Ketika kita membicarakan tradisi pesisir, bayangan tentang laut, perahu, dan hasil tangkapan sering muncul lebih dulu. Namun di sepanjang Pantura Jawa Barat, laut tidak hanya dipandang sebagai ruang ekonomi, melainkan juga ruang spiritual yang dijaga dengan rasa hormat.
Sedekah Laut adalah salah satu bentuk penghormatan itu. Ironisnya, di tengah derasnya arus informasi, tradisi ini kerap dipersempit maknanya. Ia dianggap mistis, kuno, bahkan bertentangan dengan logika modern. Padahal, bagi masyarakat pesisir, Sedekah Laut adalah cara sederhana untuk bersyukur dan menjaga keseimbangan hidup.
Di sinilah Sedekah Laut menjadi relevan untuk dibicarakan ulang, bukan sebagai tontonan, melainkan sebagai laku budaya.
Tradisi pesisir yang lahir dari hidup bersama laut
Sedekah Laut merupakan tradisi adat masyarakat pesisir Pantura Jawa Barat, seperti di Cirebon, Indramayu, Subang, dan sekitarnya. Tradisi ini biasanya dilakukan pada waktu tertentu dalam setahun, menyesuaikan kalender lokal dan kesepakatan masyarakat nelayan.
Dalam praktiknya, Sedekah Laut menjadi penanda relasi manusia dengan alam. Laut dipahami sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi tanpa batas. Karena itu, tradisi ini penting bukan hanya bagi nelayan, tetapi juga bagi identitas budaya masyarakat pesisir secara keseluruhan.
Hingga hari ini, Sedekah Laut tetap hidup, meski terus menghadapi tafsir yang berubah.
Jejak sejarah dari kepercayaan dan dakwah pesisir
Sedekah Laut tumbuh dari percampuran kepercayaan lokal dan nilai-nilai Islam yang berkembang di wilayah pesisir Jawa Barat. Sejak masa kerajaan dan awal penyebaran Islam, tradisi ini mengalami penyesuaian tanpa menghilangkan esensinya.
Para ulama dan tokoh masyarakat tidak serta-merta menghapus tradisi, melainkan mengisinya dengan doa dan nilai syukur kepada Tuhan. Dari sinilah Sedekah Laut bertahan sebagai praktik budaya yang lentur, diwariskan melalui keluarga nelayan dan komunitas desa.
Ia tidak tercatat rapi dalam buku sejarah, tetapi hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Pantura.
Bukan sesaji, melainkan bahasa simbol
Banyak salah kaprah bermula dari simbol. Dalam Sedekah Laut, simbol kerap disalahartikan sebagai praktik mistik. Padahal, unsur-unsur dalam tradisi ini sarat makna:
- Hasil bumi dan laut sebagai simbol rasa syukur
- Doa bersama sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhan
- Prosesi laut sebagai pengingat batas manusia terhadap alam
- Kebersamaan warga sebagai penguat solidaritas sosial
Tidak ada pemujaan laut. Yang ada adalah kesadaran bahwa manusia hidup dari alam dan memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Sedekah Laut berbicara dengan bahasa simbol, bukan dengan mantra.
Ruang kebersamaan dan identitas nelayan
Sedekah Laut juga berfungsi sebagai ruang sosial. Ia mempertemukan nelayan, keluarga, tokoh agama, dan generasi muda dalam satu peristiwa bersama. Tradisi ini menjadi momen jeda dari rutinitas melaut yang keras dan penuh risiko.
Di sanalah nilai kebersamaan tumbuh. Anak-anak belajar tentang asal-usul kampungnya, orang tua mewariskan cerita, dan komunitas memperkuat identitasnya sebagai masyarakat pesisir.
Sedekah Laut bukan sekadar acara tahunan, melainkan penanda siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Antara pelestarian dan salah kaprah zaman digital
Di era media sosial, Sedekah Laut sering direkam tanpa konteks. Potongan video prosesi laut kerap diberi narasi sensasional, memancing kesalahpahaman. Sebagian generasi muda mengenalnya sebagai konten viral, bukan sebagai tradisi bermakna.
Di sisi lain, pariwisata juga membawa dilema. Sedekah Laut mulai dilihat sebagai atraksi, berisiko kehilangan nilai reflektifnya. Namun ada pula komunitas yang berusaha menjaga keseimbangan, membuka tradisi untuk publik tanpa menghilangkan ruhnya.
Perdebatan ini wajar, dan justru menunjukkan bahwa Sedekah Laut masih hidup.
Menjaga tradisi di tengah perubahan
Tantangan terbesar Sedekah Laut hari ini adalah regenerasi. Urbanisasi, perubahan pola kerja, dan pendidikan yang minim muatan budaya lokal membuat jarak antargenerasi semakin lebar.
Namun peluang tetap ada. Dokumentasi yang beretika, pendidikan budaya pesisir, serta keterlibatan generasi muda dalam pemaknaan ulang tradisi dapat menjadi jalan tengah. Pelestarian tidak selalu berarti membekukan, tetapi memahami dan menyesuaikan tanpa kehilangan nilai.
Sedekah Laut membutuhkan ruang dialog, bukan penghakiman.
Penutup
Sedekah Laut di Pantura Jawa Barat mengajarkan bahwa budaya lahir dari pengalaman hidup yang panjang. Ia bukan ritual kosong, melainkan cara masyarakat pesisir membaca alam dan menempatkan diri di dalamnya.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan sering kali memutus hubungan manusia dengan alam, tradisi ini memberi kita kesempatan untuk berhenti sejenak, bersyukur, dan mengingat kembali batas-batas kita.
Mungkin banyak dari kita mengenalnya lewat cerita yang keliru. Namun memahami Sedekah Laut berarti memberi kesempatan pada tradisi untuk berbicara dengan caranya sendiri, jujur, sederhana, dan manusiawi.