Selendang Mayang – Minuman tradisional Indonesia asal Jakarta yang kini semakin jarang ditemukan. Minuman ini dikenal sebagai “minuman Betawi jadul” karena kerap disajikan pada acara-acara tertentu seperti Lebaran Betawi. Selain menyegarkan, minuman tradisional ini dibuat dari tepung beras atau hunkue, sehingga mampu mengurangi rasa lapar dan memberikan tekstur kenyal yang khas.
Minuman ini memiliki warna-warni menarik yang tidak hanya memanjakan lidah tetapi juga mata. Warna putih berasal dari santan, merah muda dari pewarna makanan, dan hijau dari daun pandan. Biasanya disajikan dalam mangkuk dengan tambahan gula merah, sirup, santan, dan es batu untuk sensasi segar.
Sejarah Selendang Mayang
Menurut Wikipedia, selendang mayang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Nama minuman ini berasal dari dua kata, yaitu ‘selendang’ yang menggambarkan warna hijau, putih, dan merah seperti selendang penari, dan ‘mayang’ yang berarti kenyal dan manis. Minuman ini juga dikaitkan dengan cerita rakyat Si Jampang Mayangsari, yang menjadi inspirasi bagi nama selendang mayang.
Dari sejarah tersebut lahirlah selendang mayang dengan bentuk mirip puding atau kue lapis. Lapisan putih berasal dari santan, merah muda dari pewarna makanan, dan hijau dari daun pandan. Minuman ini biasanya dipotong persegi dan disajikan dalam mangkuk, disiram dengan gula merah, sirup, santan, dan es batu.
Bahan dan Penyajian Selendang Mayang
Berdasarkan RRI, minuman tradisional ini terdiri dari kue lapis tiga warna: merah, kuning, dan hijau, yang masing-masing memiliki makna keragaman etnis di Jakarta. Warna merah melambangkan budaya Tionghoa, kuning khas Melayu, dan hijau identik dengan Arab.
Minuman ini umumnya disajikan dalam mangkuk agar isi dan warna lapisan terlihat jelas. Tekstur kue lapis yang kenyal dan rasa manis dari gula merah serta santan membuat minuman ini tidak hanya menyegarkan, tetapi juga mengenyangkan. Dalam tradisi Betawi, minuman ini biasa hadir pada saat buka puasa (takjil) dan hajatan bernuansa budaya Betawi.
Pelestarian Selendang Mayang
RRI juga menjelaskan bahwa minuman tradisional ini menjadi simbol kehangatan dan keceriaan masyarakat Betawi. Minuman tersebut mencerminkan kreativitas kuliner tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan memperkenalkan minuman ini melalui festival budaya dan edukasi kuliner, masyarakat dapat menjaga warisan budaya Betawi tetap hidup dan dikenal luas.
Melalui minuman tradisional tersebut, generasi muda juga dapat mengenal kekayaan kuliner lokal serta memahami makna keragaman budaya yang ada di Jakarta. Minuman ini bukan sekadar sajian, tetapi bagian dari identitas dan tradisi masyarakat Betawi yang layak diapresiasi.
Penutup
Selendang mayang menghadirkan kombinasi rasa dan visual yang unik, sekaligus menjadi bagian dari warisan budaya Betawi yang penting. Keunikan kue lapis tiga warna dan rasa manis yang segar membuat minuman ini tetap menarik untuk dinikmati.
Simak berita menarik lainnya tentang kuliner, budaya, dan kreativitas generasi muda di Negeri Kami. Temukan juga inspirasi baru dan kisah seru yang memperkaya wawasan serta semangat kreatifmu.


