Tradisi Dugderan Semarang bukan cuma acara budaya biasa. Buat Gen Z, ini bukan sekadar festival penuh warna, tapi juga simbol semangat kebersamaan dan identitas lokal yang tetap relevan di era modern. Setiap tahun menjelang Ramadan, Kota Semarang berubah menjadi pusat perayaan budaya yang meriah, lengkap dengan ikon legendaris: Warak Ngendhog.
Apa Itu Tradisi Dugderan Semarang?
Tradisi Dugderan Semarang adalah upacara budaya yang dilakukan menjelang bulan Ramadan. Perayaan ini biasanya dipusatkan di kawasan Masjid Kauman dan Balai Kota Semarang. Nama “Dugderan” berasal dari dua suara khas:
-
“Dug” → suara bedug
-
“Der” → suara meriam atau petasan zaman dulu
Kombinasi “dug–der” ini melambangkan pengumuman resmi bahwa Ramadan akan segera dimulai.
Asal Usul Tradisi Dugderan
Tradisi ini sudah ada sejak masa Bupati Semarang Raden Tumenggung Purbaningrat pada tahun 1881. Pada masa itu, pemerintah perlu memberi pengumuman resmi kepada masyarakat tentang waktu dimulainya puasa. Karena belum ada teknologi penyebaran informasi seperti sekarang, pengumuman dilakukan lewat suara bedug dan meriam.
Seiring waktu, ritual itu berkembang menjadi festival rakyat yang meriah dan menjadi identitas budaya Semarang hingga sekarang.
Makna Filosofis untuk Gen Z
Meskipun merupakan tradisi lama, nilai-nilainya tetap relevan:
1. Menguatkan Kebersamaan
Saat Dugderan, masyarakat tanpa memandang latar belakang berkumpul bersama. Ini cocok buat Gen Z yang suka kolaborasi dan komunitas.
2. Merayakan Identitas Lokal
Gen Z hidup di era globalisasi yang sangat cepat. Tradisi lokal seperti Dugderan membantu menjaga rasa bangga terhadap budaya sendiri.
3. Menjadi Ruang Kreativitas
Dugderan selalu penuh produk UMKM, seni jalanan, dan performa kreatif. Tempat ideal bagi Gen Z yang suka eksplorasi seni dan budaya.
Ikon Utama: Warak Ngendhog
Tak lengkap membahas Dugderan tanpa menyebut Warak Ngendhog, figur mitos yang selalu hadir dalam pawai.
Filosofi Warak Ngendhog
-
Kepala naga → pengaruh budaya Tionghoa
-
Badan kambing → budaya Arab
-
Kaki buraq → budaya Jawa & Islam
Warak Ngendhog menyimbolkan keragaman Semarang yang hidup harmonis. Buat Gen Z, ini jadi pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan hambatan.

Rangkaian Acara Dugderan
1. Pawai Warak Ngendhog
Pawai meriah keliling kota, biasanya diikuti komunitas seni, pelajar, dan masyarakat umum.
2. Pasar Dugderan
Mirip festival pop-up market zaman sekarang, tapi versi budaya. Banyak jajanan lokal, permainan tradisional, hingga kerajinan khas Semarang.
3. Pengumuman Resmi Awal Ramadan
Upacara simbolik memukul bedug dan melepas meriam sebagai tanda bahwa Ramadan akan segera dimulai.
Mengapa Gen Z Harus Peduli dengan Dugderan?
Buat kamu yang suka konten budaya di TikTok atau Instagram, Dugderan adalah content goldmine. Selain itu:
-
Menambah wawasan soal budaya lokal
-
Bisa jadi topik konten edukatif atau travel vlog
-
Menjadi pengingat pentingnya menjaga tradisi di era digital
-
Memberikan experience autentik yang jarang ditemukan di kota lain
Tips Mengunjungi Dugderan untuk Gen Z
-
Datang lebih awal untuk menghindari keramaian
-
Siapkan kamera karena banyak spot menarik
-
Coba makanan lokal seperti lunpia atau ganjel rel
-
Ikuti pawai, tapi tetap jaga aturan dan kebersihan
-
Pakai outfit nyaman (cuaca Semarang biasanya panas)
Kesimpulan
Tradisi Dugderan Semarang bukan hanya sejarah masa lalu, tapi budaya yang terus hidup dan relevan buat generasi muda. Di tengah perkembangan digital yang pesat, tradisi ini mengingatkan kita pada pentingnya identitas, kebersamaan, dan kreativitas.
Kalau kamu Gen Z yang ingin lebih dekat dengan budaya lokal, Dugderan adalah pengalaman yang wajib kamu coba!