Tiwah – Upacara sakral masyarakat Dayak Ngaju dalam agama Kaharingan yang memiliki kedudukan sangat penting sebagai ritual pengantaran arwah menuju alam kekal, yakni Lewu Liau. Upacara ini hanya dilakukan setelah jenazah dimakamkan cukup lama, umumnya 7 – 10 tahun, karena yang dibutuhkan dalam tiwah adalah tulang-belulang yang nantinya akan dipindahkan ke dalam sandung.
Dilaksanakan sebagai upacara terbesar dalam Kaharingan, menurut Wikipedia tiwah melibatkan proses panjang, biaya besar, serta partisipasi komunitas yang luas. Tujuannya bukan sekadar penghormatan terakhir, tetapi juga kewajiban moral keluarga agar arwah tidak mengganggu kehidupan manusia dan dapat mencapai dunia roh secara sempurna.
Makna dan Konsep Kematian dalam Tiwah
Dalam kepercayaan Dayak Ngaju, kematian bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan arwah menuju dunia kekal. Arwah (Liau/Liaw) harus dihantarkan melalui rangkaian ritual agar mencapai Lewu Tatau atau Lewu Liau, alam tertinggi dalam mitologi Dayak Ngaju. Liau sendiri terbagi menjadi tiga jenis: roh rohani-jasmani, roh tubuh, dan roh tulang-belulang. Keyakinan ini menjadikan tiwah sebagai kewajiban moral, sebab arwah yang tidak dihantarkan dipercaya dapat menyebabkan gagal panen, penyakit, atau gangguan lain bagi keluarga.
Biaya, Status Sosial, dan Gotong Royong
Penyelenggaraan tiwah memerlukan biaya besar, dapat mencapai Rp50 juta hingga Rp100 juta. Besarnya biaya menjadikan ritual ini juga berfungsi sebagai simbol status sosial. Keluarga yang mampu dapat melaksanakan prosesi secara mandiri, sementara keluarga lain biasanya bergotong royong melalui tradisi handep untuk mengumpulkan dana bersama dan menyelenggarakan upacara kolektif.
Catatan antropolog menunjukkan bahwa upacara ini dapat melibatkan banyak keluarga. Misalnya, 89 kerangka pada pelaksanaan tahun 1996 di Petah Putih, 35 keluarga di desa Pandahara pada 2002, dan 77 kerangka pada kegiatan tahun 2016 di beberapa desa di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
Waktu dan Durasi Pelaksanaan Tiwah
Durasi tiwah dapat berlangsung 7 hingga 40 hari. Waktu pelaksanaan biasanya setelah musim panen, yakni Mei – Juli, saat cadangan pangan mencukupi dan masyarakat memiliki waktu luang. Pemilihan waktu ini juga memastikan tidak ada gangguan terhadap kegiatan pertanian.
Tahapan Upacara Tiwah
Ritual kematian Dayak Ngaju terbagi dua: upacara setelah kematian hingga penguburan sementara, serta upacara tiwah itu sendiri. Jeda antara keduanya dapat berlangsung bertahun-tahun karena keluarga harus mengumpulkan dana.
Pra Tiwah
Setelah penguburan sementara, upacara tiwah dimulai dengan pengumpulan tulang-belulang jenazah. Keluarga yang menunda pelaksanaan beberapa tahun cukup mengambil tulang yang sudah bersih dari jasad, sementara keluarga yang langsung melaksanakan tiwah harus memisahkan tulang dari jenazah yang masih utuh.
Dana untuk upacara yang terkumpul, disebut laloh, diserahkan kepada pimpinan penyelenggara (Bakas Tiwah), yang dibantu oleh peserta lain (anak-anak Tiwah). Pemimpin upacara dipilih antara tujuh hingga sembilan orang, dengan satu orang sebagai pimpinan utama (Upo) dan sisanya sebagai anggota (Basir), bertugas mengantarkan arwah ke dunia akhirat (Lewu Tetu).
