Tari Campak Bangka merupakan tarian tradisional khas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang tumbuh dari budaya Melayu pesisir. Tarian ini dikenal sebagai tarian pergaulan yang menampilkan keceriaan muda-mudi melalui gerakan dinamis dan pantun berbalas.
Seiring perkembangannya, Tari Campak Bangka tidak hanya hadir dalam pesta rakyat, tetapi juga dipentaskan dalam festival budaya, penyambutan tamu resmi, hingga ajang nasional. Keberadaannya menjadi simbol identitas budaya masyarakat Bangka Belitung.
Sejarah dan Asal-usul Tari Campak Bangka
Tari Campak Bangka dipercaya berkembang sejak abad ke-18 dan memiliki keterkaitan dengan budaya Melayu di wilayah Riau. Nama “Campak” disebut berasal dari tokoh bernama Nek Campak yang memperkenalkan kesenian ini di Bangka Belitung (Kompas.com, 2023).
Selain itu, portal resmi pariwisata Indonesia menyebutkan bahwa Tari Campak awalnya dipentaskan sebagai hiburan masyarakat setelah panen atau dalam pesta rakyat sebagai bentuk ungkapan kegembiraan (Indonesia.travel, 2022). Tradisi ini kemudian berkembang menjadi tarian pergaulan yang melibatkan penari laki-laki dan perempuan.
Pengaruh budaya luar juga tampak dalam perkembangan musik dan pola pertunjukan, namun unsur Melayu tetap dominan melalui penggunaan pantun dan struktur gerak yang sederhana namun ritmis.
Makna dan Filosofi Tari Campak Bangka
Sebagai bagian dari budaya Melayu, Tari Campak Bangka mencerminkan nilai kebersamaan, kesopanan, dan komunikasi sosial. Dalam pertunjukan, terdapat tradisi berbalas pantun antara penari atau penyanyi pengiring yang berisi nasihat, sindiran halus, hingga ungkapan kasih sayang (Indonesia.travel, 2022).
Pantun dalam Tari Campak bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui pantun, masyarakat belajar menyampaikan pesan dengan cara santun dan estetis.
Unsur Gerak, Musik, dan Kostum dalam Tari Campak Bangka
Gerakan Tari Campak Bangka didominasi langkah ringan, ayunan tangan, serta putaran yang menggambarkan suasana riang. Interaksi antara penari pria dan wanita menjadi ciri khas utama tarian ini (Kompas.com, 2023).
Musik pengiring biasanya menggunakan alat musik seperti gendang, gong (tawak-tawak), dan biola atau viul. Irama yang dimainkan cenderung cepat dan ceria sehingga menciptakan suasana meriah dalam setiap pertunjukan (Kompas.com, 2023).
Dari segi busana, penari perempuan umumnya mengenakan baju kurung dengan kain khas Melayu, sementara penari laki-laki menggunakan pakaian adat Melayu seperti teluk belanga dan tanjak. Warna kostum yang cerah memperkuat kesan gembira dan bersahabat.
Rekor dan Eksistensi Tari Campak Bangka di Tingkat Nasional
Tari Campak Bangka pernah mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) ketika ribuan pelajar menarikan tarian ini secara massal. Sebanyak 1.854 pelajar ikut serta dalam pertunjukan massal tersebut sebagai bentuk pelestarian budaya daerah (ANTARA News, 2019).
Partisipasi dalam festival budaya nasional juga memperkuat posisi Tari Campak Bangka sebagai ikon budaya daerah yang dikenal luas di Indonesia.
Tari Campak Bangka bukan sekadar tarian hiburan, tetapi representasi identitas budaya Melayu Bangka Belitung yang kaya nilai sosial dan sejarah. Melalui gerak, musik, dan pantun, tarian ini menghadirkan harmoni yang terus hidup di tengah masyarakat modern.
Ingin mengenal lebih banyak warisan budaya Nusantara? Temukan artikel budaya lainnya hanya di Negeri Kami dan mari bersama-sama menjaga serta melestarikan kekayaan tradisi Indonesia.
Referensi

