Barongko: Kue Khas Bugis Bone yang Kaya Makna Filosofis

Barongko: Kue Khas Bugis Bone yang Kaya Makna Filosofis

Last Updated: 21 January 2026, 06:00

Bagikan:

barongko
Foto: PT Sasa Inti

Barongko – Makanan khas Sulawesi Selatan yang secara khusus berasal dari masyarakat Suku Bugis Bone. Kue tradisional ini dikenal sebagai camilan berbahan dasar pisang yang dibungkus daun pisang dan dikukus, serta memiliki makna budaya yang kuat dalam kehidupan masyarakat Bugis.

Sebagai bagian dari tradisi kuliner nusantara, kue tradisional ini tidak hanya berfungsi sebagai sajian pangan, tetapi juga memiliki nilai simbolis dan peran adat dalam masyarakat Bugis. Berdasarkan catatan dari Wikipedia, barongko telah dikenal sejak masa kerajaan-kerajaan Bugis dan diwariskan hingga kini.

Asal-usul Barongko

Barongko berasal dari istilah Bugis “barangku mua udoko” yang berarti “barangku sendiri yang kubungkus”. Istilah ini merujuk pada adonan berbahan dasar pisang yang dibungkus dengan daun pisang dan mencerminkan kesatuan antara isi dan pembungkus sebagai dasar filosofi tradisi ini.

Pada masa kerajaan-kerajaan Bugis, barongko merupakan hidangan khusus yang hanya disajikan untuk para raja. Seiring waktu, penyajiannya meluas dan kini dikenal sebagai kue tradisional Bugis yang hadir dalam berbagai kegiatan adat di Sulawesi Selatan.

Bahan dan Proses Pembuatan

Barongko dibuat dari adonan yang terdiri atas pisang kepok matang yang dihaluskan, telur, santan, gula pasir, susu kental manis, dan garam. Pisang kepok dipilih karena merupakan jenis pisang yang tumbuh subur di wilayah Bugis, selain tanaman padi yang menjadi komoditas utama.

Untuk satu adonan besar, barongko dapat menggunakan sekitar 18 buah pisang kepok matang, 500 ml santan dari satu butir kelapa, empat butir telur ayam, 190 ml susu kental manis, setengah sendok teh garam, dan 125 gram gula pasir. Bahan pembungkusnya berupa daun pisang, dengan tambahan potongan daun pandan untuk memberi aroma.

Proses pembuatannya dimulai dengan memotong sebagian pisang kepok berbentuk dadu kecil, sementara sisanya dilumat bersama santan, telur, gula, susu kental manis, dan garam hingga halus. Setelah itu, potongan pisang dicampurkan ke dalam adonan, lalu dibungkus menggunakan dua lembar daun pisang, ditambahkan daun pandan, dan dibentuk seperti tum. Adonan yang telah dibungkus kemudian dikukus sekitar 30 menit hingga matang dan padat.

Waktu dan Fungsi Penyajian Barongko

Barongko berfungsi sebagai camilan dan memiliki peran penting dalam berbagai upacara adat Bugis. Dalam tradisi perkawinan adat, kue ini disajikan dalam bosara bersama kue tradisional lainnya dan menjadi salah satu sajian utama.

Selain itu, barongko juga dihadirkan dalam tradisi mappanre temme serta berbagai pesta adat lainnya. Penyajiannya mencerminkan penghormatan kepada tamu dan menjadi simbol kelengkapan dalam pelaksanaan adat Bugis.

Makna Filosofis dan Simbolis Barongko

Barongko memiliki makna filosofis yang kuat, terutama pada hubungan antara isi dan pembungkusnya. Penggunaan daun pisang untuk membungkus adonan pisang dimaknai bahwa apa yang tampak di luar harus sejalan dengan apa yang ada di dalam. Dalam pepatah Bugis, nilai ini dikenal sebagai barakkumua udoko, yang mengajarkan bahwa kebaikan akan tercermin melalui perilaku yang baik.

Dalam beberapa tradisi, barongko juga ditambahkan irisan nangka atau panasa. Penambahan ini melambangkan harapan akan kelanggengan rumah tangga. Makna tersebut berasal dari pepatah Bugis “iyyana kuala sappo unganna panasae na belo kalukue”, yang berarti mengambil kejujuran dan kesucian sebagai pagar dalam membina rumah tangga.

Barongko sebagai Warisan Budaya Takbenda

Barongko telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui Surat Keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 60128/MPK.E/KB/2017. Penetapan ini menegaskan posisinya bukan sekadar camilan tradisional, melainkan bagian penting dari identitas dan kekayaan budaya bangsa.

Penutup

Barongko merupakan kue khas Bugis Bone yang menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan simbol adat yang kuat. Dari bahan hingga cara penyajiannya, hidangan ini mencerminkan pandangan hidup masyarakat Bugis tentang kejujuran, keselarasan, dan keluhuran budi.

Simak berita menarik lainnya tentang kuliner, budaya, dan kreativitas generasi muda di Negeri Kami. Temukan juga inspirasi baru dan kisah seru yang memperkaya wawasan serta semangat kreatifmu.

Search

Video

Budaya Detail

Sulawesi Selatan

Kuliner

Kabupaten Bone

Budaya

Budaya Lainnya