Tari Bedoyo Wulandaru – Tarian tradisional Blambangan yang lahir sebagai ungkapan sukacita masyarakat atas kedatangan tamu agung. Bagi masyarakat Blambangan pada masa lalu, kedatangan tamu istimewa merupakan momen yang sangat berharga. Mereka tak dapat menyembunyikan kebahagiaan ketika mendengar kabar bahwa rombongan keluarga besar Prabu Hayam Wuruk bersama Mahapatih Gajah Mada akan berkunjung ke wilayah mereka. Sukacita tersebut kemudian diwujudkan melalui sebuah tarian yang merepresentasikan rasa hormat dan kegembiraan atas kehadiran tamu agung.
Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai tari penyambutan, tetapi juga menjadi simbol penghormatan dan kearifan lokal yang dijaga secara turun-temurun. Gerak dan musik pengiringnya mencerminkan keharmonisan tradisi serta budaya Blambangan, sekaligus memperkuat identitas sosial dan budaya masyarakat yang terus hidup hingga kini.
Asal-usul dan Filosofi Tari Bedoyo Wulandaru
Secara etimologi, “Wulandaru” merupakan gabungan dari “wulan” dan “ndaru”. “Wulan” berarti bulan, yang secara luas dimaknai menerangi kegelapan. “Ndaru” berarti bintang jatuh, atau secara filosofis dimaknai sebagai tanda keberuntungan. Sementara, “Bedoyo” merujuk pada para penari wanita yang membawakan tarian ini.
Melalui tarian ini, masyarakat Blambangan ingin menggambarkan kebahagiaan mereka seolah mendapat berkah cahaya bulan dan keberuntungan. Ungkapan sukacita tersebut diwujudkan sebagai bentuk penyambutan atas kedatangan tamu istimewa.
Gerakan dan Musik Pengiring
Gerak tari dan musik yang mengiringi Tari Bedoyo Wulandaru merupakan pengembangan dari musik sablang dan Gandrung Banyuwangi. Para penari menampilkan gerakan anggun yang memadukan ritme lembut dan harmonis, sehingga menghadirkan suasana sakral sekaligus meriah.
Pada akhir pertunjukan, para penari melemparkan beras kuning, yang dipercaya dapat mengusir bala dan gangguan. Mereka juga melemparkan logam benggol, yang dulunya merupakan mata uang, melambangkan kesetiaan rakyat kepada pemerintah.
Pelestarian dan Prestasi Tari Bedoyo Wulandaru
Tari Bedoyo Wulandaru masih dilestarikan hingga kini. Pertunjukan tari ini sering muncul dalam berbagai acara budaya dan festival, termasuk Festival Karya Tari tingkat provinsi Jawa Timur, di mana tarian ini berhasil meraih juara umum. Keberlanjutan tarian ini menunjukkan betapa masyarakat Blambangan tetap menjaga warisan leluhur sambil menyesuaikan diri dengan zaman.
Penutup
Tari Bedoyo Wulandaru adalah bukti nyata bahwa budaya dapat menjadi media ekspresi, penghormatan, dan pengikat sosial masyarakat. Generasi muda diharapkan terus melestarikan tarian ini agar nilai sejarah dan filosofi yang terkandung tetap hidup.
Simak berita budaya dan tarian tradisional menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Jawa Timur dan Indonesia.



