Bika Ambon – Kue tradisional Indonesia yang terkenal dengan teksturnya berserat dan kenyal. Meski namanya menyertakan kata “Ambon,” kue ini lahir dan populer di Medan, Sumatera Utara. Dengan rasa manis legit dan aroma khas pandan atau serai, Bika Ambon menjadi salah satu oleh-oleh favorit dari kota tersebut.
Selain nikmat disantap sebagai camilan, Bika Ambon juga mencerminkan kekayaan kuliner Medan. Proses pembuatannya yang memakan waktu hingga 12 jam membuat kue ini bisa bertahan hingga empat hari sebelum mulai mengeras, menghasilkan tekstur berongga yang khas.
Asal-Usul Bika Ambon
Asal-usul nama Bika Ambon memiliki beberapa versi. Beberapa pihak menyebut bahwa kue ini terinspirasi dari kue Melayu bernama Bika atau Bingka, yang kemudian dimodifikasi menggunakan bahan pengembang seperti nira atau tuak enau sehingga menghasilkan rongga khas.
Menurut Wikipedia yang merujuk pada penjelasan budayawan M. Muhar Omtatok, kue ini disebut Bika Ambon karena awalnya populer dijual di simpang Jalan Ambon, Sei Kera, Medan. Ada juga versi yang menyebut “Ambon” sebagai akronim dari “Amplas Kebon,” sebuah daerah di Medan tempat kue ini pertama kali dibuat oleh imigran pada era kolonial Belanda. Versi lain mengaitkan istilah “Ambon” dengan arti “lembut” dalam dialek Medan, meski kini jarang digunakan.
Keunikan dan Ciri Khas Bika Ambon
Menurut RRI, Bika Ambon memiliki sejumlah keunikan yang membuatnya mudah dikenali dan menjadi salah satu oleh-oleh favorit dari Medan. Ciri-ciri inilah yang menjadikan kue tersebut berbeda dari kue tradisional lainnya.
- Tekstur Berserat – Keistimewaan utamanya adalah tekstur yang berserat dan kenyal. Adonan difermentasi dengan ragi sebelum dipanggang, menciptakan rongga-rongga kecil di dalam kue.
- Aroma Khas – Aroma khas yang berasal dari daun pandan, serai, dan santan, membuat kue ini semakin menggugah selera.
- Rasa Manis dan Legit – Perpaduan gula, telur, dan santan menciptakan rasa manis legit yang pas untuk teman minum teh atau kopi. Saat ini, hadir dalam berbagai varian seperti pandan, cokelat, keju, hingga durian.
Sejarah dan Penyebaran
Menurut Wikipedia, Bika Ambon telah dikenal sejak era kolonial dan tercatat dalam berbagai arsip lama. Pada 26 Agustus 1933, koran Belanda De Locomotief memuat iklan kue ini di Semarang. Bahkan pada tahun 1896, kue ini sudah disebut dalam iklan koran yang sama di Kwitang, Batavia (sekarang Jakarta).
Di Medan, terutama di Jalan Mojopahit, Medan Petisah, terdapat lebih dari 30 toko yang menjualnya. Menjelang hari raya, tiap toko bisa menjual lebih dari 1.000 bungkus per hari. Kue ini juga dijuluki “Medan Perang” karena banyak orang keliru mengira berasal dari Ambon, padahal sejatinya lahir di Medan. Fenomena ini kini sering disebut “prank” oleh pengguna internet.
Penutup
Bika Ambon Medan lebih dari sekadar kue dan menjadi warisan kuliner dengan sejarah panjang serta identitas lokal yang unik. Menikmati kue ini berarti menyelami cerita budaya dan kreativitas masyarakat Medan. Setiap gigitannya juga mencerminkan perpaduan tradisi Melayu dan sentuhan inovasi lokal yang membuatnya istimewa.
Simak berita menarik lainnya tentang kuliner, budaya, dan kreativitas generasi muda di Negeri Kami. Temukan inspirasi baru dan kisah seru yang memperkaya wawasan serta semangat kreatifmu.


