Batik Tubo – Kerajinan tekstil unik dari Kota Ternate, Maluku Utara, yang terinspirasi dari rempah-rempah dan kehidupan masyarakat setempat. Kain ini tidak hanya menampilkan motif yang indah, tetapi juga merekam sejarah dan budaya kota yang sejak dahulu terkenal sebagai penghasil cengkeh dan pala.
Berdasarkan catatan dari Indonesia Kaya, kehadirannya menjadi simbol identitas lokal, menggabungkan kreativitas, estetika, dan kehidupan sehari-hari masyarakat yang sebagian besar bekerja sebagai petani rempah. Warna-warna cerah yang berpadu harmonis memperkuat karakter khas kain ini.
Asal-usul Batik Tubo
Batik Tubo termasuk kain yang masih tergolong muda, mulai dikembangkan oleh Kustalani Syakir sejak 2009. Nama Tubo diambil dari Kelurahan Tubo, salah satu kampung tertua di Ternate, di bawah kaki Gunung Gamalama. Tujuan Kustalani adalah menciptakan karya tekstil asli Ternate yang bisa menjadi ciri khas daerah dan dikenal secara luas.
Untuk mempelajari teknik membatik, Kustalani belajar ke Jawa, mendalami media, bahan dasar, dan motif batik. Setelah beberapa bulan, ia kembali ke Ternate untuk mengaplikasikan ide orisinalnya di atas kain. Di awal karier, teknik yang dipilih adalah batik cap karena seniman batik lokal masih terbatas, dan batik lukis membutuhkan keterampilan tinggi serta waktu lebih lama.
Motif dan Keunikan Batik Tubo
Usaha batik Kustalani dimulai dari produksi rumahan dengan skala kecil. Sampai saat ini, sudah ada sekitar 42 motif batik Tubo, seperti senjata khas Ternate, lumba-lumba, rempah-rempah seperti cengkeh dan pala, burung, serta motif limau gapi. Semua motif dibuat dengan cap kayu atau tembaga yang dipesan dari Jawa, menjaga keunikan dan kualitas kain.
Motif-motif ini mencerminkan budaya dan sejarah Ternate, serta hubungan masyarakat dengan alam dan rempah-rempah. Setiap kain batik memiliki karakter yang berbeda karena teknik cap yang digunakan menghasilkan corak unik pada tiap lembar kain.
Cara Membuat Batik
Proses pembuatan batik Tubo mengikuti tahapan batik cap pada umumnya. Pertama, kain polos dipotong sesuai ukuran dan siap dicap dengan lilin malam. Setelah motif tercetak, kain dikeringkan, kemudian direndam dalam cairan khusus agar warna meresap dan tahan lama.
Proses pewarnaan dilakukan berulang hingga mencapai warna dasar yang diinginkan. Setelah itu, lilin malam dibersihkan melalui perebusan, dan warna tambahan diberikan pada motif satu per satu. Tahap terakhir adalah pelapisan kain dengan lilin khusus untuk menjaga keawetan warna, lalu kain dilipat dan dikemas. Harga batik bervariasi mulai dari Rp100.000 hingga jutaan rupiah tergantung ukuran, jenis kain, dan pewarnaan.
Pelestarian Batik Tubo
Upaya pelestarian dan promosi yang terus dilakukan membuat batik Tubo diharapkan tetap lestari. Melalui pendidikan, pameran, dan pengenalan kepada generasi muda, kain ini juga diharapkan dikenal sebagai warisan budaya Ternate yang berharga dan menjadi simbol identitas lokal.
Penutup
Batik Tubo memperlihatkan bagaimana kain tradisional bisa merangkum sejarah, budaya, dan identitas Ternate dengan nilai estetika serta kearifan lokal yang kuat. Keunikan motif dan teknik pembuatannya menjadikannya simbol kekayaan budaya yang patut terus dijaga.
Simak berita budaya menarik lainnya di Negeri Kami dan temukan inspirasi seputar warisan budaya Indonesia. Pelestarian batik Tubo menjadi cara menguatkan identitas budaya masyarakat Ternate sekaligus mendorong kreativitas generasi muda.



