Kenapa Orang Sunda Selalu “Minta Izin” ke Alam, Bahkan Sebelum Menanam
Ketika kita membicarakan masyarakat Sunda, yang sering muncul adalah keramahan, tutur kata yang halus, dan kedekatan dengan alam. Namun di balik itu semua, ada satu kebiasaan yang jarang dibahas secara serius: orang Sunda tidak pernah memulai menanam, membuka lahan, atau memanen tanpa terlebih dahulu “minta izin” kepada alam.
Bagi sebagian orang modern, ini mungkin terdengar seperti mitos, atau sekadar simbol. Tapi bagi banyak komunitas Sunda, terutama di wilayah pedesaan Jawa Barat, sikap ini adalah fondasi hidup. Ia bukan tradisi kosong, melainkan cara pandang tentang posisi manusia di dunia.
Dan justru di tengah krisis lingkungan hari ini, kebiasaan lama itu terasa semakin relevan.
Tradisi yang lahir dari masyarakat agraris
Masyarakat Sunda sejak lama hidup dalam lanskap pegunungan, hutan, sawah, dan sungai. Kehidupan mereka sangat bergantung pada cuaca, kesuburan tanah, dan keseimbangan ekosistem. Dari situ lahir seperangkat nilai yang menempatkan alam bukan sebagai objek, melainkan sebagai “sesama”.
Dalam praktiknya, “minta izin” kepada alam bisa berupa doa, sesajen sederhana, selametan kecil, atau ritual adat sebelum menanam padi, membuka ladang, atau memulai panen. Bentuknya berbeda di tiap daerah, tetapi semangatnya sama: manusia tidak merasa paling berkuasa.
Tradisi ini penting karena membentuk relasi. Bukan relasi eksploitasi, melainkan relasi kehati-hatian.
Jejak sejarah yang lebih tua dari banyak catatan resmi
Kebiasaan menghormati alam sudah ada jauh sebelum konsep pertanian modern masuk. Ia tumbuh dari kepercayaan Sunda Wiwitan, kemudian berbaur dengan nilai Hindu-Buddha, dan akhirnya menyatu dengan Islam.
Dalam banyak naskah dan cerita lisan Sunda, alam digambarkan sebagai titipan, bukan milik. Gunung, hutan, dan sungai memiliki makna spiritual. Karena itu, membuka lahan tidak bisa sembarangan. Ada waktu yang dianggap baik, ada tempat yang dianggap harus dijaga, ada batas yang tidak boleh dilewati.
Tradisi ini diwariskan bukan lewat buku, tetapi lewat contoh. Anak-anak melihat orang tua mereka berbicara pada sawah, sungai, dan pohon. Dari situlah nilai itu hidup.
Bukan sekadar ritual, tapi bahasa simbol
“Minta izin” kepada alam tidak selalu berarti upacara besar. Dalam banyak komunitas Sunda, ia hadir dalam gestur kecil dan keseharian.
Beberapa unsur yang sering ditemui antara lain:
- Doa bersama sebelum menanam sebagai bentuk penyerahan dan kesadaran.
- Sesajen sederhana berupa hasil bumi, air, atau makanan lokal.
- Pemilihan hari baik berdasarkan perhitungan tradisional.
- Larangan tertentu, seperti tidak menebang pohon sembarangan atau membuka lahan di area sakral.
Maknanya bukan pada bendanya, melainkan pada pesan yang disampaikan: manusia datang sebagai tamu, bukan pemilik.
Di sinilah tradisi berubah menjadi bahasa simbol. Ia mengajarkan batas. Ia menanamkan rasa cukup.
Tradisi sebagai ruang kebersamaan
Ritual sebelum menanam jarang dilakukan sendirian. Ia hampir selalu melibatkan keluarga, tetangga, atau tokoh adat. Dari sinilah tradisi berfungsi sebagai ruang sosial.
Orang berkumpul, makan bersama, berbagi cerita, dan menyatukan niat. Sawah tidak hanya menjadi ruang produksi, tetapi juga ruang relasi.
Nilai yang diwariskan pun tidak hanya soal alam, tetapi juga soal hidup: gotong royong, kesabaran, dan rasa tanggung jawab kolektif.
Tradisi ini membentuk identitas. Bahwa menjadi orang Sunda bukan hanya soal bahasa atau daerah, tetapi soal cara memandang dunia.
Antara pelestarian dan pergeseran makna
Hari ini, realitasnya berubah. Banyak anak muda Sunda tumbuh jauh dari sawah. Tradisi “minta izin” sering kali hanya dikenal sebagai tontonan festival, konten media sosial, atau paket wisata budaya.
Di satu sisi, ini membantu memperkenalkan budaya. Di sisi lain, ada risiko: tradisi menjadi estetika, bukan lagi etika.
Sebagian komunitas adat masih menjaga praktik ini secara utuh. Namun di banyak tempat, ia mulai dipersingkat, disederhanakan, bahkan dihilangkan. Modernisasi pertanian, tekanan ekonomi, dan alih fungsi lahan membuat relasi manusia–alam menjadi semakin transaksional.
Kontroversinya ada di sini: ketika tradisi dipertahankan, sering dianggap kuno. Ketika ditinggalkan, dampaknya justru dirasakan bersama.
Jika hubungan dengan alam hanya tinggal slogan
Tantangan terbesar tradisi ini bukan soal dokumentasi, tetapi regenerasi. Siapa yang akan meneruskan jika tidak lagi dipraktikkan dalam hidup sehari-hari?
Pendidikan formal jarang membahasnya secara kontekstual. Urbanisasi menjauhkan generasi muda dari sumber tradisi. Sementara itu, krisis lingkungan justru menunjukkan betapa rapuhnya hubungan kita dengan alam.
Namun di situ pula peluangnya. Tradisi “minta izin” bisa dibaca ulang sebagai etika ekologis. Ia bisa masuk ke ruang pendidikan, komunitas, bahkan gaya hidup berkelanjutan, tanpa harus kehilangan ruhnya.
Penutup
Tradisi orang Sunda yang selalu “minta izin” kepada alam memperlihatkan bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan cara menempatkan diri di dunia.
Ia tidak mengajarkan manusia untuk takut pada alam, tetapi untuk tidak merasa paling berhak. Di tengah zaman yang serba menaklukkan, nilai ini terasa semakin langka.
Mungkin banyak dari kita tidak tumbuh dengan ritual semacam itu. Namun justru di sanalah pertanyaannya muncul: jika bukan lagi lewat tradisi, lewat apa kita belajar menghormati batas?
Dan mungkin, di situlah makna “minta izin” sebenarnya berada