Kenapa Banyak Tradisi Sunda Tidak Pernah Ditulis, Tapi Tetap Bertahan Ratusan Tahun?
Ketika kita membicarakan warisan budaya, sering kali yang dianggap penting adalah apa yang tercatat dalam buku, arsip, atau dokumen resmi. Namun di tanah Sunda, banyak tradisi justru hidup tanpa pernah dituliskan, tanpa silabus, tanpa naskah baku.
Ironisnya, tradisi-tradisi inilah yang justru bertahan lintas generasi. Dari cara bertani, upacara adat, hingga tata krama sehari-hari, semuanya diwariskan dari mulut ke mulut, dari contoh ke kebiasaan.
Pertanyaannya, mengapa tradisi Sunda yang tak terdokumentasi ini bisa hidup ratusan tahun, sementara banyak budaya modern justru cepat menghilang?
Budaya lisan sebagai fondasi masyarakat Sunda
Masyarakat Sunda sejak lama hidup dalam budaya agraris dan komunal. Nilai-nilai kehidupan tidak disimpan dalam teks, melainkan dalam praktik sehari-hari. Tradisi bukan sesuatu yang diajarkan secara formal, tetapi dijalani bersama.
Dalam konteks ini, adat istiadat Sunda berfungsi sebagai panduan hidup. Ia hadir dalam siklus tanam-panen, dalam pernikahan, kelahiran, hingga kematian. Tradisi menjadi bagian dari ritme hidup, bukan pengetahuan terpisah yang harus dihafal.
Di tengah derasnya arus digital dan modernisasi, pola pewarisan semacam ini justru kembali relevan untuk dibicarakan.
Jejak tradisi yang lebih tua dari catatan kolonial
Banyak tradisi Sunda sudah ada jauh sebelum aksara Latin dikenal luas di Nusantara. Pengetahuan diwariskan melalui cerita, petuah, pantangan, dan simbol.
Pengaruh kepercayaan lokal, animisme, Hindu-Buddha, hingga Islam menyatu secara alami tanpa menghapus bentuk lama. Kerajaan-kerajaan Sunda pun lebih menekankan keseimbangan hidup ketimbang dokumentasi administratif.
Akibatnya, sejarah tradisi Sunda sering kali tak ditemukan dalam arsip tertulis, tetapi justru hidup dalam ingatan kolektif masyarakat desa.
Bukan ditulis, tapi dihidupi
Tradisi Sunda bertahan karena ia praktis dan bermakna. Beberapa ciri utama pewarisan tradisi ini antara lain:
• Diturunkan lewat contoh, bukan perintah
• Dilakukan berulang dalam siklus alam
• Mengandung nilai harmoni dengan lingkungan
• Sarat makna spiritual tanpa banyak simbol verbal
Misalnya dalam tradisi bertani, doa, waktu tanam, hingga larangan tertentu tidak dijelaskan secara teoritis, tetapi dipraktikkan bersama. Di sanalah nilai hidup ditanamkan.
Tradisi sebagai perekat komunitas
Dalam masyarakat Sunda, tradisi berfungsi sebagai alat sosial. Ia membentuk rasa kebersamaan, saling percaya, dan tanggung jawab kolektif.
Ketika satu generasi menjalankan tradisi, generasi berikutnya belajar tanpa merasa digurui. Identitas terbentuk bukan dari hafalan sejarah, melainkan dari pengalaman hidup bersama.
Inilah sebabnya banyak orang Sunda merasa “kehilangan” saat tradisi mulai ditinggalkan, meski mereka tak pernah membaca satu pun buku tentangnya.
Hari ini, sebagian tradisi Sunda kembali muncul lewat media sosial, festival budaya, atau konten pariwisata. Namun tidak sedikit yang mengalami penyederhanaan makna.
Anak muda mengenal tradisi lewat video singkat, bukan dari ruang hidupnya. Di satu sisi, ini membantu pelestarian. Di sisi lain, ada risiko tradisi hanya menjadi tontonan, bukan tuntunan. Kontroversinya, ketika tradisi yang dulu sakral kini harus “menarik” agar dilirik.
Jika tradisi hanya tinggal konten
Tantangan terbesar tradisi Sunda hari ini bukan pada kepunahan, melainkan pemutusan makna. Urbanisasi, pendidikan formal yang minim muatan lokal, dan perubahan gaya hidup membuat tradisi kehilangan ruang hidupnya.
Namun peluang tetap ada. Integrasi tradisi dalam pendidikan, dokumentasi yang sensitif konteks, serta peran keluarga sebagai ruang pewarisan utama bisa menjadi jalan tengah. Tradisi tidak harus selalu ditulis, tetapi perlu dipahami.
Penutup
Tradisi Sunda mengajarkan kita bahwa kekuatan budaya tidak selalu lahir dari tulisan. Ia tumbuh dari kebiasaan, kebersamaan, dan kesadaran hidup yang selaras dengan alam dan sesama. Di tengah dunia yang semakin terdokumentasi dan serba cepat, mungkin justru tradisi yang tak tertulis inilah yang memberi kita pelajaran paling penting: bahwa nilai hidup tidak selalu perlu dicatat, selama ia benar-benar dijalani. Dan barangkali, di situlah alasan mengapa tradisi Sunda tetap bertahan, bahkan ketika kertas dan tinta tak pernah mencatatnya.