Bepelas – Ritual sakral yang menjadi bagian penting dalam upacara adat Erau di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tradisi ini dilaksanakan setiap malam selama rangkaian festival berlangsung, dengan puncak acara ketika Sultan atau putra mahkota menginjak pusaka berupa Gong Raden Galuh, diiringi dentuman meriam sebagai tanda penghormatan.
Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, ritual Bepelas bertujuan memohon keselamatan dan kewibawaan bagi Sultan serta keluarga keraton. Selain memperkuat tradisi kerajaan, Bepelas juga menjadi daya tarik budaya yang memperkenalkan nilai sejarah dan sakralitas Erau secara utuh kepada masyarakat dan wisatawan, sekaligus menegaskan identitas budaya Kutai yang diwariskan secara turun-temurun.
Makna Ritual Bepelas
Bepelas bukan hanya ritual kerajaan, tetapi juga sarana doa dan simbol penghormatan kepada leluhur. Setiap langkah Sultan di atas Gong Raden Galuh dipercaya membawa keselamatan, keberkahan, dan kewibawaan bagi keluarga keraton.
Ritual ini menegaskan identitas budaya Kutai, sekaligus menjadi pengingat pentingnya melestarikan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Makna sakral Bepelas menjadi dasar bagi semua prosesi dan tarian yang menyertainya.
Pelaksanaan Ritual Bepelas
Ritual dimulai dengan Sultan atau putra mahkota berjalan menuju Tiang Ayu dengan tangan kiri memegang kain cinde dan tangan kanan memegang tali juwita. Setelah itu, Sultan atau putra mahkota menginjak Gong Raden Galuh diiringi dentuman meriam.
Pelaksanaan Bepelas berlangsung dari malam pertama hingga malam ketiga untuk Sultan, sedangkan putra mahkota menjalankan ritual pada malam-malam berikutnya. Jumlah pijakan Gong dan dentuman meriam bertambah setiap malam sesuai urutan ritual. Pada malam terakhir, Sultan menari Ketayongan sebagai tanda bahwa Erau telah selesai dengan khidmat dan sempurna. Ritual Bepelas dilakukan setelah prosesi Merangin di Serapo Belian. Jika ritual jatuh pada malam Jumat, Dewa (abdi wanita) dan Belian (abdi pria) menjalankan ritual tambahan sebelum Bepelas dimulai.
Tarian Sakral
Sebelum Bepelas dimulai, rangkaian tarian sakral dilakukan oleh Dewa dan Belian. Prosesi dibuka dengan mengelilingi Tiang Ayu sebanyak tujuh kali, lalu Dewa menampilkan tarian selendang, tari kipas, dan tari jung njuluk sambil membacakan mantra untuk memanggil Dewa Karang dan Pangeran Sri Ganjur, penjaga Tiang Ayu.
Selanjutnya adalah Tari Dewa Memanah, di mana seorang Dewa menggunakan busur dan anak panah berapi, mengelilingi Tiang Ayu dan menembakkan api ke empat penjuru. Jika api padam, penari menyalakannya kembali dari lilin di sekeliling Tiang Ayu.
Tarian penutup adalah Tari Ganjur, dilakukan oleh empat pria dengan ikat kepala khusus dan gada kain. Putaran kedua Tari Ganjur dilakukan oleh empat pria berbeda dengan mengajak dua tamu kehormatan, kemudian diikuti satu pria dan Dewa sebelum Sultan atau putra mahkota memulai ritual.
Penutup
Ritual Bepelas menegaskan kekayaan budaya Kutai dan nilai sakral Erau, di mana setiap langkah Sultan di atas Gong Raden Galuh melambangkan penghormatan kepada leluhur. Prosesi ini juga memperkuat identitas budaya dan menjadi warisan berharga yang harus dilestarikan oleh generasi mendatang.
Jangan lewatkan berita menarik lainnya seputar budaya Nusantara dan ritual sakral seperti Bepelas di Negeri Kami. Mari bersama-sama melestarikan tradisi dan nilai leluhur masyarakat Kutai.



