Rumah Bubungan Tinggi: Rumah Adat Suku Banjar yang Ikonik

Rumah Bubungan Tinggi: Rumah Adat Suku Banjar yang Ikonik

Last Updated: 13 January 2026, 06:00

Bagikan:

rumah bubungan tinggi
Foto: Indonesia Kaya

Rumah Bubungan Tinggi – Rumah adat khas suku Banjar di Kalimantan Selatan yang termasuk salah satu jenis rumah Baanjung dan dikenal sebagai ikon budaya provinsi ini. Rumah ini terkenal dengan atapnya yang tinggi menjulang serta struktur panggung dengan anjung di kiri dan kanan bangunan, menjadikannya maskot rumah adat Banjar sekaligus simbol warisan budaya yang masih dijaga hingga kini.

Berdasarkan keterangan dari Wikipedia, Balay Bubungan Tinggi, yang juga disebut Balay Cacak Burung, dahulu menjadi pusat keraton Banjar dan istana kediaman raja. Tepat di depan rumah ini, pada masa pemerintahan Panembahan Batuah, dibangun Balai Seba pada tahun 1780, menegaskan peran penting rumah ini sebagai pusat kegiatan sosial, politik, dan adat masyarakat Banjar.

Sejarah dan Makna Filosofis Rumah Bubungan Tinggi

Rumah Bubungan Tinggi mencerminkan filosofi mikrokosmos dan makrokosmos. Atap atau bubungan melambangkan dunia atas, sedangkan rumah panggung melambangkan dunia bawah. Kesatuan keduanya melambangkan harmoni dan persatuan dalam kehidupan, sejalan dengan tradisi leluhur Banjar yang masih mempertahankan unsur Dayak Kaharingan.

Simbolisme ini juga terlihat dari ornamen pohon hayat, burung enggang, dan naga yang diukir di rumah. Atap menjulang menyerupai payung yang menandakan kebangsawanan dan kekuasaan. Rumah ini juga memiliki kesan simetris melalui anjung kiri dan kanan, terkait filosofi keseimbangan dalam pemerintahan Kerajaan Banjar.

Ciri-ciri dan Konstruksi Rumah Bubungan Tinggi

Rumah Bubungan Tinggi dibangun dengan konstruksi panggung dan memiliki anjung di kiri dan kanan. Atap utamanya disebut Bubungan Tinggi, atap Sindang Langit memanjang ke depan, dan atap Hambin Awan memanjang ke belakang. Tangga naik selalu berjumlah ganjil, dan bangunan utama biasanya terbuat dari kayu ulin yang kuat dan tahan lama.

Konstruksi pokok rumah terdiri dari tubuh bangunan induk, anjung kiri dan kanan, serta berbagai bubungan atap. Ruangan di dalam rumah dibagi menjadi beberapa bagian sesuai fungsinya, dari Palatar (teras depan), Pacira (ruang transisi), Panampik Kacil, Panampik Tangah, Panampik Basar, Palidangan, Anjung Kanan-Kiwa, hingga Padu (dapur). Setiap ruangan memiliki ukuran relatif yang diambil dari depa atau jengkal tangan pemilik rumah, dan jumlah elemen penting sering berbilangan ganjil.

Tata Ruang dan Kelengkapan

Ruang rumah Bubungan Tinggi dibagi menjadi tiga jenis: ruang terbuka, setengah terbuka, dan ruang dalam. Untuk ruang terbuka terdiri dari serambi muka dan serambi sambutan. Ruang setengah terbuka disebut Lapangan Pamedangan dengan pagar rasi. Ruang dalam meliputi Pacira, Panampik Kacil, Paluaran, Palidangan, Anjung Kanan-Kiwa, dan Padu.

Setiap ruang dilengkapi perabot dan perlengkapan sesuai fungsinya, seperti lampu gantung, lemari, ranjang, bufet, dan perlengkapan masak di dapur. Arsitektur ini tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional tetapi juga menjaga nilai tradisional dan simbolisme budaya Banjar.

Penutup

Rumah Bubungan Tinggi adalah bukti hidup tradisi dan filosofi masyarakat Banjar. Keunikannya dalam struktur, ornamen, dan tata ruang menjadikan rumah ini ikon budaya yang patut dilestarikan. Dengan memahami dan menghargai rumah adat ini, masyarakat dapat terus menjaga akar budaya Banjar agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Simak berita menarik seputar budaya dan arsitektur Kalimantan Selatan di Negeri Kami. Temukan juga berbagai cerita inspiratif tentang warisan budaya Nusantara yang penuh makna dan sejarah.

Search

Video

Budaya Detail

Kalimantan Selatan

Rumah Adat

Kota Banjarmasin

Budaya

Budaya Lainnya