Pesa’an: Baju Adat Khas Jawa Timur dari Madura yang Ikonik

Pesa’an: Baju Adat Khas Jawa Timur dari Madura yang Ikonik

Last Updated: 7 January 2026, 06:00

Bagikan:

pesa’an
Foto: Pariwisata Indonesia

Pesa’an – Baju adat khas Jawa Timur dari Madura yang menjadi salah satu simbol utama budaya daerah ini di Nusantara. Pakaian tradisional ini digunakan dalam acara penting masyarakat Madura, seperti upacara pernikahan, sekaligus dulunya juga dipakai sebagai busana sehari-hari.

Menurut Wikipedia, keunikan Pesa’an terlihat dari desainnya yang mencolok dan warna-warna terang yang khas, mencerminkan karakter masyarakat Madura yang berani, tegas, terbuka, dan memiliki semangat juang tinggi. Tidak heran jika Pesa’an menjadi ikon budaya yang mudah dikenali di seluruh Indonesia.

Sejarah Pesa’an

Pesa’an memiliki sejarah panjang, terkait dengan penguasa Sumenep dan interaksi mereka dengan Ponorogo. Pada masa lalu, pakaian ini digunakan oleh pengawal tim karapan sapi yang disebut Penjaghe, di mana pengawal dari Ponorogo memakai setelan adat Ponorogo yang kemudian dikenal sebagai pakaian Pesa’an di Madura. Selain itu, pakaian ini juga pernah digunakan oleh bangsawan dengan tambahan jas tutup, kain panjang, dan penutup kepala yang disebut odheng sebagai simbol status kebangsawanan.

Ciri-ciri Pakaian Pesa’an

1. Pakaian Pria

Baju atasan pria dari pakaian adat ini berwarna hitam, longgar, dan dipadukan dengan kaos belang merah-putih atau merah-hitam. Celana yang digunakan disebut gomboran, berupa kain hitam dengan panjang tanggung atau sampai mata kaki. Sebagai pelengkap, dipakai odheng, sarung kotak-kotak, sabuk katemang, alas kaki tradisional, serta senjata tradisional seperti celurit.

2. Pakaian Wanita

Pakaian wanita berupa kebaya dan jarik/samping, biasanya tanpa kutu baru atau menggunakan kebaya rancongan, dilengkapi dalaman berwarna kontras. Sarung batik dengan motif Tabiruan, Storjan, atau Lasem dipadukan dengan stagen. Aksesori tambahan meliputi cucuk sisir, cucuk dinar, leng oleng, kalung brondong, gelang dan cincin emas, penggel, dan selop tutup.

Filosofi dan Makna

Pesa’an mencerminkan keberanian, ketegasan, kesederhanaan, dan penghargaan terhadap kebebasan. Ukuran longgar pakaian melambangkan rasa hormat terhadap kebebasan individu. Odheng memiliki makna religius, dengan bentuk simpul melambangkan pengakuan atas keesaan Allah. Pada pakaian wanita, padu padan kebaya dan BH yang kontras menonjolkan keindahan dan kemolekan wanita Madura, sekaligus menekankan nilai kesehatan dan perawatan tubuh sejak muda.

Perkembangan Pesa’an

Saat ini, Pesa’an tetap digunakan dalam upacara adat, festival budaya, dan pertunjukan seni. Material modern seperti lasteng tiu atau tetoron mulai digunakan, menjadikannya lebih praktis tanpa mengurangi nilai budaya dan filosofi yang terkandung. Busana tradisional ini juga menjadi ikon kebudayaan yang memperkenalkan Madura ke kancah nasional maupun internasional.

Penutup

Pesa’an bukan hanya pakaian adat semata, tetapi juga simbol budaya yang sarat filosofi bagi masyarakat Madura, mencerminkan keberanian, ketegasan, dan penghargaan terhadap kebebasan. Keberadaannya mengajak generasi muda untuk lebih memahami dan melestarikan warisan budaya yang kaya ini.

Simak berita budaya menarik lainnya di Negeri Kami untuk menemukan lebih banyak inspirasi seputar kekayaan budaya Indonesia. Dengan mengenal dan melestarikan Pesa’an, kita dapat menghargai tradisi leluhur Madura sekaligus menumbuhkan apresiasi generasi muda terhadap budaya Jawa Timur.

Search

Video

Budaya Detail

Jawa Timur

Pakaian Adat

-

Budaya

Budaya Lainnya