Tradisi Mebuug-Buugan kembali digelar di Desa Adat Kedonganan, Kabupaten Badung, Bali, sehari setelah Hari Raya Nyepi. Ritual ini menampilkan warga yang saling melumuri tubuh dengan lumpur sebelum membersihkan diri di laut sebagai simbol penyucian.
Tradisi Mebuug-Buugan bukan sekadar perayaan budaya, melainkan bagian dari rangkaian spiritual setelah umat Hindu menjalani Catur Brata Penyepian. Prosesi ini menjadi momentum refleksi sekaligus kebersamaan dalam suasana Ngembak Geni.
Tradisi Mebuug-Buugan Jadi Sorotan Internasional
Tradisi Mebuug-Buugan sempat menjadi perhatian luas karena keunikannya sebagai ritual mandi lumpur pasca-Nyepi. Dalam laporan tahun 2019, tradisi ini digambarkan sebagai kegiatan kolektif warga yang saling melumuri tubuh dengan lumpur sebagai bagian dari simbol pembersihan diri (The Jakarta Post, 2019).
Disebutkan bahwa prosesi dilakukan sehari setelah Nyepi, saat masyarakat kembali beraktivitas dan saling memaafkan. Tradisi ini dinilai memiliki daya tarik visual sekaligus makna spiritual yang kuat.
Rangkaian Prosesi Tradisi Mebuug-Buugan Setelah Perayaan Nyepi
Tradisi Mebuug-Buugan memperlihatkan warga dari berbagai usia mengikuti prosesi dengan penuh antusias. Peserta berjalan menuju area berlumpur, lalu saling melumuri tubuh sebelum akhirnya menuju laut untuk membersihkan diri (Kompas.com, 2019).
Rangkaian ini menunjukkan bahwa ritual dilakukan secara kolektif tanpa memandang status sosial. Kebersamaan menjadi salah satu nilai utama yang tercermin dalam pelaksanaannya.
Simbol Pembersihan Diri dalam Tradisi Mebuug-Buugan
Ritual mandi lumpur ini menjadi simbol membuang sifat-sifat buruk dan energi negatif setelah menjalani Nyepi (ANTARA News, 2025).
Setelah tubuh dilumuri lumpur, warga berjalan menuju pantai untuk membersihkan diri. Tahapan ini dimaknai sebagai proses penyucian sekaligus awal baru dalam kehidupan spiritual masyarakat.
Lumpur dipandang sebagai representasi kotoran atau hal-hal negatif, sementara air laut melambangkan penyucian dan keseimbangan kembali antara manusia dan alam.
Makna Spiritual dan Solidaritas Sosial
Tradisi Mebuug-Buugan dimaknai sebagai simbol pembersihan diri setelah Nyepi. Dalam keterangan yang dipublikasikan, ritual mandi lumpur ini disebut sebagai cara membuang sifat-sifat buruk dan energi negatif yang tersisa setelah menjalani Catur Brata Penyepian. Lumpur merepresentasikan kotoran atau sisi negatif dalam diri, sementara prosesi mandi di laut menjadi lambang penyucian dan awal yang baru secara spiritual (ANTARA News, 2025).
Selain makna spiritual, ritual ini juga memperlihatkan kuatnya solidaritas warga. Prosesi dilakukan bersama-sama, mulai dari berjalan menuju area lumpur hingga membersihkan diri di pantai. Partisipasi lintas usia tanpa memandang latar belakang menunjukkan kebersamaan dan kekompakan masyarakat adat dalam menjaga tradisi yang diwariskan turun-temurun (The Jakarta Post, 2019; Kompas.com, 2019).
Tradisi Mebuug-Buugan membuktikan bahwa warisan budaya Bali memiliki kekuatan simbolik yang mendalam. Di balik keseruan mandi lumpur, tersimpan pesan tentang penyucian diri, harmoni, dan kebersamaan.
Ikuti terus berita budaya dan tradisi Nusantara lainnya hanya di Negeri Kami untuk mendapatkan informasi mendalam dan inspiratif dari berbagai daerah di Indonesia.
Referensi

