Sulah Nyanda: Rumah Adat Baduy yang Harmonis dengan Alam

Sulah Nyanda: Rumah Adat Baduy yang Harmonis dengan Alam

Last Updated: 9 January 2026, 03:00

Bagikan:

sulah nyanda
Foto: Wikipedia

Sulah Nyanda – Rumah adat masyarakat Baduy di Provinsi Banten yang terkenal dengan atapnya dari daun nipah kering. Nyanda berarti bersandar, dengan sandaran atap yang sedikit merebah ke belakang, mencerminkan filosofi hidup masyarakat Baduy yang harmonis dengan alam. Rumah ini, yang juga disebut Imah, selalu dibangun menghadap ke selatan.

Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, Sulah Nyanda menjadi ruang sosial dan budaya. Menurut Wikipedia, rumah ini dirancang mengikuti kontur tanah, sehingga tiang-tiangnya memiliki ketinggian berbeda dan dihias dengan hiasan ijuk berbentuk tanduk di atas atap.

Struktur Bangunan Sulah Nyanda

1. Sosoro

Sosoro adalah ruang depan yang terletak di selatan rumah, digunakan untuk menerima tamu dan kegiatan keluarga sehari-hari. Ruang ini fleksibel, berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga, dapur, area tidur anak perempuan, serta tempat penyimpanan barang.

2. Tepas

Tepas memanjang ke belakang dari Sosoro dan menjadi inti rumah. Ruang ini digunakan untuk kegiatan bersama anggota keluarga dan membentuk huruf “L” tanpa sekat dengan Sosoro, mendukung sirkulasi terbuka di dalam rumah.

3. Ipah

Ipah adalah ruang di bagian belakang rumah yang berfungsi sebagai penyimpanan bahan makanan pokok dan dapur. Akses masuk hanya melalui satu pintu yang berada di sisi bangunan, lengkap dengan teras kecil dan anak tangga.

Konstruksi Bangunan Sulah Nyanda

1. Pondasi dan Tiang

Rumah Sulah Nyanda dibangun dengan sistem rumah panggung menggunakan batu utuh sebagai pondasi. Tiang dan balok dibuat dari kayu tanpa sentuhan akhir, sambungannya diperkuat dengan pasak tanpa paku.

2. Lantai dan Dinding

Lantai menggunakan rangka bambu dan ditutup bambu pecah, sedangkan dinding terbuat dari anyaman bambu dengan motif kepang. Anyaman atas dibuat jarang, bagian bawah lebih rapat, dan pintu masuk memiliki anyaman vertikal.

3. Atap

Rangka atap Sulah Nyanda terbuat dari kayu dan bambu, sementara penutupnya menggunakan daun nipah. Rumah dibangun dengan sistem knock down, di mana material disiapkan terlebih dahulu dan kemudian dirakit secara gotong royong.

Konsep Bangunan Sulah Nyanda

Bangunan Sulah Nyanda dirancang secara ekologis dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal tanpa campuran kimia. Rumah selalu menghadap arah Barat-Selatan, sehingga cahaya matahari dan angin dapat masuk dengan optimal, sejalan dengan filosofi hidup masyarakat Baduy.

Ukuran Rumah Sulah Nyanda

Dimensi rumah disesuaikan dengan tubuh penghuninya, misalnya lebar pintu diukur berdasarkan tubuh kepala keluarga laki-laki. Ukuran setiap rumah bervariasi, mulai dari sekitar 7×7 meter, 9×10 meter, hingga 12×10 meter.

Pola Pemukiman

Pemukiman Baduy berbentuk klaster dengan pagar alam, rumah pejabat adat ditempatkan menghadap Balai Adat, sementara rumah warga berada di depan Puun. Rumah tidak memiliki jendela, hanya lubang kecil untuk memantau keamanan, dan satu pintu keluar masuk yang disebut Panto.

Penutup

Sulah Nyanda menjadi simbol harmoni masyarakat Baduy dengan alam. Rumah adat ini memperlihatkan bagaimana filosofi hidup dan praktik budaya mereka tetap terjaga melalui arsitektur tradisional yang sederhana namun penuh makna.

Simak berita menarik seputar budaya dan arsitektur Indonesia di Negeri Kami, serta temukan beragam cerita inspiratif tentang warisan budaya Nusantara. Jangan lewatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan tentang tradisi lokal yang kaya makna dan penuh nilai sejarah.

Search

Video

Budaya Detail

Banten

Rumah Adat

-

Budaya

Budaya Lainnya