Selaso Jatuh Kembar – Rumah adat khas Riau yang berbentuk balai dan difungsikan sebagai tempat kegiatan bersama. Bangunan ini tidak digunakan sebagai tempat tinggal pribadi, melainkan menjadi pusat kegiatan sosial dan adat masyarakat. Dalam tradisi Melayu Riau, bangunan ini dikenal dengan banyak sebutan seperti balai penobatan, balirung sari, hingga balai karapatan.
Dahulu, Selaso Jatuh Kembar sangat ramai digunakan untuk musyawarah, penobatan kepala adat, pembahasan urusan desa, hingga pelaksanaan upacara adat. Menurut Wikipedia, berbagai fungsi tersebut kemudian banyak digantikan oleh keberadaan masjid, namun nilai budaya dan jejak sejarahnya tetap hidup dalam masyarakat.
Bentuk Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar
Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar memiliki bentuk khas, dengan keliling bangunan yang selaras antara penyangga dan lantainya yang lebih rendah. Rumah ini dipercantik dengan beragam ukiran berupa motif tumbuhan dan hewan. Setiap ukiran memiliki nama dan makna, seperti:
- Lebah Bergantung / Ombak-ombak pada bagian tangga
- Melambai-lambai di atas pintu dan jendela
- Semut Beriring pada kisi-kisi pintu dan jendela
- Tiang Menggantung, Kalok Paku, dan Pucuk Rebung pada tiang
- Sayap Layang-layang pada cucuran atap
- Melur atau bunga Cina/bunga manggis pada ventilasi
- Selembayung / Sulobuyung di bagian puncak
Bahan dan Fungsi Utama Selaso Jatuh Kembar
Nama “Selaso Jatuh Kembar” berasal dari bentuk selasar (selaso) yang berada lebih rendah dari ruang tengah dan jumlahnya dua. Bahan utamanya diambil dari alam, seperti:
- Atap dari daun rumbia atau pinah
- Dinding, tiang, dan bagian struktur lain dari kayu meranti, punak, atau medang
Pada masa lalu, rumah adat ini difungsikan sebagai balai pertemuan adat, sehingga struktur dan ruang-ruangnya disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan masyarakat.
Bagian-bagian Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar
Rumah ini memiliki banyak ruang dengan fungsi berbeda, meskipun bukan untuk tempat tinggal. Ruang-ruang tersebut digunakan untuk memisahkan tetua, laki-laki, perempuan, serta menyimpan benda adat seperti perlengkapan tari dan alat musik. Beberapa bagian pentingnya antara lain:
1. Atap dan Loteng
Atap dibuat dari daun rumbia yang diikat dengan rotan. Di atas dapur terdapat loteng dari papan merbau yang berfungsi mengeluarkan asap dan menyimpan bahan makanan. Ventilasi loteng disebut Bidai atau Singap, dihiasi ukiran khas, dan biasanya berbentuk segi empat, segi enam, atau bulat.
2. Kasau
Kasau adalah penopang atap, terdiri dari Kasau Jantan dan Kasau Betina. Di antara keduanya terdapat gulung-gulung yang memperkuat konstruksi.
3. Tiang Selaso Jatuh Kembar
Tiangnya berbentuk segi empat, segi enam, segi delapan, hingga segi sembilan, masing-masing memiliki makna terkait arah mata angin, rukun iman, hingga status sosial. Tiang dibuat dari kayu keras seperti Kulim, Tembesu, Resak, atau Punak.
4. Rasuk
Rasuk berfungsi menghubungkan antar tiang dan memperkuat struktur rumah. Terdapat rasuk besar dan rasuk kecil (anak rasuk) yang membentuk kerangka atap.
5. Dinding, Pintu, dan Jendela
Dinding menggunakan kayu meranti, punak, atau medang dengan teknik lidah pian. Pintu terdiri dari dua jenis:
- Pintu malim / pintu curi untuk antar ruang
- Pintu utama penghubung ruang dalam dan luar
Keduanya tetap memakai ukiran khas Melayu Riau.
6. Lantai, Tangga, dan Kolong
Lantai dibuat dari papan kayu yang dipasang rapat. Tangga memiliki ukiran hewan dan tumbuhan, sedangkan kolong berfungsi menyimpan kayu bakar, perahu, atau benda adat sesuai kebutuhan.
Corak Ukiran Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar
Ukiran pada rumah adat ini sarat makna filosofis. Beberapa corak utama meliputi:
- Itik Sekawan: Melambangkan hidup rukun, kompak, dan damai seperti itik yang berjalan bersama menuju kandang.
- Pucuk Rebung: Memiliki beberapa variasi makna, mulai dari simbol penyelesaian masalah, musyawarah, gotong royong, hingga pengingat untuk berhati-hati.
- Lebah Bergantung: Simbol agar manusia menjadi pribadi yang bermanfaat seperti lebah penghasil madu.
- Semut Beriring: Mengajarkan sikap tolong-menolong, kerja keras, dan keteguhan.
- Awan Larat: Melambangkan kemudahan rezeki yang datang dari mana saja.
Semua ukiran ditempatkan di titik-titik penting seperti anak tangga, ventilasi, pintu, dan jendela sehingga membentuk keselarasan makna dalam satu bangunan adat.
Penutup
Keberadaan Selaso Jatuh Kembar menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Melayu Riau bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga ruang yang merekam nilai gotong royong, musyawarah, dan kearifan lokal. Setiap ukiran dan bagian rumah memiliki filosofi yang diwariskan turun-temurun.
Simak berita budaya menarik lainnya di Negeri Kami dan temukan juga ragam cerita inspiratif seputar warisan budaya Indonesia. Jangan lewatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan tentang budaya dan tradisi lokal yang kaya makna.


