Sate klathak merupakan salah satu kuliner khas Yogyakarta yang semakin populer di kalangan wisatawan. Hidangan ini berasal dari wilayah Bantul dan dikenal karena teknik memasaknya yang berbeda dari sate pada umumnya.
Tidak seperti sate biasa yang menggunakan tusuk bambu dan bumbu kompleks, sate klathak justru mengandalkan kesederhanaan. Daging kambing muda ditusuk menggunakan jeruji besi sepeda lalu dipanggang di atas bara dengan bumbu sederhana berupa garam dan merica.
Keunikan Sate Klathak yang Membuatnya Berbeda
Salah satu hal yang membuat sate klathak begitu terkenal adalah penggunaan jeruji besi sebagai tusukan sate. Cara ini bukan sekadar tradisi, tetapi memiliki fungsi penting dalam proses memasak.
Jeruji besi mampu menghantarkan panas lebih baik dibandingkan tusuk bambu sehingga daging kambing dapat matang secara merata hingga ke bagian dalam. Teknik ini membuat tekstur daging menjadi lebih empuk dan juicy saat disajikan (Kompas.com, 2024).
Selain itu, bumbu sate klathak tergolong sangat sederhana. Umumnya hanya menggunakan garam dan merica tanpa tambahan bumbu kacang seperti sate pada umumnya. Justru dari kesederhanaan tersebut, rasa asli daging kambing dapat terasa lebih kuat.
Sate klathak biasanya disajikan bersama kuah gulai kambing yang gurih. Perpaduan antara sate bakar dengan kuah gulai hangat menciptakan pengalaman kuliner yang unik bagi para penikmatnya.
Asal Usul Nama dan Sejarah Sate Klathak
Sate klathak berasal dari daerah Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kuliner ini sudah dikenal masyarakat lokal sejak puluhan tahun lalu dan hingga kini masih menjadi ikon wisata kuliner daerah tersebut.
Nama “klathak” sendiri berasal dari suara “klathak-klathak” yang muncul ketika daging kambing ditaburi garam saat dipanggang di atas bara api. Bunyi tersebut kemudian menjadi ciri khas yang melekat pada nama hidangan ini (Kompas.com, 2024).
Di kawasan Bantul, terdapat sejumlah warung sate klathak legendaris yang telah berdiri sejak lama. Salah satunya adalah Sate Klathak Pak Pong yang bahkan telah dikenal sejak sekitar tahun 1960 dan masih ramai dikunjungi hingga sekarang (Kompas.com, 2023).
Mengapa Sate Klathak Disukai Wisatawan
Popularitas sate klathak terus meningkat seiring berkembangnya wisata kuliner di Yogyakarta. Banyak wisatawan yang sengaja datang ke Bantul hanya untuk mencicipi hidangan khas ini.
Selain rasanya yang khas, proses memasak sate klathak yang masih menggunakan bara arang juga menjadi daya tarik tersendiri. Aroma asap arang memberikan cita rasa khas yang sulit didapatkan dari teknik memasak modern (Kumparan, 2026).
Warung-warung sate klathak di Bantul bahkan sering dipenuhi pengunjung, terutama pada malam hari. Banyak di antaranya merupakan usaha keluarga yang mempertahankan resep turun-temurun selama bertahun-tahun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat, bahkan di tengah maraknya makanan modern dan tren kuliner kekinian.
Sate klathak bukan sekadar makanan khas Yogyakarta, tetapi juga bagian dari identitas kuliner daerah Bantul yang terus bertahan hingga sekarang. Keunikan cara memasak, kesederhanaan bumbu, serta cita rasa autentik membuat hidangan ini selalu menarik untuk dicoba.
Bagi pembaca yang tertarik dengan cerita kuliner, budaya, dan berbagai peristiwa menarik lainnya, jangan lewatkan artikel-artikel terbaru di Negeri Kami yang menghadirkan informasi ringan namun informatif setiap harinya.
Referensi

