Upacara Adat Erau Kutai Kartanegara: Ritual Sakral Warisan Kesultanan yang Masih Hidup hingga Kini

Upacara Adat Erau Kutai Kartanegara: Ritual Sakral Warisan Kesultanan yang Masih Hidup hingga Kini

Last Updated: 2 February 2026, 15:17

Bagikan:

Upacara Adat Erau
Upacara Adat Erau Kutai kembali menegaskan kuatnya tradisi leluhur yang hidup di tengah masyarakat modern, lewat ritual sakral hingga puncak Belimbur yang sarat makna kebersamaan. Sumber gambar: Suarakaltim.id

Upacara Adat Erau merupakan tradisi budaya sakral dari Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tradisi ini kini dikemas sebagai festival budaya besar yang bernuansa spiritual dan sosial. Ritual Erau telah berlangsung sejak berabad-abad lalu dan terus dijaga sebagai warisan leluhur. Tradisi ini sarat nilai budaya serta simbol kebersamaan masyarakat (ANTARA News Kalimantan Timur, 2025).

Dalam pelaksanaannya, Erau bukan sekadar pesta rakyat. Upacara adat ini melibatkan berbagai prosesi sakral. Ritual tersebut meliputi Beluluh, pendirian Tiang Ayu, prosesi Mengulur Naga, hingga Belimbur sebagai penutup. Seluruh rangkaian ini berperan penting dalam melestarikan adat dan identitas budaya Kutai Kartanegara (ANTARA News, 2025).

Sejarah & Perkembangan Upacara Adat Erau

Asal Usul dan Arti Erau

Erau merupakan tradisi turun-temurun yang berasal dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Pada masa lalu, ritual ini erat kaitannya dengan upacara kerajaan, seperti penobatan raja dan prosesi sakral lainnya yang bertujuan memohon keselamatan, kesejahteraan, serta keharmonisan antara manusia, alam, dan leluhur. Secara etimologis, kata Erau dalam bahasa Kutai berarti ramai, riuh, dan bergembira, yang mencerminkan suasana perayaan adat yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat (Prokom Kukar, 2023).

Transformasi ke Festival Budaya

Seiring berakhirnya sistem pemerintahan kerajaan, tradisi Erau tidak ditinggalkan. Sebaliknya, upacara adat ini terus dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakat bersama pemerintah daerah. Di era modern, Upacara Adat Erau diselenggarakan sebagai festival budaya tahunan yang menjadi ikon pariwisata Kutai Kartanegara. Pada tahun 2025, rangkaian Festival Erau dijadwalkan berlangsung pada 21–29 September di Tenggarong dan diikuti berbagai agenda seni, budaya, serta ritual adat (ANTARA News Kalimantan Timur, 2025).

Rangkaian Ritual dalam Upacara Adat Erau

Beluluh: Ritual Pembuka yang Sakral

Prosesi Beluluh merupakan ritual pembuka dalam Upacara Adat Erau. Ritual ini bermakna sebagai proses penyucian diri dan pembersihan unsur-unsur negatif, khususnya bagi Sultan dan perangkat adat, sebelum seluruh rangkaian upacara dimulai. Beluluh dipimpin oleh Belian atau tokoh spiritual adat dan melibatkan prosesi simbolik seperti tempong tawar serta siraman air bunga sebagai lambang penyucian lahir dan batin (ANTARA News, 2025).

Tiang Ayu: Awal Erau Dimulai

Pendirian Tiang Ayu menjadi penanda resmi dimulainya seluruh rangkaian Upacara Adat Erau. Prosesi sakral ini biasanya digelar pada hari pembukaan festival dan disertai dengan upacara adat, tarian tradisional, serta pertunjukan seni khas Kutai. Tiang Ayu melambangkan kekuatan, keseimbangan, dan doa agar seluruh rangkaian Erau berjalan lancar dan membawa kebaikan bagi masyarakat (ANTARA News, 2025).

Mengulur Naga dan Prosesi Idaman

Salah satu prosesi paling ikonik dalam Upacara Adat Erau adalah Mengulur Naga. Ritual ini melibatkan pengarak replika naga yang kemudian dilarung ke Sungai Mahakam. Mengulur Naga dimaknai sebagai simbol pelepasan unsur negatif, penolak bala, serta harapan akan masa depan yang lebih baik. Prosesi ini juga menjadi pengingat akan hubungan erat masyarakat Kutai dengan alam dan leluhur mereka (Sapos, 2025).

Belimbur: Ritual Penutup Penuh Makna

Belimbur merupakan ritual penutup yang paling dinantikan dalam Upacara Adat Erau. Tradisi ini ditandai dengan saling menyiram air antara sesama peserta dan masyarakat. Belimbur tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga simbol penyucian diri, rasa syukur, dan kebersamaan setelah seluruh rangkaian adat selesai dilaksanakan. Ribuan warga biasanya memadati kawasan Museum Mulawarman dan sekitarnya untuk mengikuti prosesi ini (Sapos, 2025).

Makna Sosial & Budaya Erau

Pelestarian Identitas Budaya

Upacara Adat Erau memiliki peran penting dalam menjaga dan melestarikan identitas budaya Kutai Kartanegara. Melalui pelaksanaan ritual adat yang konsisten, nilai-nilai leluhur dapat diwariskan kepada generasi muda, sekaligus memperkuat rasa bangga terhadap budaya lokal yang telah hidup selama berabad-abad (Prokom Kukar, 2023).

Dampak bagi Pariwisata & Ekonomi Lokal

Selain bernilai budaya, Festival Erau juga memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan perekonomian lokal. Kehadiran ribuan wisatawan setiap tahun mendorong pertumbuhan UMKM, memperluas promosi seni budaya Kutai, serta meningkatkan citra Kalimantan Timur sebagai destinasi wisata budaya di tingkat nasional maupun internasional (ANTARA News Kalimantan Timur, 2025).

Upacara Adat Erau bukan sekadar festival budaya biasa, melainkan wujud nyata pelestarian tradisi yang sarat makna spiritual dan sosial. Dari ritual Beluluh hingga Belimbur, setiap prosesi membawa pesan kebersamaan, harmonisasi dengan alam, serta penghormatan kepada leluhur.

Untuk kamu yang ingin mengeksplor lebih banyak tentang adat budaya Indonesia mulai dari ritual sakral hingga festival rakyat teruslah mengikuti berita budaya terbaru di Negeri Kami yang selalu menghadirkan informasi lengkap dan terpercaya untuk pembaca.

Referensi 

Search

Video

Budaya Detail

Kalimantan Timur

Acara Sakral

Kalimantan Timur

Budaya

Budaya Lainnya