Ulos: Kain Tradisional Batak yang Penuh Makna Budaya dan Ikonik

Ulos: Kain Tradisional Batak yang Penuh Makna Budaya dan Ikonik

Last Updated: 30 November 2025, 02:00

Bagikan:

ulos - kain tradisional batak yang penuh makna budaya dan ikonik
Foto: Simarmata.or.id

Ulos (Surat Batak: ᯥᯞᯘᯬ᯲) – Kain tradisional khas masyarakat Batak, Sumatera Utara. Dari bahasa asalnya, “ulos” berarti kain. Cara membuatnya menggunakan alat tenun manual, mirip dengan songket khas Melayu, tanpa mesin.

Warna dominan kain ini adalah merah, hitam, dan putih, dihiasi tenunan benang emas atau perak. Dahulu hanya dipakai sebagai selendang atau sarung untuk upacara adat, kini hadir juga sebagai suvenir, bantal, tas, pakaian, dan gorden. Menurut Wikipedia, sebagian jenis telah punah, seperti Raja, Ragi Botik, Gobar, Saput, dan Sibolang. Ulos juga kerap diberikan kepada ibu hamil untuk mempermudah persalinan dan melindungi dari mara bahaya.

Arti dan Filosofi Ulos

Mangulosi adalah kegiatan adat penting bagi orang Batak, selalu hadir dalam upacara pernikahan, kelahiran, dan dukacita. Moyang Batak meyakini salah satu unsur yang memberi kehidupan adalah “kehangatan,” yang diperoleh dari matahari, api, dan kain tradisional ini. Kain tersebut praktis digunakan untuk menghangatkan tubuh kapan saja, tanpa mengganggu tidur atau aktivitas, berbeda dengan api yang harus dijaga terus-menerus.

Aturan adat mengatur siapa yang boleh menerima dan jenis pemakaiannya. Misalnya, orang tua kepada anak (Natoras tu ianakhon) atau hula-hula kepada boru. Pemakaian kain ini juga memiliki istilah:

  • Siabithonon: dipakai ke tubuh (baju atau sarung) → ragidup, sibolang, runjat, jobit.
  • Sihadanghononhon: diletakkan di bahu → sirara, sumbat, bolean, mangiring.
  • Sitalitalihononhon: pengikat kepala → tumtuman, mangiring, padang rusa.

Jenis, Makna, dan Fungsi Ulos

  1. Antakantak: Dipakai sebagai selendang orang tua untuk melayat dan dililit saat manortor (menari).
  2. Bintang Maratur: Memiliki banyak kegunaan di acara adat Batak Toba, seperti rumah baru, selamatan hamil 7 bulan, atau baptisan. Di daerah Silindung, ulos ini diberikan saat suasana bergembira untuk menandai keberhasilan atau peristiwa penting.
  3. Bolean: Selendang untuk acara kedukaan.
  4. Mangiring: Digunakan sebagai selendang, talitali, atau gendongan anak pertama, sekaligus simbol harapan agar kelahiran anak berikutnya menyertai yang pertama.
  5. Padang Ursa dan Pinan Lobu-lobu: Dipakai sebagai talitali dan selendang.
  6. Pinuncaan: Terdiri dari lima bagian yang ditenun terpisah lalu disatukan. Dipakai pada acara dukacita dan sukacita, termasuk oleh raja dan rakyat biasa, serta sebagai ulos passamot dalam perkawinan untuk menandai hubungan keluarga.
  7. Ragi Hotang: Diberikan kepada pengantin dalam pesta adat (ulos hela), menandai persetujuan orang tua pengantin perempuan.
  8. Ragi Huting: Dulunya pakaian sehari-hari gadis Batak Toba, dililit di dada (hobahoba).
  9. Sibolang Rasta Pamontari: Dipakai untuk duka dan sukacita, simbol dukacita, termasuk sebagai Ulos Saput (jenazah dewasa tanpa cucu) atau Ulos Tujung (untuk janda/duda).
  10. Si Bunga Umbasang dan Ulos Simpar: Selendang bagi ibu-ibu undangan panoropi.
  11. Sitolu Tuho: Ikat kepala atau selendang.
  12. Suri-suri Ganjang: Selendang margondang, digunakan oleh pihak hulahula untuk memberikan berkat.
  13. Simarinjam Sisi: Kain Panjoloani, dipakai oleh orang paling depan dalam prosesi adat.
  14. Ragi Pakko dan Harangan: Dahulu selimut keluarga kaya, juga untuk menyaput jenazah.
  15. Tumtuman: Talitali untuk anak pertama dari hasuhutan (tuan rumah).
  16. Tutur-tutur: Talitali dan selendang yang diberikan orang tua kepada anak atau keturunan.

Tantangan Masa Depan

Dengan hadirnya generasi muda, ulos menghadapi tantangan agar tetap dihargai sebagai simbol kehangatan dan warisan budaya, bukan sekadar kain biasa. Perlu upaya edukasi dan pelibatan anak muda dalam setiap acara adat agar nilai sejarah dan filosofi ulos tetap hidup.

Penutup

Ulos adalah warisan budaya Batak yang kaya makna, dari fungsi praktis hingga simbol sosial. Setiap helai ulos menyimpan nilai adat yang harus dihargai dan dilestarikan agar tetap hidup di generasi muda. Pelestarian ini juga penting untuk memperkenalkan identitas dan filosofi Batak kepada masyarakat luas.

Simak berita budaya menarik lainnya di Negeri Kami dan temukan juga inspirasi seputar warisan budaya Indonesia. Pelestarian ulos menjadi cara menguatkan identitas budaya dan kreativitas generasi muda.

Search

Video

Budaya Detail

Sumatera Utara

Pakaian Adat

Kabupaten Toba / Kabupaten Samosir / Kabupaten Humbang Hasundutan

Budaya

Budaya Lainnya