Mapag Sri: Tradisi Panen Padi yang Masih Bertahan, Ritual Syukur Petani yang Sarat Makna Budaya dan Kearifan Lokal

Mapag Sri: Tradisi Panen Padi yang Masih Bertahan, Ritual Syukur Petani yang Sarat Makna Budaya dan Kearifan Lokal

Last Updated: 8 February 2026, 16:50

Bagikan:

Mapag Sri Tradisi Panen Padi
Tradisi Mapag Sri kembali digelar, menghadirkan kearifan lokal yang memperlihatkan rasa syukur petani terhadap hasil bumi sekaligus menjaga warisan budaya leluhur tetap hidup. Sumber gambar: Pojoksatu.id/Okim

Tradisi Mapag Sri menjadi salah satu warisan budaya masyarakat agraris di Jawa Barat yang masih terus dilestarikan hingga kini. Upacara ini identik dengan ritual syukur menjelang atau setelah panen padi yang dilakukan oleh petani sebagai bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus ungkapan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Di sejumlah daerah seperti Indramayu, Cirebon, hingga Majalengka, tradisi Mapag Sri tetap digelar setiap musim panen dengan berbagai rangkaian kegiatan budaya. Selain memiliki nilai spiritual, tradisi ini juga menjadi simbol solidaritas sosial masyarakat desa serta upaya menjaga identitas budaya lokal di tengah modernisasi.

Apa Itu Mapag Sri? Tradisi Mapag Sri dalam Budaya Agraris

Mapag Sri merupakan tradisi adat masyarakat Sunda dan Jawa yang secara harfiah berarti “menjemput padi” atau menyambut datangnya masa panen. Dalam praktiknya, upacara ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian yang melimpah sekaligus doa agar musim tanam berikutnya berjalan lancar (Pemerintah Kabupaten Indramayu, 2024).

Mapag Sri biasanya digelar menjelang panen raya dengan melibatkan masyarakat desa, perangkat adat, serta kelompok tani. Tradisi ini menunjukkan bagaimana budaya lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman (ANTARA News Jawa Barat, 2025).

Prosesi Tradisi Mapag Sri: Dari Pengantin Padi hingga Arak-Arakan

Rangkaian prosesi Mapag Sri memiliki ciri khas tersendiri di setiap daerah, tetapi secara umum memiliki elemen yang serupa. Salah satu yang paling dikenal adalah arak-arakan “pengantin padi” yang diiringi kesenian tradisional dan doa bersama warga desa. Prosesi ini melambangkan penghormatan terhadap Dewi Sri sebagai simbol kesuburan dalam tradisi masyarakat agraris (ANTARA News, 2013).

Selain arak-arakan, kegiatan lain yang sering ditemukan meliputi pagelaran wayang kulit, makan bersama, hingga pertunjukan seni rakyat. Di beberapa wilayah seperti Cirebon, kegiatan ini juga menampilkan hasil bumi sebagai bagian dari syukuran panen (ANTARA Jabar, 2009).

Tradisi Mapag Sri tidak hanya memiliki nilai ritual, tetapi juga menjadi sarana hiburan rakyat dan ruang interaksi sosial antarwarga. Banyak masyarakat memanfaatkan momen ini untuk memperkuat gotong royong serta menjaga kebersamaan desa.

Makna Sosial dan Spiritualitas Mapag Sri di Era Modern

Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi pertanian, Mapag Sri tetap memiliki relevansi penting bagi masyarakat pedesaan. Tradisi ini bukan hanya simbol budaya, tetapi juga sarana edukasi generasi muda tentang nilai-nilai lokal dan sejarah pertanian.

Mapag Sri menjadi bentuk pelestarian kearifan lokal sekaligus daya tarik wisata budaya yang potensial (Koran Jakarta, 2025).

Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat hubungan sosial karena melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat hingga generasi muda. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai agraris masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat modern (Radar Indramayu, 2025).

Mapag Sri sebagai Identitas Budaya yang Terus Dilestarikan

Pelaksanaan Mapag Sri di berbagai daerah menunjukkan bahwa tradisi ini tidak sekadar ritual tahunan, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat. Pemerintah daerah hingga komunitas budaya terus mendorong pelestarian tradisi ini agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.

Beberapa desa bahkan menjadikan Mapag Sri sebagai agenda tahunan yang mampu menarik wisatawan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga budaya lokal. Dengan adanya dukungan masyarakat dan pemerintah, Mapag Sri diharapkan tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tradisi Mapag Sri bukan hanya ritual syukur panen, tetapi juga refleksi hubungan harmonis antara manusia, alam, dan budaya. Melalui berbagai prosesi yang sarat simbol, masyarakat menunjukkan rasa hormat terhadap hasil bumi sekaligus menjaga warisan leluhur yang telah ada selama ratusan tahun.

Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih banyak tentang budaya lokal, tradisi nusantara, dan berita terbaru lainnya, jangan lupa untuk membaca artikel menarik lainnya di Negeri Kami. Temukan berbagai informasi inspiratif yang memperkaya wawasan Anda tentang budaya Indonesia.

Referensi

Search

Video

Budaya Detail

Jawa Barat

Acara Sakral

Jawa Barat

Budaya

Budaya Lainnya