba Barat, yaitu Kodi, Lamboya, Wonokaka, dan Gaura, setiap Februari hingga Maret.

Menurut cerita rakyat, pasola berawal dari kisah Rabu Kaba, seorang janda cantik dari Kampung Waiwuang, yang akhirnya menikah dengan Teda Gaiparona dari Kampung Kodi. Upacara ini diadakan untuk melupakan kesedihan warga setelah konflik tersebut dan menjadi tradisi yang berlangsung turun-temurun hingga sekarang.

Proses Upacara Pasola

Pelaksanaan pasola dimulai dengan adat nyale, yaitu upacara syukur atas hasil panen yang ditandai munculnya cacing laut nyale di pantai. Para Rato (pemuka adat) memprediksi waktu keluarnya nyale yang menentukan sahnya upacara. Tanpa nyale, kegiatan ini tidak dapat dilaksanakan.

Dalam permainan, masing-masing kelompok terdiri dari lebih dari 100 pemuda yang bersenjatakan lembing kayu berdiameter sekitar 1,5 cm dengan ujung tumpul. Meskipun ujungnya tumpul, permainan tetap berisiko. Derap kuda, ringkikan, dan teriakan peserta menciptakan suasana menegangkan, sementara pekikan penonton perempuan menambah semangat. Darah yang tercurah dipercaya membawa kesuburan tanah dan keberhasilan panen.

Nilai Budaya

Pasola menjadi sarana penghormatan kepada leluhur sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan antara kelompok dan masyarakat umum. Tradisi ini mengekspresikan rasa syukur atas panen yang melimpah, mengajarkan keberanian, ketangkasan, dan semangat persatuan dalam komunitas.

Manfaat

Selain nilai budaya dan religius, pasola juga menjadi daya tarik wisata yang menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Kehadiran turis dalam setiap pelaksanaannya membuktikan nilai budaya ini sebagai aset pariwisata Sumba sekaligus meningkatkan pendapatan daerah.

Penutup

Pasola Sumba menunjukkan bagaimana tradisi, keberanian, dan ketangkasan berpadu menjadi pertunjukan budaya yang hidup dan relevan. Mengikuti pasola memberikan pengalaman langsung bagi masyarakat maupun wisatawan untuk merasakan ketegangan, kegembiraan, serta makna religius yang terkandung di dalamnya.

Jangan lewatkan berita menarik lainnya tentang budaya Indonesia dan upacara tradisional di Negeri Kami. Mari lestarikan tradisi serta filosofi hidup bangsa melalui pengetahuan dan pengalaman nyata.

Search

Video

Budaya Detail

Nusa Tenggara Timur

Acara Sakral

Kabupaten Sumba Barat / Kodi, Lamboya, Wonokaka, Gaura

Budaya

Budaya Lainnya