Kenapa waktu sekolah, kita jarang diajak benar-benar mengenal tradisi Jawa?”. Padahal, tradisi itu bukan sekadar ritual. Ia membentuk cara kita menghormati orang lain, cara kita hidup berdampingan, bahkan cara kita memandang dunia.
Ironisnya, banyak dari kita justru baru mengenal tradisi Jawa Tengah lewat TikTok, konten viral, atau obrolan santai di grup keluarga. Lebih lucu lagi, sebagian generasi sekarang lebih hafal zodiak daripada makna tedhak siten.
Fenomena ini makin sering dibicarakan. Banyak tradisi lokal viral karena dianggap “mistis”, “jadul”, atau “nggak relate”. Padahal kalau dibedah, isinya filosofis, relevan, dan kadang juga jenaka.
Berikut ini lima tradisi Jawa Tengah yang seharusnya dikenalkan sejak kecil. Bukan untuk nostalgia semata, tapi agar kita paham akar identitas kita sendiri.
1. Ruwatan: Tradisi yang Sering Disalahpahami
Ruwatan sering dianggap menakutkan atau penuh unsur mistis. Padahal, makna dasarnya sangat manusiawi: membersihkan diri dari beban dan harapan buruk.
Banyak orang Jawa sendiri merasa canggung membicarakan ruwatan karena takut dilabeli macam-macam. Padahal istilah itu lahir dari konteks budaya, bukan stigma.
Menariknya, belakangan ruwatan justru viral di media sosial karena visualnya yang estetik. Banyak anak muda datang, awalnya hanya untuk melihat atau berfoto.
Namun dari situ, pelan-pelan muncul rasa ingin tahu.
Ruwatan adalah contoh tradisi yang kaya simbol dan refleksi hidup. Tradisi seperti ini layak dikenalkan di sekolah, bukan untuk ditakuti, tapi dipahami.
2. Wiwitan: Tradisi Panen yang Mengajarkan Kebersamaan
Wiwitan adalah tradisi menyambut panen. Kedengarannya formal, tapi faktanya hampir semua orang menanti satu hal: makan bersama.
Bahkan ada candaan:
“Wiwitan itu 10% ritual, 90% mangan bareng.”
Di balik kelucuannya, ada pesan penting.
Wiwitan mengajarkan bahwa hasil kerja keras sebaiknya dirayakan bersama, bukan dinikmati sendiri.
Di era yang serba individual, nilai ini justru terasa relevan. Tak heran jika wiwitan kini sering muncul sebagai konten “healing desa” yang membuat banyak orang kota merasa dekat kembali dengan akar kehidupan.
3. Kirab Budaya: Serius, Sakral, tapi Tetap Manusiawi
Kirab budaya sering terlihat megah. Namun, di setiap kirab, selalu ada momen yang bikin tersenyum.
Ada peserta berkostum raja, tapi masih pakai sandal jepit.
Ada yang membawa tombak, sambil jajan di pinggir jalan.
Alih-alih mengurangi makna, momen-momen ini justru menunjukkan bahwa budaya itu hidup dan manusiawi.
Kirab budaya mengajarkan tentang kebersamaan, identitas, dan rasa memiliki terhadap daerah. Nilai-nilai ini bisa diterapkan dalam kehidupan modern, jika dijelaskan dengan cara yang dekat dan inklusif.
4. Tedhak Siten: Langkah Pertama, Harapan Seumur Hidup
Tedhak siten adalah tradisi ketika bayi pertama kali menginjak tanah. Dulu sederhana. Kini sering dikemas lebih meriah, lengkap dengan dokumentasi dari berbagai sudut.
Terlepas dari perubahan zaman, maknanya tetap sama: doa agar langkah hidup anak ringan dan penuh kebaikan.
Sayangnya, makna ini jarang dibahas di ruang kelas. Padahal, tedhak siten mengajarkan nilai syukur, harapan, dan perhatian terhadap masa depan.
5. Wayang Kulit: Cerita Lama, Pesan yang Selalu Baru
Wayang kulit sering dicap kuno. Banyak dari kita lebih akrab dengan tokoh film modern dibanding Pandawa.
Padahal, wayang menyimpan pelajaran hidup yang relevan:
-
Arjuna tentang ketenangan
-
Bima tentang kejujuran dan keteguhan
-
Punakawan tentang humor sebagai kritik sosial
-
Semar tentang kebijaksanaan yang membumi
Sayangnya, wayang sering hanya dijadikan hiburan atau bahan lelucon, tanpa ruang untuk memahami maknanya.
Mengapa Tradisi Ini Jarang Diajarkan?
Ada beberapa alasan yang sering muncul:
-
Kurikulum lebih fokus pada teori modern
-
Keterbatasan waktu belajar
-
Anggapan tradisi lokal kurang relevan
-
Minimnya literasi budaya leluhur
Padahal, tradisi bukan sekadar upacara. Ia adalah pengetahuan hidup yang tumbuh dari pengalaman banyak generasi.
Penutup
Di tengah derasnya budaya global di internet, kita mudah lupa bahwa tradisi kita sendiri menyimpan nilai yang tak kalah kuat dan relevan.
Jika tidak dikenalkan sejak dini, tradisi hanya akan menjadi konten viral sesaat. Bukan warisan yang dipahami dan dihayati.
Mengenal tradisi bukan berarti mundur ke masa lalu. Justru, itu cara kita melangkah ke depan dengan identitas yang utuh.