Tenun Sambas: Kain Benang Emas Khas Kalimantan Barat

Tenun Sambas: Kain Benang Emas Khas Kalimantan Barat

Last Updated: 29 January 2026, 06:00

Bagikan:

tenun sambas
Foto: Indonesia Kaya

Tenun Sambas – Kain tradisional yang dipopulerkan oleh masyarakat Melayu di Kalimantan Barat dan dikenal hingga mancanegara. Keindahannya tidak hanya terletak pada visual, tetapi juga pada nilai sejarah dan budaya yang melekat di setiap helai kain.

Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, kain ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2010. Ciri khasnya terletak pada motif rumit serta penggunaan benang kuning keemasan dan perak, sehingga kerap disebut kain benang emas.

Sejarah Tenun Sambas

Tradisi tenun Sambas telah diperkenalkan sejak lebih dari tiga abad lalu oleh nenek moyang Kesultanan Sambas. Sejak Sultan Sulaiman mendirikan Kesultanan Sambas pada tahun 1675, kain tenun ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.

Pada masa lalu, tenun Sambas memiliki fungsi sakral dan sosial. Kain ini digunakan dalam berbagai ritual adat, terutama dalam upacara pernikahan, serta menjadi simbol status dan identitas budaya masyarakat Melayu Sambas.

Proses Pembuatan Tenun Sambas

Hingga kini, warisan tenun Sambas terus dilestarikan dan diwariskan secara turun-temurun, baik oleh kaum perempuan maupun laki-laki. Proses pembuatan kain tenun ini melibatkan teknik menyilangkan dua set benang, yaitu benang lungsin dan benang pakan.

Sebelum proses menenun dimulai, dilakukan tahapan penghanian benang. Persiapan ini melibatkan berbagai alat tradisional seperti tarauan, peleting bambu, ani’an, tandaian, luwing, dan kolong. Pada tahap menenun, alat yang digunakan antara lain gedongan, longsen, tandaian, dan balok pase.

Proses menenun dimulai dengan menarrau, yaitu menggulung benang ke dalam bilah peleting, kemudian dilanjutkan dengan mengani, yakni penyusunan benang ke dalam longsen. Dari sini, kain mulai terbentuk melalui pola menyilang yang rapi dan terstruktur.

Kain ini menggunakan tiga teknik anyaman utama, yaitu anyaman polos, anyaman satin, dan anyaman keper. Tingkat kerumitan motif sangat dipengaruhi oleh keahlian penenun. Semakin rumit motif yang dihasilkan, semakin tinggi pula nilai jual kain tersebut.

Warna-warna yang digunakan pada tenun Sambas tergolong cerah dan beragam, seperti merah manggis, oranye, merah muda, hitam, dan hijau. Untuk menghasilkan kain sepanjang sekitar dua meter, dibutuhkan waktu sekitar satu bulan. Dalam satu rumah perajin, maksimal hanya dapat dihasilkan dua hingga tiga lembar kain per bulan.

Ragam Motif dan Maknanya

Tenun Sambas memiliki ragam motif yang sangat kaya, di antaranya tepuk pedada, siku keluang, mata punai, awan larat, pucuk rebung, tahi lalat, bunga melur, mata ayam, ragam panji, angin putar, biji periak, tujuh tabur bunga melati kecil di tengah, bunga tanjung, bunga cengkih, bunga malek, dan bunga cangkring.

Salah satu perajin, Rusna, menjelaskan bahwa motif pucuk rebung menggunakan benang biasa dan membutuhkan waktu sekitar 15 hari untuk satu bidang motif. Proses pemintalan benang untuk memasang suri dan karang bahkan dapat memakan waktu hingga dua bulan.

Selain itu, motif rebung dan tanaman kangkung sungai juga tergolong populer. Motif rebung biasanya ditempatkan pada bagian kepala dan kaki kain, sementara kangkung sungai berada di bagian tengah kain. Penempatan motif ini mengikuti pakem yang diwariskan secara turun-temurun, dengan variasi umumnya hanya dilakukan pada bagian pinggir kain.

Motif-motif tersebut merefleksikan kehidupan perempuan Sambas yang mayoritas berperan sebagai ibu rumah tangga dan dekat dengan aktivitas mengolah sayur-mayur. Seluruh motif juga merepresentasikan nilai budaya masyarakat setempat yang banyak terinspirasi dari flora di lingkungan sekitar. Pewarnaan kain pun menggunakan bahan alami dari akar, daun, dan batang tanaman tanpa bahan kimia.

Dusun Sulur Medan sebagai Sentra Tenun Sambas

Dusun Sulur Medan di Desa Sumber Harapan, Sambas, dikenal sebagai salah satu sentra penghasil tenun Sambas. Di dusun ini, proses pembuatan kain masih dilakukan secara tradisional. Rusna, salah satu perajin, menjelaskan bahwa penenun harus mampu menghitung jumlah benang serta menghafal rumus tertentu untuk menghasilkan motif yang rumit.

Menurut Diana, seorang pemasar kain tenun Sambas, terdapat 19 motif paten yang dikenal. Namun, produksi motif biasanya menyesuaikan permintaan pelanggan, termasuk jika pembeli membawa motif khusus yang tidak umum di Sambas.

Dalam proses produksi satu lembar kain, setidaknya empat orang terlibat. Tugas mereka mencakup pengaturan benang, menghani, merentangkan benang, memasukkan benang ke suri, hingga menata motif di sketsa kertas melalui teknik yang disebut suji dilang.

Mayoritas pembeli tenun Sambas berasal dari Singkawang dan Pontianak, serta wisatawan dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Bahkan, para perancang mode dari Jakarta kerap datang langsung ke Desa Sumber Harapan untuk memesan motif tertentu.

Hingga kini, para penenun Sambas masih menggunakan peralatan tradisional, sehingga proses produksi membutuhkan waktu lebih lama. Hal inilah yang membuat harga kain tenun Sambas relatif mahal, berkisar dari Rp1.500.000 hingga Rp1.800.000 untuk kain biasa, Rp2.500.000 untuk bahan katun, dan Rp3.500.000 hingga Rp5.000.000 untuk tenun berbahan sutra.

Penutup

Tenun Sambas tidak hanya menjadi kain tradisional, tetapi juga simbol ketekunan, identitas budaya, dan warisan sejarah masyarakat Melayu Kalimantan Barat. Keindahan motif, teknik tradisional, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya menjadikan tenun Sambas sebagai kekayaan Nusantara yang patut dijaga.

Simak juga berita budaya menarik lainnya di Negeri Kami untuk menemukan inspirasi seputar warisan budaya Indonesia. Pelestarian tenun Sambas menjadi upaya menjaga identitas budaya masyarakat Kalimantan Barat sekaligus mendorong generasi muda mengapresiasi kain tradisional Nusantara.

Search

Video

Budaya Detail

Kalimantan Barat

Pakaian Adat

Kabupaten Sambas / Desa Sumber Harapan / Dusun Sulur Medan

Budaya

Budaya Lainnya