Pernahkah kita bertanya, mengapa dalam budaya Sunda, tanah tidak pernah diperlakukan sebagai benda mati? Mengapa sebelum menanam, membangun, bahkan membuka lahan, selalu ada ritual meminta izin?
Bagi sebagian orang modern, kebiasaan ini terdengar “aneh”, bahkan dianggap mistis. Namun bagi masyarakat Sunda, inilah etika hidup. Tradisi itu dikenal dengan Ngaruwat Bumi adalah sebuah ritual penghormatan kepada alam yang diwariskan lintas generasi.
Ironisnya, di tengah krisis lingkungan dan bencana ekologis, tradisi sebijak ini justru jarang dibahas di sekolah atau ruang publik.
Apa Itu Tradisi Ngaruwat Bumi?
Ngaruwat Bumi adalah ritual adat masyarakat Sunda yang bertujuan membersihkan, mensucikan, dan memohon keselamatan kepada bumi tempat manusia berpijak. Kata ruwat berarti membersihkan atau melepaskan dari kesialan.
Namun penting dipahami, Ngaruwat Bumi bukan menyembah tanah. Ia adalah bentuk kesadaran bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam, bukan menguasainya.
Dalam praktiknya, ritual ini biasanya dilakukan saat:
- Membuka lahan baru
- Menjelang musim tanam
- Setelah panen
- Atau ketika terjadi musibah alam
Mengapa Harus “Minta Izin” ke Tanah?
Dalam pandangan Sunda, tanah bukan sekadar properti. Tanah adalah sumber kehidupan. Dari sanalah makanan tumbuh, air mengalir, dan manusia bertahan hidup.
“Minta izin” di sini bukan soal ritual semata, tetapi sikap batin. Pesan yang ingin disampaikan sederhana namun dalam:
jangan serakah, jangan merusak, dan jangan lupa bersyukur.
Di budaya Sunda, manusia tidak berada di atas alam, melainkan menjadi bagian darinya.
Sesaji dan Simbol: Bukan Mistis, Tapi Etis
Salah satu bagian Ngaruwat Bumi yang sering disalahpahami adalah sesaji. Banyak dari kita tumbuh dengan anggapan bahwa sesaji identik dengan hal mistis.
Padahal maknanya sangat manusiawi:
- Hasil bumi: simbol rasa terima kasih
- Nasi tumpeng atau pangan lokal: lambang kehidupan
- Doa bersama: pengakuan keterbatasan manusia
Semua itu adalah bahasa simbol untuk mengingatkan bahwa apa yang kita ambil dari alam harus dibalas dengan tanggung jawab.
Setiap Daerah, Setiap Cerita
Ngaruwat Bumi tidak seragam. Di Jawa Barat, tiap daerah memiliki ciri khas:
- Di pedesaan agraris, ritual dilakukan di sawah
- Di wilayah adat, digelar bersama kesenian tradisional
- Di komunitas pesisir, menyatu dengan doa laut
Namun benang merahnya sama: hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Ritual ini juga menjadi ruang kebersamaan. Warga berkumpul, makan bersama, berdiskusi, dan menguatkan ikatan sosial. Nilai yang semakin langka di kehidupan modern.
Mengapa Tradisi Ini Kembali Viral?
Beberapa tahun terakhir, Ngaruwat Bumi kembali muncul di media sosial. Banyak anak muda merekamnya karena dianggap aesthetic, tenang, dan “berbeda”.
Namun di balik visual itu, ada kerinduan yang lebih dalam. Banyak dari kita lelah dengan kehidupan serba cepat, eksploitatif, dan terputus dari alam.
Tanpa disadari, tradisi ini menawarkan jawaban: hidup selaras, bukan menguasai.
Filosofi Ngaruwat Bumi yang Relevan Hari Ini
Jika dipahami lebih dalam, Ngaruwat Bumi mengajarkan nilai yang sangat relevan:
- Alam bukan objek, tapi subjek
- Pembangunan harus disertai kesadaran
- Manusia tidak hidup sendirian
- Kerusakan alam selalu berdampak sosial
Nilai-nilai ini justru jarang kita temukan dalam pendidikan formal, padahal sangat penting di tengah krisis iklim global.
Mengapa Jarang Diajarkan?
Ada beberapa alasan mengapa tradisi ini terpinggirkan:
- Kurikulum lebih fokus pada teori modern
- Tradisi dianggap tidak praktis
- Kurangnya dokumentasi budaya lokal
Akibatnya, banyak generasi muda mengenal etika lingkungan dari buku luar negeri, tetapi tidak dari kearifan leluhurnya sendiri.
Penutup
Ngaruwat Bumi bukan tradisi kuno yang tertinggal zaman. Justru sebaliknya, ia sangat visioner. Di saat dunia sibuk mencari solusi keberlanjutan, masyarakat Sunda sejak lama mengajarkan satu hal sederhana:
sebelum mengambil, mintalah izin. Mungkin inilah saatnya kita berhenti menertawakan tradisi, dan mulai mendengarkannya.