Tradisi Tabuik Pariaman: Upacara Paling Dramatis di Indonesia yang Sering Disalahpahami Dunia!

Tradisi Tabuik Pariaman: Upacara Paling Dramatis di Indonesia yang Sering Disalahpahami Dunia!

Aprillia Pradana

Last Updated: 5 December 2025, 03:23

Bagikan:

Event Tabuik Piaman kembali Digelar, Prosesi Mulai Besok dan Acara Puncak 6 Juli 2025
Table of Contents

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya budaya, tetapi hanya sedikit tradisi yang mampu membuat bulu kuduk berdiri seperti Tabuik—sebuah peringatan akbar di Pariaman, Sumatera Barat, yang setiap tahunnya selalu dibungkus misteri, ketegangan, dan kontroversi. Tradisi yang telah berlangsung lebih dari dua abad ini tidak hanya memukau wisatawan, tetapi juga memicu rasa tak percaya: bagaimana mungkin sebuah ritual penuh emosi seperti ini masih bertahan di zaman modern?

Yang lebih mengejutkan, banyak pihak di luar daerah—bahkan luar negeri—yang sering salah memahami makna Tabuik. Mereka melihatnya sebagai ritual ekstrem, padahal di balik dentuman gandang tasa dan rebutan tabuik, ada sejarah spiritual yang sangat mendalam.

Event Tabuik Piaman kembali Digelar, Prosesi Mulai Besok dan Acara Puncak 6 Juli 2025

Jejak Sejarah yang Sering Disembunyikan: Tabuik Bukan Tradisi Asli Minangkabau?

Banyak yang tidak tahu bahwa akar tradisi Tabuik bukan berasal dari budaya Minang. Ritual ini dibawa oleh pasukan Muslim Syiah dari India pada abad ke-19. Pada masa kolonial Inggris, para tentaranya yang ditempatkan di Bengkulu memperkenalkan peringatan Asyura, yang kemudian menyebar ke Pariaman.

Namun inilah bagian yang jarang dibicarakan:

  • Meski berakar dari tradisi Syiah, masyarakat Pariaman yang mayoritas Sunni tidak pernah menolak atau menghapusnya.
  • Sebaliknya, Tabuik justru dilestarikan dan diadaptasi menjadi ritual budaya, bukan ritual mazhab.

Di sinilah letak kontroversinya. Sebagian kelompok pernah menilai Tabuik “tidak sesuai adat Minang,” namun masyarakat Pariaman menolaknya keras. Bagi mereka, Tabuik adalah identitas, bukan sekadar upacara.

 

Tabuik: Antara Kesedihan, Persaingan, dan Amarah Terpendam

Jika budaya adalah cara sebuah masyarakat mengekspresikan diri, maka Tabuik adalah puncak emosional masyarakat Pariaman.

Ritual ini penuh konflik dramatis:

  • Ada dua kubu besar: Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang.
  • Keduanya saling bersaing membangun Tabuik paling megah.
  • Ketegangan antar kedua kelompok dapat terasa jelas, meski dibalut tradisi.
  • Bahkan, dulu sempat terjadi bentrokan fisik yang membuat pemerintah harus turun tangan.

Apa yang membuat Tabuik begitu emosional?

Karena seluruh rangkaiannya menggambarkan kesedihan mendalam atas wafatnya cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali, pada peristiwa Karbala.

Prosesi dramatis seperti:

  • Mengangkat jenazah simbolis
  • Tangisan peringatan
  • Dentuman musik gandang tasa yang tak pernah berhenti
  • Rebutan tabuik hingga hampir roboh
  • Puncak pelepasan tabuik ke laut

semuanya menciptakan atmosfer yang membuat siapa pun yang menyaksikan tergetar, entah karena kagum, takut, atau sedih.

 

Mengapa Tabuik Dipenuhi Misteri dan Ketegangan?

Tabuik dikenal penuh aura magis. Banyak warga percaya:

  • Tabuik tidak boleh jatuh sebelum waktunya.
  • Ada “penjaga tak terlihat” yang mengawal prosesi.
  • Kesalahan kecil bisa dianggap pertanda buruk.
  • Puncak tradisi menjadi ajang “pertarungan emosional” dua kubu.

Namun yang lebih menarik adalah kepercayaan bahwa saat tabuik dilemparkan ke laut, seluruh “kesedihan” masyarakat ikut dilepaskan.

Inilah yang membuat banyak wisatawan merasa Tabuik seperti ritual pembersihan jiwa—tetapi dalam versi paling dramatis yang bisa dibayangkan.

 

Salah Kaprah yang Terus Dipercayai Orang Luar

Hingga kini, banyak yang salah memahami ritual Tabuik:

  • Ada yang mengira ini ritual pemanggilan arwah.
  • Ada yang menilai perayaan ini ekstrem dan tidak Islami.
  • Ada pula yang menganggap tabuik semacam boneka raksasa mistis.

Padahal, masyarakat Pariaman selalu menekankan:

“Tabuik bukan ritual agama. Ini budaya, sejarah, dan bentuk penghormatan.”

Sayangnya, narasi salah inilah yang justru sering viral, membuat Tabuik menjadi topik kontroversial setiap tahun.

 

Tabuik sebagai Identitas Pariaman yang Tak Bisa Digantikan

Terlepas dari kontroversi, Tabuik telah menjadi simbol kuat Pariaman:

  • Menggerakkan ekonomi dan pariwisata
  • Menyatukan masyarakat lintas generasi
  • Menjadi warisan yang diwariskan turun-temurun
  • Menyampaikan pesan universal tentang kesedihan dan perjuangan
  • Menjadi kebanggaan budaya Sumatera Barat

Bagi masyarakat Pariaman, Tabuik bukan sekadar tontonan. Ini adalah warisan jiwa, bagian dari siapa mereka.

 

Mengapa Tabuik Perlu Dilestarikan?

Tabuik mengajarkan hal penting:

  • Bahwa budaya bisa tumbuh dari pertemuan sejarah yang kompleks.
  • Bahwa masyarakat mampu menyulap kesedihan menjadi identitas yang membanggakan.
  • Bahwa tradisi tidak harus sempurna; yang penting adalah makna yang dijaga.

Di tengah dunia yang semakin cepat berubah, Tabuik adalah pengingat bahwa emosi, identitas, dan sejarah tetap penting untuk dijaga.

 

Misteri, Emosi, dan Identitas yang Membentuk Pariaman

Tradisi Tabuik mungkin penuh konflik, emosional, dan sering disalahpahami. Namun justru di situlah letak keindahannya.

Ia adalah bukti bahwa budaya Indonesia tidak hanya indah secara visual, tetapi dalam, rumit, dan hidup dalam hati masyarakatnya.

Dan setiap tahun, ketika Tabuik akhirnya dilemparkan ke laut, seluruh mata yang menyaksikan akan merasakan hal yang sama:

“Ada sesuatu yang hilang… tetapi juga sesuatu yang kembali pulang.”

 

Tags:

/ Search /

/ Artikel Lainnya /