Ada sesuatu tentang Jawa Tengah yang selalu membuat orang penasaran. Ada sisi yang terang, penuh dengan keramahan, tari-tarian, dan makanan hangat yang mengingatkan rumah. Namun, ada juga sisi lain yang jarang diungkap:
tradisi-tradisi tua yang dianggap terlalu mistis, terlalu sakral, atau terlalu “berbahaya” untuk dibicarakan di ruang publik.
Dan lucunya, setiap kali orang tua bilang, “Wis, ora usah takon soal kuwi…”, justru rasa ingin tahu kita semakin membesar.
Artikel ini mencoba membuka tabir itu secara pelan. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk memahami, bahwa budaya tidak pernah sederhana. Ia penuh simbol, rasa hormat, dan cerita yang hidup jauh sebelum generasi kita lahir.
Inilah tradisi mistis Jawa Tengah yang selama ini hanya diceritakan setengah suara di ruang tamu rumah desa.
1. Ruwatan Sukerta – Ritual yang Konon Menentukan Nasib Seseorang
Di banyak desa, ruwatan adalah salah satu ritual paling sakral. Tidak semua anak dianggap “biasa”—beberapa dipercaya lahir dengan kesukertaan, yaitu garis nasib tertentu yang harus “dibersihkan”.
Ritual ini biasanya dipimpin dalang yang sudah sepuh—orang yang dianggap mengerti batas antara dunia yang terlihat dan yang tidak terlihat.
Gamelan khusus ditabuh, doa dibacakan, dan kisah Murwakala dimainkan sebagai simbol “penolakan bala”.
Yang membuat ruwatan begitu kontroversial adalah keyakinan besar di baliknya:
bila ritual ini tidak dilakukan, hidup seseorang bisa dipenuhi kesialan.
Bagi sebagian anak muda, ini terdengar menakutkan.
Tapi bagi orang tua Jawa, ruwatan adalah bentuk proteksi, doa, dan cinta paling tulus.
2. Jamas Pusaka – Saat Keris Diperlakukan Seperti Sahabat Berjiwa
Setiap malam 1 Suro, suasana di beberapa daerah menjadi berubah. Orang-orang memandikan keris, tombak, dan pusaka tua mereka. Air campuran bunga, minyak wangi, dan doa dipersiapkan dengan hati-hati.
Yang membuat tradisi ini mencengangkan adalah cara pusaka diperlakukan:
dengan lembut, halus, bahkan seolah sedang menenangkan makhluk hidup.
Banyak keluarga percaya bahwa setiap keris memiliki “isi” bukan berarti makhluk gaib seperti cerita horor, tetapi energi sejarah dan warisan yang harus dihormati.
Sementara itu, orang luar sering salah paham dan menyebutnya “mistis gelap”.
Padahal bagi pemiliknya, jamasan adalah bentuk merawat sejarah, bukan memuja benda.
3. Sedekah Laut Jepara – Ritual yang Membuat Banyak Orang Menangis Diam-Diam
Di Jepara, ada satu momen ketika ribuan warga berkumpul di tepi pantai, membawa tumpeng dan sesaji sebelum melarungkannya ke laut.
Banyak orang kota melihatnya sebagai ritual mistis.
Padahal jika hadir langsung, suasananya jauh lebih manusiawi daripada itu.
Nelayan-nelayan tua bercerita:
“Laut iku ora mung sumber pangan. Laut iku sedulur.”
Sedekah laut adalah cara warga pesisir menunjukkan rasa terima kasih sekaligus ketakutannya, takut kehilangan laut, takut badai, takut tidak pulang.
Kontroversi terbesar datang dari aktivis lingkungan yang menilai bahwa sesaji berpotensi mencemari laut. Namun bagi warga, ritual ini adalah identitas yang tidak bisa sekadar dihapus.
4. Mitoni – Mistis atau Perayaan Cinta?
Mitoni, atau tujuh bulanan, adalah salah satu tradisi Jawa yang paling lembut. Namun tidak sedikit anak muda yang menganggapnya penuh unsur mistis.
a. Ada air kembang setaman.
b. Ada siraman dari orang tua.
c. Ada doa-doa yang dibacakan dengan suara pelan.
Bagian yang sering membuat orang luar heran adalah ritual “brojolan”—melepas telur dari balik kain jarik sebagai simbol kelancaran persalinan.
Maknanya bukan magis gelap.
Maknanya dalam: doa agar seorang ibu memasuki dunia baru dengan selamat dan tenang.
5. Larung Sesaji Gunung Merapi – Ritual untuk Berdamai dengan Ketakutan
Merapi bukan sekadar gunung.
Ia adalah tetangga, penjaga, sekaligus ancaman.
Larung sesaji dilakukan sebagai simbol rasa hormat. Hasil bumi dibawa ke titik tertentu, lalu dilepaskan sebagai doa agar warga diberi keselamatan.
Bagi orang luar, ini tampak seperti ritual mistis ekstrem. Tapi jika kamu mengikuti perjalanan warga mendaki sambil membawa tumpeng, kamu akan merasakan sesuatu: mereka tidak sedang memuja gunung, mereka sedang berdamai dengan rasa takut.
Penutup
Mistis atau Tidak, Semua Tradisi Ini Adalah Cermin Hati Orang Jawa
Banyak orang melihat tradisi Jawa Tengah sebagai sesuatu yang “angker”, “gelap”, atau “terlalu mistis”.
Tetapi ketika dipahami dengan lembut, semua itu hanyalah cara manusia Jawa menjaga hubungan mereka dengan alam, leluhur, dan diri sendiri.
Tidak semua tradisi harus dipercaya.
Tidak semua ritual harus dilakukan.
Tapi semuanya layak didengar, karena budaya bukan hanya cerita, budaya adalah cermin siapa kita sebenarnya.