Ulap Doyo – Salah satu kain tenun tradisional khas Kalimantan Timur yang menjadi identitas Suku Dayak Benuaq. Kain ini tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga penuh nilai budaya, sejarah, dan struktur sosial masyarakat yang melahirkannya.
Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, keunikan kain ini terlihat dari bahan baku, teknik pembuatan, dan motif khas yang diwariskan secara turun-temurun. Kombinasi ini menjadikannya warisan budaya yang berharga dan terus dijaga oleh masyarakat Dayak Benuaq.
Sejarah Tenun Ulap Doyo
Tenun ulap doyo diduga telah ada sejak berabad-abad silam, hampir seumur dengan Kerajaan Hindu Kutai. Temuan antropologi menunjukkan adanya hubungan antara motif kain dan strata sosial pemakainya. Sejak awal, kain ini bukan sekadar busana, tetapi juga menjadi simbol identitas dan status, menandai posisi pemakai dalam komunitas serta memainkan peran penting dalam kehidupan sosial dan budaya Dayak Benuaq.
Bahan dan Proses Pembuatan
Ulap doyo dibuat dari serat daun doyo (Curliglia latifolia), sejenis tanaman pandan berserat kuat yang tumbuh liar di pedalaman Kalimantan, terutama di Tanjung Isuy, Jempang, Kutai Barat. Daun yang dipanen dikeringkan, kemudian disayat mengikuti arah serat untuk mendapatkan serat halus. Serat ini dijalin dan dilinting menjadi benang kasar, lalu diberi warna menggunakan pewarna alami dari tumbuhan. Warna merah berasal dari buah glinggam, kayu oter, dan buah londo, sedangkan warna cokelat diperoleh dari kayu uwar.
Proses pembuatan ulap doyo sepenuhnya manual dan diwariskan secara turun-temurun. Kaum perempuan Dayak Benuaq mulai belajar sejak usia belasan tahun dengan mengamati ibu dan sesepuh mereka secara berulang-ulang, sehingga kemampuan menenun ini hampir tidak ditemukan di luar komunitas mereka.
Motif Tenun Ulap Doyo dan Makna Sosialnya
Motif kain ini terinspirasi dari flora dan fauna di tepian Sungai Mahakam, serta tema peperangan antara manusia dan naga. Setiap motif memiliki makna khusus dan menjadi penanda identitas pemakainya. Misalnya, motif waniq ngelukng digunakan oleh masyarakat biasa, sementara motif jaunt nguku diperuntukkan bagi bangsawan atau raja. Perbedaan motif ini mencerminkan adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat Dayak Benuaq, mirip dengan sistem kasta dalam tradisi Hindu.
Penutup
Ulap doyo membuktikan bahwa warisan budaya Indonesia lahir dari proses panjang yang penuh makna dan kearifan lokal. Dari serat daun doyo hingga motif yang mencerminkan struktur sosial, tenun ini merekam sejarah dan identitas masyarakat Dayak Benuaq.
Simak juga berita budaya menarik lainnya di Negeri Kami, dan temukan inspirasi seputar warisan budaya Indonesia. Pelestarian ulap doyo menjadi wujud kebanggaan masyarakat Dayak Benuaq sekaligus cara menjaga identitas budaya agar tetap hidup dan dikenal lintas generasi.



