Tari Legong – Tarian klasik Bali yang terkenal dengan gerakannya yang luwes dan terstruktur. Kata “Legong” berasal dari “leg” atau “oleg” yang berarti gerak lentur, dan “gong” merujuk pada gamelan pengiring. Gerakan tarian ini mengikuti aksentuasi musik Gamelan Semar Pagulingan, sehingga menciptakan keindahan yang khas dan sarat makna.
Tarian ini berkembang di keraton-keraton Bali pada paruh kedua abad ke-19. Menurut Wikipedia, ide tari Legong muncul dari mimpi seorang pangeran Sukawati yang sedang sakit, melihat dua gadis menari lemah gemulai diiringi gamelan. Setelah sembuh, pangeran tersebut mewujudkan mimpinya menjadi repertoar tarian lengkap yang hingga kini tetap dipertunjukkan.
Sejarah dan Struktur Tari Legong
Awalnya, tari legong dibawakan oleh dua gadis yang belum menstruasi, ditarikan di bawah sinar bulan purnama di halaman keraton. Setiap penari dilengkapi kipas, sedangkan beberapa versi menambahkan seorang penari condong tanpa kipas. Struktur tari legong terdiri dari papeson, pangawak, pengecet, dan pakaad, membentuk pola gerak yang kompleks namun harmonis.
Seiring waktu, tari legong sempat kehilangan popularitas karena munculnya tari kebyar di awal abad ke-20. Revitalisasi dilakukan sejak akhir 1960-an dengan menggali dokumen lama untuk merekonstruksi tarian agar tetap lestari.
Ragam Tari Legong
Terdapat sekitar 18 jenis tari legong yang berkembang di Bali Selatan, termasuk di Gianyar, Badung, Denpasar, dan Tabanan.
- Legong Lasem (Kraton): Legong Lasem adalah yang paling populer, sering ditampilkan untuk wisata. Tarian ini dibawakan oleh dua legong dan seorang condong, mengangkat cerita Panji tentang adipati Lasem yang menculik putri Rangkesari, namun akhirnya tewas dalam pertempuran melawan raja Daha. Repertoar dengan tiga penari dikenal sebagai Legong Kraton.
- Legong Jobog: Tarian ini menceritakan persaingan dua bersaudara Sugriwa dan Subali dari Ramayana untuk memperebutkan ajimat, hingga keduanya berubah menjadi kera di danau ajaib.
- Legong Legod Bawa: Mengisahkan persaingan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu dalam mencari rahasia lingga Dewa Siwa.
- Legong Kuntul: Menceritakan beberapa ekor burung kuntul yang bercengkerama.
- Legong Semarandhana dan Legong Sudarsana: Legong Sudarsana mengambil cerita semacam Calonarang, sedangkan Legong Semarandhana memiliki alur khas sesuai daerah masing-masing.
Beberapa daerah memiliki legong khas, misalnya Legong Andir di Desa Tista (Tabanan) dan Legong memakai topeng bernama Sanghyang Ratu Dedari di Pura Payogan Agung (Ketewel).
Peran Tari Legong dalam Budaya Bali
Tarian ini berperan penting dalam pelestarian budaya Bali. Gerakannya yang anggun tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai tradisi, etika, dan kisah klasik yang diwariskan secara turun-temurun.
Melalui latihan dan pertunjukan, generasi muda Bali dapat memahami dan menghargai warisan budaya mereka, sekaligus mempertahankan eksistensi seni klasik yang telah turun-temurun. Seni ini tetap relevan hingga kini sebagai media edukasi, hiburan, dan daya tarik wisata budaya.
Penutup
Tari Legong Bali menghadirkan perpaduan gerak anggun, musik gamelan, dan cerita klasik yang memikat. Keindahan setiap gerakan dan keserasian dengan musik menciptakan pengalaman budaya yang unik, yang dapat dinikmati oleh semua generasi.
Simak berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Bali dan Indonesia.



