Sekaten: Upacara Maulid Nabi dalam Tradisi Keraton Jawa Islam

Sekaten: Upacara Maulid Nabi dalam Tradisi Keraton Jawa Islam

Last Updated: 6 January 2026, 07:00

Bagikan:

sekaten
Foto: Pariwisata Indonesia

Sekaten – Rangkaian kegiatan tahunan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan oleh dua keraton di Jawa, yaitu Keraton Surakarta Hadiningrat dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Perayaan ini berlangsung dari tanggal 5 hingga 12 Mulud dalam penanggalan Jawa, yang setara dengan bulan Rabiulawal dalam penanggalan Hijriah.

Menurut Wikipedia, perayaan Sekaten mencakup pemainan gamelan pusaka di halaman Masjid Agung masing-masing keraton. Kegiatan lainnya meliputi pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad dan pengajian di serambi masjid. Puncak perayaan ditandai dengan Grebeg Maulud sebagai ungkapan rasa syukur pihak istana. Pada prosesi ini, gunungan dikeluarkan dan diperebutkan oleh masyarakat. Sekaten tidak hanya menjadi pesta rakyat, tetapi juga laku budaya-religius yang memadukan nilai Islam dan kosmologi Jawa.

Sejarah Sekaten

Etimologi 

Sebagian besar pustaka sepakat bahwa nama “sekaten” merupakan adaptasi dari istilah bahasa Arab syahadatain, yang berarti dua kalimat syahadat. Pemaknaan ini menunjukkan bahwa Sekaten sejak awal dimaksudkan sebagai sarana penyiaran Islam di tanah Jawa. Perluasan makna Sekaten juga dikaitkan dengan istilah Sahutain, Sakhatain, Sakhotain, Sekati, dan Sekat, yang mengandung ajaran moral tentang pengendalian diri, budi luhur, serta kemampuan manusia membedakan kebaikan dan keburukan.

Perayaan Sekaten

Awal mula dan maksud perayaan Sekaten dapat ditelusuri sejak berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, khususnya pada masa Kesultanan Demak. Sekaten diadakan sebagai salah satu upaya menyiarkan agama Islam. Karena masyarakat Jawa pada masa itu menyukai gamelan, maka pada hari kelahiran Nabi Muhammad dimainkan gamelan di halaman Masjid Agung Demak. Hal ini menarik masyarakat untuk datang dan mendengarkan gamelan, sekaligus mengikuti khutbah dan pengajaran keislaman.

Tradisi arak-arakan yang menyerupai Sekaten juga disebut telah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Kesultanan Demak sebagai pelanjut legitimasi kekuasaan Jawa kemudian meneruskan tradisi tersebut atas saran Wali Sanga dengan memberikan muatan Islam pada praktik budaya yang telah dikenal masyarakat.

Prosesi Sekaten

Miyos dan kondur gangsa

Prosesi Sekaten diawali pada malam hari dengan iring-iringan abdi dalem bersama dua set gamelan Sekaten dari dalam kompleks keraton menuju Masjid Agung dengan pengawalan bregada prajurit. Di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat digunakan gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga Wilaga, sedangkan di Keraton Surakarta Hadiningrat digunakan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Guntur Sari.

Kedua set gamelan tersebut dimainkan secara bersamaan selama tujuh hari berturut-turut hingga tanggal 11 Mulud. Pada malam 12 Rabiulawal, gamelan dikembalikan ke dalam keraton melalui prosesi kondur gangsa. Di Yogyakarta, prosesi ini diawali dengan kehadiran Sri Sultan di Masjid Gedhe untuk menyebar udhik-udhik kepada rakyat dan abdi dalem, dilanjutkan dengan pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad dalam bahasa Jawa.

Di Keraton Surakarta, sebagian pengunjung Masjid Agung berebut janur kuning yang dipercaya membawa berkah. Selain itu, terdapat ritual ngunyah kinang yang melambangkan perintah untuk membaca syahadat.

Numplak Wajik

Dua hari sebelum Grebeg Muludan, diadakan upacara Numplak Wajik di bangsal Magangan. Upacara ini menandai dimulainya pembuatan gunungan yang akan diarak pada puncak Sekaten. Prosesi Numplak Wajik diiringi permainan musik tradisional menggunakan kentongan, lumpang, dan alat sejenis lainnya dengan membawakan lagu-lagu rakyat Jawa.

Grebeg Maulid

Grebeg Muludan dilaksanakan pada tanggal 12 Mulud dan menjadi puncak peringatan Sekaten. Prosesi ini berlangsung pada pagi hari dengan pengawalan berbagai bregada prajurit keraton. Gunungan yang terdiri atas gunungan kakung, putri, dharat, gepak, dan pawuhan diarak dari keraton menuju Masjid Agung.

Gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan, buah-buahan, dan sayuran tersebut didoakan sebelum dibagikan kepada masyarakat. Masyarakat meyakini bahwa bagian dari gunungan membawa berkah, sehingga sebagian dibawa pulang dan ditanam di sawah atau ladang untuk memohon kesuburan serta keselamatan.

Prosesi pada Tahun Dal

Tahun Dal dalam penanggalan Jawa terjadi setiap delapan tahun sekali. Pada tahun ini, perayaan Sekaten biasanya diselenggarakan lebih besar, khususnya di Keraton Yogyakarta, karena menurut perhitungan Jawa, kelahiran Nabi Muhammad terjadi pada tahun Dal.

Pada tahun Dal, keraton melaksanakan sejumlah tradisi khusus, seperti njejak beteng yang dilakukan oleh Sri Sultan, serta upacara Bethak dan Pisowanan Garebeg Dal. Jumlah gunungan yang dikeluarkan juga lebih banyak, termasuk Gunungan Bromo atau Kutug yang hanya dihadirkan pada tahun Dal.

Pasar malam

Sekaten juga pernah dimeriahkan dengan pasar malam yang berlangsung di Alun-alun Utara keraton selama sekitar 40 hari. Masuknya pengaruh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20 turut memengaruhi jalannya prosesi Sekaten dengan penambahan pasar malam dan pameran seni budaya sebagai strategi pengalihan perhatian masyarakat dari kegiatan di Masjid Agung.

Namun, karena dianggap tidak lagi relevan dengan kesakralan Sekaten, pasar malam di Yogyakarta ditiadakan sejak tahun 2019. Pada tahun-tahun berikutnya, pasar rakyat diselenggarakan di lokasi lain dengan nama dan konsep yang berbeda.

Penutup

Sekaten merupakan peringatan Maulid Nabi Muhammad yang tumbuh dan bertahan dalam tradisi Keraton Jawa Islam. Melalui gamelan pusaka, ritus keagamaan, dan simbol kosmologi Jawa, Sekaten menunjukkan bahwa dakwah Islam di Jawa berkembang secara kultural dan damai.

Jangan lewatkan artikel lainnya tentang tradisi keraton dan warisan budaya Jawa di Negeri Kami. Melalui Sekaten, kita dapat memahami perpaduan nilai Islam dan budaya lokal yang terus hidup hingga kini sebagai identitas kolektif bangsa.

Search

Video

Budaya Detail

DI YogyakartaJawa Tengah

Acara Sakral

Kota Yogyakarta / Kec. Gondomanan / Kel. Ngupasan, Kota Surakarta / Kec. Pasar Kliwon / Kel. Baluwarti

Budaya

Budaya Lainnya