Kue Maksuba – Salah satu makanan khas Sumatera Selatan dan tergolong sebagai jenis kue lapis. Menurut Wikipedia, jenis kue basah ini memiliki rasa manis dan gurih, serta ciri khas warna kekuningan dengan garis-garis kehitaman di tengahnya yang menyerupai lapisan-lapisan kue tradisional.
Kue ini tidak hanya disukai karena rasanya, tetapi juga karena makna filosofis yang terkandung dalam setiap lapisan. Filosofi yang dibawa kue ini mengajarkan kesabaran, karena pembuatannya memerlukan proses telaten dan berlapis-lapis agar matang sempurna.
Filosofi Kue Maksuba
Kue ini memiliki makna filosofi yang mendalam, yaitu kesabaran. Setiap lapisan kue dibuat satu per satu hingga matang, menuntut ketelitian dan kesabaran dari pembuatnya. Hal ini menggambarkan bahwa dalam kehidupan, pencapaian manis dan memuaskan memerlukan proses yang sabar dan tekun. Kesabaran dalam membuat kue maksuba juga mengajarkan nilai kehidupan bagi siapa pun yang menikmatinya: kesabaran adalah kunci untuk mendapatkan hasil yang indah dan memuaskan.
Penyajian Kue Maksuba
Kue ini biasanya disajikan pada momen tertentu seperti Lebaran, Idul Adha, atau pernikahan. Kue ini sering dijadikan hantaran oleh pengantin kepada orang tua dan mertua, serta sebagai simbol penghargaan dan rasa hormat. Selain itu, kue maksuba juga dibawa oleh pengantin baru saat berkunjung ke rumah orang tua dan mertua setelah pernikahan atau saat lamaran, menegaskan nilai sosial dan budaya yang melekat pada setiap lapisan kue ini.
Pembuatan Kue Maksuba
Kue ini dibuat oleh seorang Panggong, juru masak tradisional Palembang yang mewarisi cara memasak turun-temurun. Keahlian Panggong sangat penting untuk menjaga bara api tetap menyala agar kue tidak gosong. Proses pembuatan bisa memakan waktu hingga 3 jam.
Bahan utama kue ini meliputi telur bebek, gula pasir, margarin, dan susu kental manis. Setiap loyang membutuhkan sekitar 28 telur bebek dan tidak memakai bahan pengembang. Proses pembuatan dimulai dengan mengocok telur dan gula hingga mengembang. Lalu ditambahkan susu kental manis, mentega cair, dan pengharum seperti esens vanili.
Setiap lapisan dipanggang satu per satu hingga matang sebelum lapisan berikutnya ditambahkan. Kue maksuba mirip dengan kue Kojo dan kue 8 jam, tetapi berbeda pada bahan dan teknik lapisannya. Teknik ini membuat kue tampak elegan dan penuh makna.
Penutup
Kue maksuba bukan sekadar kue manis, melainkan setiap lapisannya menyimpan makna kesabaran, ketekunan, dan penghormatan terhadap tradisi. Menikmati kue ini mengingatkan bahwa kesabaran dan ketelitian adalah kunci untuk meraih hasil yang terbaik.
Simak berita menarik lainnya tentang kuliner, budaya, dan kreativitas generasi muda di Negeri Kami. Temukan inspirasi baru dan kisah seru yang memperkaya wawasan serta semangat kreatifmu.



