Ada satu tradisi di Jawa Tengah yang sejak dulu dibicarakan dengan suara pelan, dibahas setengah berbisik, seolah ada batas tak terlihat yang tak boleh dilewati. Tradisi itu bernama
Ruwatan Sukerta, sebuah ritual penyucian yang bagi sebagian orang dianggap sakral, bagi sebagian lain terlalu mistis, dan bagi generasi muda… justru memicu rasa penasaran yang luar biasa.
Di tengah tren konten viral tentang “hal-hal mistis yang dilarang orang tua untuk dibahas” dan meningkatnya ketertarikan Gen Z terhadap budaya lokal yang bernuansa spiritual, ruwatan mendadak jadi topik yang kembali diperbincangkan. Namun tetap saja, ada satu pertanyaan besar:
Mengapa warga enggan membicarakannya secara terbuka?
Apa yang sebenarnya terjadi di balik ritual yang jarang terekspos publik ini?
Asal-Usul Ruwatan: Ritual Penyucian yang Usianya Lebih Tua dari Kerajaan Majapahit
Ruwatan bukan sekadar upacara adat; ia adalah salah satu ritual tertua di tanah Jawa. Tradisi ini berasal dari kisah klasik dalam kitab kuno Murwakala, yang menggambarkan makhluk raksasa bernama Batara Kala—simbol dari kesialan, ketidakseimbangan, dan nasib buruk.
Di masa lalu, sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa beberapa anak lahir dalam kondisi “sukerta”, yaitu membawa garis nasib yang memerlukan penyucian. Jenis sukerta ini banyak, misalnya:
- Ontang-anting (anak tunggal)
- Unger-unger (dua bersaudara laki-perempuan)
- Kembang sepasang
- Panca-suda
- Sendang kapit pancuran
Dan banyak jenis lainnya, tergantung versi cerita desa setempat.
Ruwatan dilakukan oleh seorang dalang sepuh, bukan sembarang dalang wayang kulit. Ia harus dianggap “paham urusan halus”, mampu membaca kisah Murwakala dengan intonasi tertentu, dan mengiringinya dengan gamelan ruwatan—gamelan khusus yang tidak dimainkan untuk pertunjukan biasa.
Karena prosesnya yang kompleks dan sangat sarat makna, tak heran jika ruwatan tidak bisa dibicarakan sembarangan.
Kenapa Banyak Warga Enggan Membicarakan Ruwatan? Ini Alasan yang Jarang Dibuka ke Publik
Meski tidak semua percaya pada aspek supernaturalnya, ada tiga alasan utama mengapa topik ini cenderung dihindari dalam percakapan sehari-hari.
- Tradisi yang Dianggap Sakral dan Tidak Boleh Dijadikan Bahan Sensasi
Dalam budaya Jawa, sesuatu yang sakral tidak boleh diobrolkan sembarangan.
Ruwatan dianggap ritual penyucian, bukan hiburan, bukan konten, dan bukan topik cerita yang bisa dibuat trending hanya demi viral.
Bagi orang tua desa, membicarakannya terlalu detail dianggap melanggar etika budaya.
Hal inilah yang membuat generasi muda justru semakin penasaran.
Larangan halus = rasa ingin tahu semakin besar.
- Ada Ketakutan Akan “Menyebut yang Tidak Perlu Disebut”
Fenomena ini sedang viral di TikTok—banyak konten kreator menghindari menyebut kata-kata yang dianggap memiliki “energi tertentu”.
Dalam konteks ruwatan, kisah Batara Kala dan dunia halus membuat sebagian warga berhati-hati.
Bukan karena takut, tapi karena menghormati.
Budaya Jawa mengenal prinsip:
“Sing ora katon ora ate dibangunké.”
Yang tak terlihat, jangan dipanggil dengan membicarakannya sembarangan.
- Ada Kekhawatiran Akan Kesalahan Pemahaman di Era Digital
Di era internet, di mana tradisi mudah ditarik keluar dari konteksnya, banyak warga tua cenderung tidak nyaman jika ruwatan dibahas tanpa pemahaman budaya yang benar.
