Tulude – Upacara adat tahunan dari masyarakat Nusa Utara, khususnya kepulauan Sangihe, Talaud, dan Sitaro yang terletak di ujung utara Sulawesi Utara. Upacara ini digelar setiap 31 Januari sebagai bentuk syukur kepada Tuhan, sekaligus peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Dahulu penuh ritual mistis, kini Tulude bersifat religius setelah masuknya agama Kristen di wilayah tersebut. Menurut Wikipedia, sebagian masyarakat masih mempercayai kekuatan jahat dan hal-hal yang berbau mistis, meski praktik okultisme perlahan hilang.
Arti dan Filosofi Tulude
Secara harfiah, Tulude berarti meluncurkan atau melepaskan sesuatu dari ketinggian. Maknanya berkembang menjadi simbol melepaskan tahun lama dan menyambut tahun baru. Kata ini berasal dari bahasa Sangihe “Suhude” yang berarti tolak, sedangkan dalam bahasa Talaud dikenal sebagai “Mandullu’u Tonna”, yang terdiri dari “Mandulu’u” (menolak/meninggalkan) dan “Tonna” (tahun). Upacara ini juga menjadi sarana komunikasi antarbudaya masyarakat Sangihe dan Talaud, mengandung nilai etika, moral, dan patriotik yang diwariskan oleh para leluhur.
Sejarah Tulude
Pada awalnya, Tulude dilaksanakan setiap 31 Desember. Ketika agama Kristen dan Islam masuk ke wilayah Sangihe dan Talaud pada abad ke-19, upacara ini diisi dengan muatan penginjilan, dan unsur kekafiran perlahan hilang. Karena tanggal 31 Desember bersamaan dengan ibadah malam Natal dan persiapan tahun baru, pelaksanaan Tulude kemudian dialihkan ke 31 Januari. Pada tahun 1995, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe-Talaud menetapkan tanggal ini sebagai Perda resmi sekaligus Hari Jadi Kabupaten, dengan inti acara tetap upacara Tulude.
Tahapan Upacara Tulude
Upacara ini berlangsung dalam beberapa tahap. Dua minggu sebelum pelaksanaan, tetua adat menyelam ke lorong bawah laut Gunung Banua Wuhu untuk mempersembahkan nasi dan emas kepada Banua Wuhu. Sehari sebelum upacara, kue adat Tamo dibuat di rumah tetua adat.
Pada hari pelaksanaan, persiapan dimulai sejak sore hari dengan penataan pasukan pengiring, penari tari Gunde, tari Salo, tari Kakalumpang, tari Empat Wayer, serta kelompok nyanyian Masamper. Tokoh adat ditentukan untuk memotong kue Tamo dan memimpin doa keselamatan (Mayore Labo). Para pejabat dan warga hadir membawa makanan untuk pesta rakyat Saliwangu Banua.
Sasake Pato dan Pemotongan Kue Tamo
Upacara diawali dengan Sasake Pato, di mana petinggi menaiki perahu dan meluncur di tengah laut menuju pantai bahagia. Setelah turun dari perahu, mereka berjalan diiringi sorak sorai, tambur, dan tagonggong. Puncak upacara adalah persembahan kue Tamo berbentuk kerucut, dihias dengan dodol, cabe, udang, dan ornamen lain. Kue ini diiringi tarian tetua adat dan ucapan syukur, kemudian doa-doa dibacakan dalam bahasa Sangihe sebelum kue dipotong.
Nilai Budaya dan Sosial
Tulude bukan hanya ritual, tetapi juga media penguatan identitas dan kebersamaan masyarakat. Generasi muda diajak memahami akar budaya, menghargai warisan leluhur, dan menanamkan nilai moral, sosial, serta patriotik. Perayaan ini menunjukkan harmonisasi antara tradisi dan agama, sekaligus mempererat persaudaraan antarwarga.
Penutup
Tulude menjadi simbol pelestarian budaya dan spiritualitas masyarakat Nusa Utara. Mengikuti upacara ini, generasi muda dapat menghargai nilai-nilai leluhur, warisan tradisi, serta menyesuaikan diri dengan dinamika zaman. Upacara ini juga mempererat rasa kebersamaan antarwarga.
Jangan lewatkan berita menarik lainnya tentang budaya Indonesia dan upacara tradisional di Negeri Kami. Mari lestarikan tradisi serta filosofi hidup bangsa melalui pengetahuan dan pengalaman nyata.



