Rumah Tambi – Rumah adat atau rumah tradisional yang berasal dari wilayah Tampo Lore, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Menurut Wikipedia, rumah ini dikenal sebagai hunian masyarakat Suku Pekurehua (Napu), Bada, dan Behoa yang mendiami kawasan Lembah Lore, serta menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.
Keunikan Rumah Tambi tidak hanya terlihat dari bentuknya yang khas, tetapi juga dari fungsi, arsitektur, dan simbol-simbol budaya yang melekat di dalamnya. Rumah ini mencerminkan cara hidup masyarakat Lore yang selaras dengan alam, adat istiadat, dan nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Gambaran Umum
Rumah Tambi berbentuk rumah panggung dengan ciri utama atap yang sekaligus berfungsi sebagai dinding. Bangunan ini digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat pada umumnya, serta di beberapa wilayah juga difungsikan sebagai rumah kepala adat. Pembeda antara hunian milik kepala adat dan masyarakat biasa terletak pada jumlah anak tangga: milik kepala adat berjumlah ganjil, sedangkan milik penduduk menggunakan jumlah genap.
Alas bangunan tersusun dari balok-balok kayu dengan pondasi batu alam. Tangga menuju Rumah Tambi dibuat dari daun rumbia atau daun bambu yang dibelah dua, menegaskan pemanfaatan bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar.
Fungsi Rumah Tambi
Fungsi utama Rumah Tambi adalah sebagai tempat tinggal masyarakat Suku Pekurehua (Napu), Bada, dan Behoa di Lembah Lore. Seluruh aktivitas domestik dilakukan di dalamnya, mulai dari memasak, makan, beristirahat, hingga menerima tamu.
Selain sebagai hunian, bangunan tradisional ini juga difungsikan sebagai tempat tinggal ketua adat serta lokasi penyelenggaraan pertemuan adat. Tidak hanya itu, Rumah Tambi berperan sebagai simbol Provinsi Sulawesi Tengah, sehingga bentuk arsitekturnya kerap diadopsi pada bangunan kantor pemerintahan, meskipun dengan jumlah ruangan yang lebih banyak.
Arsitektur Rumah Tambi
Struktur Rumah Tambi berupa rumah panggung dengan tiang penyangga pendek setinggi kurang dari satu meter. Jumlah tiang penyangga sebanyak sembilan buah yang disusun saling menempel dan diikat menggunakan pasak dari balok kayu. Tiang-tiang tersebut umumnya terbuat dari kayu bonati, yakni kayu hutan yang dikenal kuat dan tahan terhadap pelapukan.
Tiang penyangga menopang rangka lantai dari papan kayu yang disusun rapat dengan luas sekitar 5 meter × 7 meter. Dari sisi tata ruang, bangunan ini hanya memiliki satu ruangan utama. Meski demikian, ruang tunggal tersebut memiliki beragam fungsi, mulai dari memasak, tidur, menerima tamu, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari lainnya.
Untuk menunjang aktivitas tertentu, terdapat dua bangunan tambahan di luar rumah utama, yaitu Pointua dan Buho atau Gampiri. Pointua berfungsi sebagai tempat menumbuk padi dan di dalamnya terdapat lesung panjang bernama Iso yang ditopang oleh empat tiang. Sementara Buho merupakan bangunan bertingkat dua, dengan lantai bawah sebagai ruang menerima tamu dan lantai atas sebagai lumbung padi.
Atap Rumah Tambi berbentuk prisma dengan sudut kecil di bagian puncaknya sehingga tampak tinggi dan menaungi seluruh bangunan. Atap ini terbuat dari ijuk atau daun rumbia yang memanjang ke bawah dan sekaligus berfungsi sebagai dinding luar. Dalam pembangunannya, orientasi bangunan harus menghadap utara-selatan serta tidak boleh menghadap atau membelakangi arah matahari terbit dan terbenam.
Simbol Budaya dalam Rumah Tambi
Bentuk bangunan dan ukiran pada Rumah Tambi mengandung makna simbolik yang kuat. Secara visual, Rumah Tambi didominasi bentuk segitiga. Bentuk ini melambangkan dua relasi penting, yaitu hubungan horizontal dan vertikal. Garis horizontal melambangkan hubungan antar sesama manusia, sedangkan garis vertikal melambangkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Di bagian depan atap atau di dalam ruang utama biasanya terdapat sepasang tanduk atau kepala kerbau yang disebut pebaula. Pebaula melambangkan kekayaan dan kekuasaan pemilik rumah. Selain itu, terdapat ukiran lain yang disebut bati dengan berbagai motif, seperti kerbau, ayam, dan babi. Ukiran bati melambangkan kesejahteraan serta kesuburan bagi penghuni rumah.
Penutup
Rumah Tambi merupakan representasi nyata dari kearifan lokal masyarakat Suku Lore di Sulawesi Tengah. Fungsi hunian, arsitektur yang khas, serta simbol-simbol budaya yang terkandung di dalamnya menjadikannya sebagai warisan budaya bernilai tinggi dan sarat makna.
Simak berita menarik seputar budaya dan arsitektur Indonesia di Negeri Kami, serta temukan beragam cerita inspiratif tentang warisan budaya Nusantara. Jangan lewatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan tentang tradisi lokal yang kaya makna dan penuh nilai sejarah.



