Payas Agung: Filosofi dan Ciri-ciri Pakaian Pengantin Adat Bali

Payas Agung: Filosofi dan Ciri-ciri Pakaian Pengantin Adat Bali

Last Updated: 27 November 2025, 05:53

Bagikan:

payas agung - filosofi dan ciri-ciri pakaian pengantin adat bali
Foto: Pinterest / Semua Ada Disini

Payas Agung – Salah satu bentuk tata busana dan rias pengantin adat Bali yang paling istimewa dan penuh makna. Berbeda dengan istilah “paes” pada pengantin Jawa atau Sunda, payas dalam budaya Bali merujuk pada tata cara berbusana, bukan sekadar rias wajah. Menurut Wedding Market, gaya ini dikenal sebagai simbol kemuliaan karena detail busana, perhiasan, dan tata riasnya menggambarkan kehormatan serta kedudukan yang luhur dalam adat Bali.

Secara tradisional, tata busana sakral ini hanya digunakan untuk upacara adat bernilai tinggi seperti pernikahan (pawiwahan), upacara kedewasaan (munggah deha), metatah atau potong gigi, ngaben, serta upacara adat besar lainnya. Dari penggunaannya yang khusus inilah terlihat nilai keanggunan, kehormatan, dan spiritualitas yang membedakannya dari jenis payas lain seperti payas madya atau payas alit/nista.

Perbedaan Payas Agung dengan Payas Madya dan Payas Nista

Payas madya dan payas nista dapat digunakan untuk acara sederhana yang tidak terlalu sakral serta tidak memerlukan tata cara khusus. Sementara itu, payas agung hanya dikenakan untuk prosesi adat yang sangat penting karena tingkat keistimewaan dan kelengkapan busananya. Nilai filosofis, aturan pemakaian, serta sifat sakral payas agung menjadi pembeda utamanya.

Payas Agung di Masa Lampau

Pada zaman dahulu, payas agung hanya diperbolehkan untuk keluarga bangsawan dan orang-orang kerajaan di Bali. Busana ini menjadi simbol status sosial, kemuliaan, serta kedudukan seseorang dalam masyarakat.

Namun kini, semua kalangan masyarakat Bali sudah dapat mengenakannya dalam upacara adat. Meski demikian, pemakaiannya tetap harus mengikuti aturan, pakem, dan tata cara yang berlaku. Hal ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tetap berjalan sembari menjadi lebih inklusif tanpa menghilangkan nilai luhur yang diwariskan leluhur.

Filosofi Mendalam di Balik Payas Agung

Bukan sekadar pakaian yang indah atau megah, tetapi merepresentasikan ajaran Hindu Dharma dan keyakinan masyarakat Bali kepada Sang Hyang Widhi. Unsur-unsurnya mencerminkan kepatuhan, ketenangan, kebahagiaan, dan keseimbangan hidup.

Payas agung juga erat dengan konsep Tri Murti, tiga manifestasi Sang Hyang Widhi:

  • Brahma (pencipta)
  • Wisnu (pemelihara)
  • Siwa (pelebur)

Selain itu, dasar konsep busana adat Bali mengikuti simbol Tapak Dara atau swastika yang terbagi menjadi Tri Angga:

  1. Dewa Angga: Bagian atas leher hingga kepala; simbol hubungan manusia dengan dunia spiritual.
  2. Manusa Angga: Bagian atas pusar hingga leher; simbol hubungan manusia dengan sesama.
  3. Butha Angga: Bagian bawah pusar hingga kaki; simbol hubungan manusia dengan alam dan makhluk lainnya.

Karakteristik Payas Agung

Pada hari pernikahan, busana adat Bali ini tampil dengan kemegahan warna emas, mahkota tinggi, serta tata rias yang tegas namun elegan. Keseluruhan tampilannya mencerminkan keanggunan perempuan dan kewibawaan laki-laki, seolah menggambarkan raja dan ratu dalam sebuah upacara suci.

Mahkota, kain songket, perhiasan mewah, serta riasan tegas menjadi unsur penting yang tidak bisa dipisahkan dari gaya ini. Beberapa daerah di Bali memiliki ciri khas masing-masing, seperti Karangasem, Buleleng, Tabanan, dan Badung, meski pakem dasarnya tetap sama dalam penerapan payas agung.

Payas Agung pada Pengantin Wanita

Proses pemakaian busana pada pengantin perempuan terdiri dari beberapa tahap:

  1. Pemasangan Mahkota: Terdiri dari bunga kap emas, sandat emas, empak-empak emas, dan petitis.
  2. Penekep Pusung: Sebagai penutup pusungan pengantin.
  3. Gelung Agung: Tatanan rambut khas yang rumit dan anggun.
  4. Kain Tapih Panjang: Melilit dari dada hingga jari kaki.
  5. Kamen Prada dan Kemben: Melambangkan kesopanan dan kehormatan.
  6. Aksesoris: Subeng, pending, cerik, gelang satru, dan lainnya.

Payas Agung pada Pengantin Laki-Laki

Pengantin pria memakai busana yang tidak kalah megah, terdiri dari:

  • Mahkota dari rangkaian bunga kap emas
  • Jas beludru bermotif prada
  • Lilitan kain songket
  • Keris yang diselipkan di bagian punggung sebagai simbol keberanian dan kehormatan

Makna Spiritualitas

Setiap elemennya memiliki filosofi yang merefleksikan harapan dan doa agar kehidupan pernikahan dipenuhi kebahagiaan, keseimbangan, dan keberkahan. Proses pemakaian busana juga sering melibatkan ritual, doa, serta peran pandita, menandakan bahwa payas agung bukan sekadar busana, melainkan bagian dari perjalanan spiritual pengantin.

Penutup

Payas agung bukan hanya simbol keindahan, melainkan wujud penghormatan masyarakat Bali terhadap leluhur, alam, dan Sang Hyang Widhi. Setiap unsur busananya mengandung makna filosofis mendalam yang menjadikannya salah satu pakaian adat paling sarat nilai di Indonesia.

Ingin mengetahui lebih banyak cerita budaya, inspirasi pemuda, dan tradisi Nusantara lainnya? Kunjungi artikel di Negeri Kami. Jelajahi berbagai kisah yang mengangkat identitas dan kreativitas Indonesia.

Search

Video

Budaya Detail

Bali

Pakaian Adat

-

Budaya

Budaya Lainnya