Pernahkah kalian bertanya-tanya mengapa tradisi Wiwit, sebuah ritual syukur petani Jawa, jarang muncul di buku pelajaran?
Padahal, Wiwit adalah salah satu tradisi tertua dan paling filosofis dalam budaya Jawa. Ironisnya, banyak anak muda baru mengenal istilah “Wiwit” setelah viral di TikTok, bukan dari guru, sekolah, atau bahkan keluarga sendiri.
Dalam ceruk budaya Jawa, Wiwit bukan hanya upacara, tetapi momen sakral yang menghubungkan manusia, tanah, dan Sang Pencipta. Namun, banyak anak muda kini justru menyamakannya dengan “pesta makan-makan”, padahal maknanya jauh lebih dalam daripada itu.
Dan di balik tradisi ini, ada misteri dan cerita-cerita yang jarang dibicarakan secara publik.
1. Asal Usul Wiwit: Ritual yang Lebih Tua dari Banyak Kerajaan
Wiwit atau wiwitan adalah ritual yang dilakukan menjelang panen. Secara harfiah, “wiwit” berarti “memulai”. Artinya, sebelum padi dipanen, petani harus memulai dengan rasa syukur.
Yang jarang diketahui adalah: tradisi ini dipercaya sudah ada sejak era masyarakat agraris kuno, bahkan sebelum kerajaan-kerajaan besar di Jawa berdiri.
Jadi, bayangkan, ribuan tahun sebelum smartphone, kamera 4K, atau content creation booming, nenek moyang kita sudah melakukan upacara terstruktur untuk menghormati sumber kehidupan. Ritual ini seharusnya menjadi bagian dari identitas bangsa, tapi sayangnya justru tak muncul dalam pendidikan formal.
2. Misteri Sesaji: Banyak Anak Muda Salah Paham
Tak sedikit dari kalian yang tumbuh dengan pemahaman terbatas tentang sesaji. Akibatnya, sesaji sering dianggap mistis atau menakutkan, padahal maknanya jauh lebih sederhana dan manusiawi.
Padahal sebenarnya:
- Sesaji adalah simbol syukur, bukan penyembahan.
- Tumpeng bermakna syukur kepada Tuhan.
- Hasil bumi adalah lambang kerja keras.
- Bunga dan daun adalah simbol harapan baik.
Yang mengejutkan, beberapa peneliti budaya menyebut bahwa struktur sesaji pada Wiwit menggambarkan filosofi hidup Jawa: kesederhanaan, harmoni, dan keseimbangan.
Tetapi sayangnya, generasi sekarang lebih hafal drama Korea daripada filosofi leluhurnya sendiri.
3. Yang Belum Banyak Orang Tahu: Wiwit Itu Bisa Berbeda di Tiap Desa
Yang membuat Wiwit unik adalah setiap desa punya versinya sendiri. Ada desa yang melakukan Wiwit dengan doa bersama, ada yang sambil kirab kecil, bahkan ada yang lengkap dengan kesenian tradisional seperti gejog lesung.
Dalam beberapa kasus, Wiwit bisa berlangsung semalaman, bukan karena ritualnya panjang, tetapi karena warga… tidak ingin berhenti makan dan ngobrol.
Ritual sakral ini pada akhirnya juga menjadi ajang reuni. Orang perantauan pun rela pulang demi Wiwitan. Namun inilah sisi yang jarang dibahas: Wiwit bukan sekadar syukur, ia juga tradisi yang menyatukan manusia.
4. Kenapa Wiwit Mulai Viral? Karena Anak Muda Cari “Aesthetic Desa”
Fenomena ini benar-benar terjadi. Banyak anak muda kota datang ke desa untuk… bernostalgia pada hal yang tidak pernah mereka alami.
Konten bertema “healing di desa”, “hidup pelan-pelan”, dan “kembali ke akar budaya” sekarang viral di TikTok dan Instagram. Tradisi Wiwit ikut terangkat karena dianggap aesthetic, natural, dan menenangkan.
Tetapi di balik aesthetic-nya, ada fenomena menyentuh: anak muda sebenarnya rindu akar budaya, mereka hanya tidak tahu di mana menemukannya.
5. Filosofi Wiwit yang Seharusnya Diajarkan di Sekolah
Jika Wiwit benar-benar dipelajari dengan serius, banyak hal penting yang bisa diambil:
- Syukur harus didahulukan sebelum kesuksesan
Petani tidak pernah memanen tanpa bersyukur. Kita? Baru mulai bersyukur setelah punya hasil.
- Makan bersama adalah simbol kesetaraan
Dalam Wiwit tidak ada yang “lebih tinggi”. Semua duduk sama rendah.
- Kerja keras tidak bisa dipisahkan dari doa
Padi tidak tumbuh karena kerja manusia saja. Ada campur tangan Tuhan, hujan, dan alam.
- Manusia, alam, dan spiritualitas harus berjalan bersama
Hal yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat relevan untuk anak muda yang mulai kehilangan arah karena tekanan hidup modern.
6. Kenapa Tradisi Sepenting Ini Tidak Diajarkan Guru?
Ada tiga alasan utama:
- Kurikulum nasional terlalu fokus akademik.
- Tidak banyak guru yang memiliki pemahaman mendalam tentang tradisi lokal.
- Anak muda dianggap tidak lagi peduli budaya (padahal justru kebalikannya).
Akibatnya, Wiwit hanya hidup di desa, tidak dikenal generasi yang hidup di kota.
Padahal tanpa Wiwit, kita kehilangan sebagian dari identitas sebagai masyarakat agraris yang menghargai alam dan proses kehidupan.
Penutup
Di era teknologi, budaya mudah tergerus. Tetapi Wiwit membuktikan bahwa tradisi tidak pernah benar-benar hilang, hanya butuh dikenalkan kembali.
Wiwit adalah pengingat sederhana bahwa:
- hidup tidak harus terburu-buru,
- keberhasilan pantas dirayakan,
- kebersamaan itu obat,
- dan syukur adalah kunci bertahan hidup.
Mungkin anak muda sekarang tidak banyak tahu tentang Wiwit.
Tapi justru itu, kitalah yang harus mengangkatnya kembali.