Tari Ratoh Jaroe: Harmoni Gerak Tarian Aceh Bernuansa Islami

Tari Ratoh Jaroe: Harmoni Gerak Tarian Aceh Bernuansa Islami

Last Updated: 23 January 2026, 06:00

Bagikan:

tari ratoh jaroe
Foto: Indonesia Kaya

Tari Ratoh Jaroe – Tarian khas Aceh yang menampilkan harmoni gerak tangan, syair, dan kekompakan penari dalam balutan nuansa Islami. Disajikan sebagai seni pertunjukan duduk, tarian ini menonjolkan permainan jari tangan, tempo yang cepat, serta lantunan lagu berbahasa Aceh yang sarat makna.

Berangkat dari bentuk pertunjukan tersebut, ratoh jaroe dikenal sebagai tari kreasi yang berkembang di era modern namun tetap berakar kuat pada tradisi Aceh. Sebagaimana dicatat Indonesia Kaya, tarian ini mengolah unsur gerak, musik, dan syair bernuansa religius, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media penyampaian nilai keagamaan, kebersamaan, dan semangat kolektif masyarakat.

Asal-usul dan Makna Tari Ratoh Jaroe

Secara etimologi, ratoh jaroe berasal dari kata ratoh yang berarti berkata atau berbincang, serta jaroe yang berarti jari tangan. Makna tersebut menggambarkan tarian yang melantunkan syair atau menceritakan sebuah kisah melalui petikan-petikan jari tangan yang dilakukan secara serempak.

Tari ratoh jaroe diciptakan oleh Yusri Saleh, seniman asal Aceh yang akrab disapa Dek Gam, pada tahun 2000. Sementara itu, penamaan “ratoh jaroe” diperkenalkan oleh koreografer Aceh, Khairul Anwar, yang pernah bekerja sama dengannya dalam proses pengembangan tarian.

Latar Belakang Penciptaan Tari Ratoh Jaroe

Lahirnya tarian ini berangkat dari keprihatinan Dek Gam saat pertama kali berada di Jakarta. Pada saat itu, tarian duduk Aceh yang dikenal hanya Rampai Aceh, yang disajikan tanpa alat musik dan mengandalkan vokal semata.

Dari kondisi tersebut, Dek Gam mengembangkan tarian duduk dengan meramu berbagai unsur gerak tari Aceh, seperti ratoh duek, rateb meuseukat, rapai geleng, dan likok pulo. Unsur musik kemudian ditambahkan, terutama rapa’i, yang dikendalikan oleh seorang syahi sebagai pemain musik sekaligus vokalis.

Fungsi Tari Ratoh Jaroe

Tari ratoh jaroe merepresentasikan semangat dan keanggunan perempuan Aceh yang dikenal tangguh, pemberani, pantang menyerah, serta memiliki kekompakan yang kuat. Tarian ini lahir sebagai upaya membangkitkan kembali semangat masyarakat Aceh dari keterpurukan akibat konflik dan bencana alam.

Syair-syair yang dilantunkan berisi pujian kepada Allah serta nasihat kehidupan, sehingga menjadikan ratoh jaroe tidak sekadar pertunjukan seni. Melalui lantunan syair dan gerakan jari tangan yang serempak, tarian ini berfungsi sebagai media dakwah yang mencerminkan nilai pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan.

Penyajian Gerakan dan Musik Pengiring

Tari ratoh jaroe biasanya disajikan dalam berbagai perayaan adat dan menjadi hiburan bagi masyarakat. Tema yang diangkat beragam, mulai dari kisah perantauan, kesedihan, kegembiraan, nasihat kehidupan, hingga upaya membangkitkan semangat dari keterpurukan.

Tarian ini memiliki 33 gerakan dengan lima kali pengulangan. Koreografi dilakukan dalam posisi duduk dengan penekanan pada gerak tubuh bagian atas, terutama tangan, lengan, dan kepala. Para penari menyanyikan lagu-lagu berbahasa Aceh mengikuti tempo cepat yang dimainkan oleh dua penabuh rapa’i.

Tempo tarian cenderung lebih cepat dibandingkan tarian tradisional Aceh lainnya. Kecepatan tempo tersebut memengaruhi teknik permainan rapa’i sekaligus kualitas estetika gerak tari, sehingga menghasilkan pertunjukan yang dinamis dan energik.

Perbedaan Tari Ratoh Jaroe dan Tari Saman

Sekilas, ratoh jaroe tampak mirip dengan saman. Namun, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Jika tari saman lebih menonjolkan gerakan badan, ratoh jaroe lebih dominan pada gerakan tangan yang dipadukan dengan gerak tubuh.

Saman dimainkan oleh laki-laki dengan jumlah penari ganjil dan tanpa alat musik. Sementara itu, ratoh jaroe dibawakan oleh perempuan dengan jumlah penari genap dan diiringi musik rapa’i. Ratoh jaroe dinilai lebih menarik jika dibawakan oleh kelompok besar karena menampilkan motif gerak rampak, selang-seling, dan bergantian.

Busana dan Popularitas Tari Ratoh Jaroe

Penari ratoh jaroe mengenakan busana tertutup sesuai syariat Islam. Kostum terdiri dari baju kurung lengan panjang dengan dominasi warna merah, kuning, atau hijau, dipadukan dengan tenun Aceh berwarna kuning emas di bagian dada. Busana bawah berupa celana panjang polos berwarna gelap, dilengkapi songket Aceh di pinggang. Penari juga mengenakan hijab polos yang dipadukan dengan ikat kepala, baik polos maupun bercorak, yang dikreasikan sesuai kebutuhan koreografi tanpa mengabaikan kerapian dan kesopanan.

Meski berakar dari Aceh, tarian ini berkembang pesat di Jakarta dan populer di kalangan anak muda, terutama siswi sekolah menengah. Bahkan, pertunjukannya dalam helatan Asian Games 2018 berhasil memukau publik dan menandai penerimaan luas sebagai seni pertunjukan bernuansa Islami.

Penutup

Tari ratoh jaroe merupakan wujud harmoni antara gerak, syair, dan nilai Islam dalam seni pertunjukan Aceh. Melalui kekompakan gerak dan lantunan syair, tarian ini menyampaikan pesan spiritual, kebersamaan, serta semangat pantang menyerah.

Simak berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Aceh dan Indonesia.

Search

Video

Budaya Detail

Aceh

Tarian

-

Budaya

Budaya Lainnya