Mereka khawatir tradisi ini:
- disalah-artikan,
- dipotong-potong untuk konten horor,
- atau dijadikan sensasi berlebihan.
Faktanya, ruwatan bukan ritual pemanggilan sesuatu, bukan praktik gelap, dan bukan bagian dari dunia black magic.
Ia adalah ritual penyucian diri, refleksi hidup, dan doa.
Proses Ruwatan: Mistis, Indah, dan Sarat Makna
Untuk memahami mengapa tradisi ini begitu dijaga, kita harus memahami prosesnya.
Ruwatan terdiri dari beberapa tahapan:
- Pementasan Wayang Murwakala
Dalang membacakan kisah asal mula Batara Kala dengan gamelan khusus.
Banyak orang menganggapnya menakutkan, tapi sebenarnya ini simbol keseimbangan hidup.
- Siraman
Anak atau orang yang diruwat menjalani penyiraman sebagai simbol membersihkan diri dari energi negatif dan ketakutannya sendiri.
- Pemotongan Rambut
Rambut melambangkan beban hidup yang tidak terlihat.
Pemotongan ini menjadi tanda melepaskan “nasib buruk” secara simbolis.
- Prosesi Doa dan Tumpeng
Sumber kehidupan, permohonan perlindungan, dan rasa syukur dipanjatkan bersama keluarga dan masyarakat.
Jika dipahami dengan hati, ruwatan sebenarnya sangat manusiawi.
Ia bukan tentang “mengusir hal-hal gaib”, tetapi tentang berdamai dengan rasa takut yang mengendap di dalam diri seseorang.
Mengapa Topik Ini Mendadak Viral?
Beberapa bulan terakhir, banyak konten mistis tradisional naik kembali ke permukaan.
Mulai dari urban legend desa, pamali, hingga ritual adat yang dulu dianggap “tidak boleh dibahas”.
Alasannya?
- Generasi muda mencari identitas budaya di tengah era digital yang serba cepat.
- Ada rasa rindu pada cerita masa kecil yang dulu dianggap tabu.
- Konten budaya yang bernuansa spiritual terbukti menarik dan mengundang engagement tinggi.
Ruwatan menjadi simbol dari fenomena viral ini, tradisi yang dulu tertutup kini diperbincangkan lagi, dengan rasa hormat yang baru.
Ruwatan Adalah Pelajaran Hidup, Bukan Takut-Takutan
Jika kita melepas semua unsur mistis, ruwatan adalah refleksi tentang:
- bagaimana manusia memandang nasib,
- bagaimana keluarga menenangkan ketakutan anak,
- bagaimana masyarakat menjaga keseimbangan,
- bagaimana orang Jawa mengajarkan bahwa hidup perlu dibersihkan dari hal-hal yang membebani.
Dan mungkin itu sebabnya, meski sebagian besar warga enggan membahasnya secara terbuka, mereka tetap menjalankannya diam-diam—dengan kesadaran bahwa tradisi ini menyimpan nilai yang jauh lebih besar dari sekadar ritual.
Penutup: Tradisi Ini Tidak Perlu Ditakuti—Cukup Dihormati
Di tengah dunia modern yang semakin cepat dan bising, ruwatan mengingatkan kita bahwa manusia tetaplah makhluk yang membawa rasa takut, harapan, dan keinginan untuk merasa aman.
Tradisi ini bukan sekadar cerita “mistis gelap”.
Ia adalah cermin hati masyarakat Jawa: lembut, simbolis, penuh makna.
Membicarakannya bukan hal terlarang.
Yang terpenting adalah cara kita membicarakannya.
Dengan hormat, tidak berlebihan, dan tidak memelintirnya menjadi sensasi murahan.
Karena pada akhirnya, budaya bukan sekadar cerita lama.
Budaya adalah cara kita memahami diri sendiri.