Sepitan Sunda merupakan tradisi khitanan adat yang berasal dari budaya masyarakat Sunda di Provinsi Jawa Barat. Tradisi ini tidak hanya menandai kewajiban agama bagi anak laki-laki, tetapi juga menjadi momen penting yang dirayakan secara adat dengan berbagai rangkaian prosesi khas daerah.
Di sejumlah wilayah Jawa Barat, sepitan masih digelar dengan arak-arakan, pertunjukan seni tradisional, serta doa bersama keluarga besar. Tradisi ini menunjukkan bahwa khitan bukan sekadar tindakan medis, melainkan bagian dari siklus kehidupan dalam budaya Sunda.
Asal-Usul Sepitan Sunda di Jawa Barat
Upacara Sepitan atau Nyepitan dikenal sebagai budaya suku Sunda yang digelar dalam tradisi khitanan anak laki-laki dan berkembang luas di wilayah Jawa Barat (Kompas TV, 2024). Tradisi ini menjadi bagian dari adat istiadat masyarakat setempat dan terus dipertahankan hingga kini.
Istilah “sepitan” sendiri merujuk pada sunatan atau khitanan dalam bahasa Sunda. Dalam kamus budaya Sunda dijelaskan bahwa sepitan merupakan tradisi khitan bagi anak yang umumnya masih berusia di bawah enam tahun (Kamus Sunda, n.d.). Penjelasan ini menegaskan bahwa sepitan berakar kuat dalam budaya Sunda, bukan Betawi.
Rangkaian Prosesi Sepitan Sunda
Arak-Arakan dan Kesenian Tradisional
Salah satu ciri paling mencolok dalam Sepitan Sunda adalah arak-arakan keliling kampung. Anak yang akan dikhitan biasanya mengenakan pakaian adat Sunda seperti pangsi atau beskap. Ia kemudian diarak dengan iringan musik tradisional dan kesenian khas daerah.
Di beberapa daerah Jawa Barat, arak-arakan ini kerap melibatkan kesenian seperti sisingaan atau kuda renggong. Anak yang akan disunat diusung atau dinaikkan ke atas properti kesenian tersebut sebagai simbol keberanian dan kebanggaan keluarga. Prosesi ini juga menjadi hiburan rakyat yang menarik perhatian warga sekitar.
Arak-arakan bukan sekadar pesta. Dalam tradisi Sunda, prosesi tersebut menjadi penanda bahwa seorang anak sedang memasuki fase penting dalam hidupnya. Momentum ini sekaligus memperlihatkan rasa syukur orang tua atas tumbuh kembang sang anak.
Doa Bersama dan Prosesi Khitan
Setelah arak-arakan selesai, acara biasanya dilanjutkan dengan doa bersama. Tokoh agama atau sesepuh kampung memimpin pembacaan doa dan selawat sebelum prosesi khitan dilakukan. Tradisi ini memperlihatkan perpaduan antara nilai agama Islam dan adat Sunda.
Saat ini, tindakan khitan umumnya dilakukan oleh tenaga medis profesional. Meski demikian, unsur adat seperti syukuran dan doa tetap dipertahankan agar makna budaya sepitan tidak hilang. Dengan demikian, tradisi tetap hidup meski metode medis telah berkembang.
Nilai Budaya dalam Sepitan Sunda
Simbol Peralihan Menuju Kedewasaan
Dalam budaya Sunda, sepitan dimaknai sebagai simbol peralihan dari masa kanak-kanak menuju tahap kedewasaan. Anak yang telah menjalani khitan dianggap memasuki fase baru dalam kehidupannya, baik secara agama maupun sosial.
Perayaan sepitan juga menjadi sarana pembelajaran bagi anak tentang tanggung jawab dan keberanian. Ia diperkenalkan pada adat istiadat yang diwariskan turun-temurun oleh leluhurnya.
Gotong Royong dan Solidaritas Sosial
Sepitan Sunda mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan. Warga sekitar biasanya ikut membantu persiapan acara, mulai dari memasak, mendirikan tenda, hingga mengatur jalannya arak-arakan. Tradisi ini mempererat hubungan sosial antarwarga dan menjaga semangat gotong royong.
Selain itu, sepitan menjadi ajang silaturahmi keluarga besar. Kerabat dari berbagai daerah datang untuk memberikan doa dan dukungan. Momen ini memperkuat ikatan kekeluargaan yang menjadi ciri khas masyarakat Sunda.
Sepitan Sunda di Tengah Modernisasi
Perkembangan zaman membawa perubahan dalam pelaksanaan sepitan. Sebagian keluarga memilih perayaan yang lebih sederhana karena pertimbangan biaya dan kepraktisan. Namun demikian, banyak masyarakat Jawa Barat yang tetap mempertahankan unsur adat sebagai bentuk pelestarian budaya.
Keberadaan sepitan hingga kini menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat di tengah modernisasi. Selama nilai makna dan kebersamaan dijaga, sepitan akan terus menjadi bagian penting dari identitas budaya Sunda.
Sepitan Sunda berasal dari Provinsi Jawa Barat dan merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Sunda. Tradisi ini memadukan unsur agama, adat, serta kebersamaan dalam satu rangkaian perayaan yang meriah dan bermakna.
Agar semakin mengenal kekayaan budaya Nusantara, jangan lewatkan artikel budaya lainnya hanya di Negeri Kami. Temukan kisah tradisi, sejarah, dan warisan daerah yang dikemas informatif dan mendalam setiap harinya.
Referensi