Peralatan dan tempat upacara yang dipersiapkan meliputi:
- Balay Tiwah / Balai Nyahu: Rumah kecil 9 x 12 meter untuk menyimpan gong.
- Sangkaraya: Batang bambu 2 – 4 meter untuk tempat tarian, dipindahkan ke dekat sandung setelah upacara.
- Sandung / Sandong: Tempat penyimpanan tulang-belulang, biasanya dari kayu ulin dengan ukiran motif tertentu.
- Sapundu: Tiang kayu berukir manusia atau hewan untuk mengikat hewan kurban.
- Pantar: Tiang kayu setinggi 10 meter dengan pahatan burung enggang, menandai selesainya upacara.
- Bara-bara / Hantar Bajang: Pagar bambu dengan bendera, sebagai pintu gerbang upacara, biasanya di tepi sungai.
- Pasah Pali: Rumah-rumahan persegi 1 x 1 meter untuk meletakkan sesaji.
- Garantung (gong) dan Kakandin (kain merah): Gong untuk musik sekaligus membawa tulang; kain merah membungkus tulang sebelum dimasukkan ke sandung.
- Pemahay: Wadah untuk membakar jenazah.
- Hewan kurban: Biasanya ayam, babi, dan kerbau.
Persiapan Tiwah
Persiapan besar dilakukan sebelum upacara inti, seperti:
- Pemilihan pimpinan upacara (Upo dan Basir).
- Pembangunan balay tiwah, sangkaraya, sandung, sapundu, pantar, bara-bara, dan pasah pali.
- Menyiapkan alat musik seperti garantung dan kakandin.
- Mengumpulkan hewan kurban (ayam, babi, kerbau).
Puncak Upacara Tiwah
Pelaksanaan inti berlangsung dalam 7 hari:
- Hari 1: Pembuatan Balai Pangun Jandau dan penyembelihan babi.
- Hari 2: Pembuatan sangkaraya sandung rahung dan pemalas dengan darah kurban.
- Hari 3: Mangajan (tarian sakral), pengorbanan kerbau/sapi, serta ritual penyucian.
- Hari 4: Pendirian Tihang Mandera yang menandai kampung tertutup untuk upacara.
- Hari 5: Pengikatan hewan kurban pada sapundu dan pembangunan sandung.
- Hari 6: Kedatangan tamu dengan lanting laluhan membawa sesaji.
- Hari 7: Puncak penyucian, prosesi kanjan, dan pemasukan tulang-belulang ke sandung.
Pengaruh Budaya Luar terhadap Tiwah
Pengaruh Negara dan Agama
Hadirnya kolonial Belanda mengubah tradisi tiwah, terutama terkait pelarangan mangayau (perburuan kepala manusia) melalui Perjanjian Tumbang Anoi tahun 1894. Tradisi perbudakan Dayak juga dihapuskan sehingga kurban manusia diganti dengan kerbau. Setelah berdirinya Indonesia, tiwah membutuhkan perizinan resmi dari pemerintah daerah dan lembaga adat, yang dapat memakan waktu panjang.
Teknologi dan Modernisasi
Dahulu sandung selalu dibuat dari kayu ulin, namun sejak tahun 1960-an banyak sandung mulai dibuat dari semen akibat ketersediaan kayu yang berkurang. Bentuknya menjadi lebih sederhana, menyerupai kubus tanpa ukiran.
Penutup
Tiwah bukan sekadar ritual kematian, tetapi warisan budaya Dayak Ngaju yang sarat nilai spiritual, sosial, dan filosofis. Keberadaannya mencerminkan penghormatan mendalam terhadap leluhur serta hubungan manusia dengan alam semesta.
Jangan lewatkan berita menarik lainnya tentang budaya Indonesia dan upacara tradisional di Negeri Kami. Mari lestarikan tradisi serta filosofi hidup bangsa melalui pengetahuan dan pengalaman nyata.


