Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa Seren Taun, sebuah ritual pangan masyarakat Sunda, nyaris tak pernah dibahas di buku pelajaran sejarah?
Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, Seren Taun adalah salah satu tradisi paling lengkap dalam mengajarkan hubungan manusia dengan pangan, alam, dan rasa syukur.
Ironisnya, banyak anak muda Jawa Barat justru mengenal Seren Taun lewat unggahan media sosial atau liputan wisata budaya, bukan dari sekolah. Ia dikenal sebagai “festival adat”, difoto karena estetikanya, lalu dilupakan maknanya.
Padahal, Seren Taun bukan sekadar perayaan panen. Ia adalah sistem nilai hidup.
Apa Itu Seren Taun?
Seren Taun berasal dari bahasa Sunda: seren berarti menyerahkan, dan taun berarti tahun. Secara sederhana, Seren Taun adalah ritual penyerahan hasil panen sebagai bentuk syukur atas satu tahun kehidupan.
Tradisi ini masih dijaga di beberapa wilayah Jawa Barat, seperti Kuningan, Sumedang, dan komunitas adat Sunda lainnya. Namun, eksistensinya lebih sering dianggap sebagai agenda budaya tahunan, bukan sebagai bagian penting dari sejarah bangsa. Di sinilah persoalan bermula.
Seren Taun tidak berdiri sendiri. Ia mencakup seluruh siklus kehidupan pangan:
dari menanam padi, merawat sawah, memanen, menyimpan hasil panen, hingga membagikannya untuk kepentingan bersama.
Dalam prosesi Seren Taun, padi tidak diperlakukan sebagai komoditas semata. Ia dihormati sebagai sumber kehidupan. Ada doa, ada arak-arakan, ada penyimpanan padi di leuit (lumbung), dan ada makan bersama sebagai simbol kebersamaan.
Jika diringkas, Seren Taun mengajarkan bahwa pangan bukan sekadar urusan perut, tetapi juga etika, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial.
Pertanyaannya: mengapa nilai sepenting ini jarang masuk kurikulum?
Bukan Mistis, Tapi Filosofis
Sebagian orang masih memandang Seren Taun sebagai ritual mistis. Padahal, jika dilihat lebih jujur, nilai-nilainya sangat rasional dan relevan.
Seren Taun mengajarkan:
- pentingnya menyimpan pangan untuk masa depan,
- menghormati alam sebelum mengeksploitasi,
- membagi hasil, bukan menghabiskan sendiri,
- serta mensyukuri proses, bukan hanya hasil.
Di tengah krisis pangan global dan gaya hidup konsumtif hari ini, nilai-nilai tersebut justru terasa sangat modern.
Ironisnya, kita lebih sering mengimpor konsep “sustainability” dari luar negeri, sementara kearifan lokal seperti Seren Taun kita biarkan terlupakan.
Mengapa Anak Muda Mulai Asing?
Bukan karena anak muda tidak peduli budaya.
Justru sebaliknya: banyak dari mereka rindu makna hidup yang lebih pelan dan berakar.
Masalahnya, Seren Taun jarang dikenalkan secara kontekstual. Ia hadir sebagai tontonan, bukan sebagai pelajaran hidup. Akhirnya, anak muda mengenalnya sebagai festival tahunan, bukan sebagai filosofi pangan.
Padahal, jika diajarkan dengan cara yang relevan, Seren Taun bisa menjadi pintu masuk untuk memahami identitas agraris Jawa Barat.
Seren Taun dan Identitas Sunda
Dalam budaya Sunda, harmoni lebih penting daripada dominasi. Seren Taun mencerminkan hal itu. Tidak ada individu yang paling menonjol. Semua terlibat. Semua setara.
Makan bersama, menyimpan padi bersama, berdoa bersama—semuanya menekankan kebersamaan, bukan kompetisi.
Nilai-nilai ini perlahan memudar di tengah budaya modern yang serba cepat dan individualistis. Dan mungkin, inilah alasan tak tertulis mengapa Seren Taun terasa “kurang cocok” dengan narasi sejarah modern.
Penutup
Seren Taun bukan sekadar tradisi tua. Ia adalah cermin cara hidup.
Ketika Seren Taun tidak diajarkan, kita kehilangan pelajaran tentang menghargai pangan, alam, dan proses kehidupan. Kita lupa bahwa nasi di piring adalah hasil dari kerja panjang, bukan sekadar produk pasar.
Mungkin sudah saatnya Seren Taun tidak hanya dipentaskan, tetapi juga dipahami.
Bukan hanya dirayakan, tetapi diajarkan.
Karena sejarah bukan hanya tentang siapa yang berkuasa,
tetapi juga tentang bagaimana manusia bertahan hidup.