Negerikami.id – Jauh sebelum orang mengenal komik, buku bergambar, atau layar digital sebagai media bercerita, masyarakat Jawa telah memiliki cara yang tidak kalah unik: cerita digambar dalam gulungan panjang lalu dibuka bagian demi bagian di hadapan penonton. Tradisi itu dikenal sebagai Wayang Beber. Berbeda dari Wayang Kulit atau Wayang Golek yang menghadirkan tokoh dalam bentuk boneka, Wayang Beber menjadikan gambar pada gulungan sebagai pusat pertunjukan.
Yang membuatnya semakin menarik sekaligus mengkhawatirkan, Wayang Beber kini bukan lagi kesenian yang mudah ditemui dalam pertunjukan sehari-hari. Data resmi Kemdikbud mencatat Wayang Beber sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, melalui SK No. 186/M/2015. Sementara kajian akademik mencatat dua gaya klasik yang masih dikenal, yaitu Wayang Beber Pacitan dengan lakon Jaka Kembang Kuning dan Wayang Beber Wonosari dengan lakon Remeng Mangunjaya.
1. Wayang Beber Tidak Menggunakan Boneka
Kesalahpahaman pertama tentang Wayang Beber adalah anggapan bahwa semua wayang pasti menggunakan boneka. Justru kekuatan Wayang Beber terletak pada gambar yang dibuat berurutan di atas gulungan kertas atau kain. Saat pertunjukan berlangsung, dalang membuka bagian tertentu dari gulungan sambil menyampaikan cerita kepada penonton.
Cara tersebut membuat Wayang Beber terasa berbeda dari pertunjukan wayang lain. Tokoh tidak bergerak seperti boneka kulit atau kayu, tetapi cerita muncul melalui rangkaian adegan visual yang ditafsirkan dan dijelaskan oleh dalang. Karena itu, kemampuan bercerita menjadi bagian penting dari pertunjukan.
2. Cerita Panji Menjadi Bagian Penting Wayang Beber
Salah satu ciri penting Wayang Beber klasik adalah penggunaan cerita Panji. Kajian mengenai Wayang Beber mencatat bahwa versi Pacitan mengangkat lakon Jaka Kembang Kuning, sedangkan versi Wonosari dikenal melalui lakon Remeng Mangunjaya. Keduanya memperlihatkan bagaimana kisah Panji menjadi bagian penting dalam tradisi Wayang Beber yang masih bertahan.
Cerita Panji sendiri memberikan ruang luas bagi kisah percintaan, penyamaran, perjalanan, konflik, dan pencarian tokoh. Ketika kisah tersebut dituangkan menjadi rangkaian gambar, penonton tidak hanya mendengar cerita tetapi juga mengikuti visualisasi adegan. Inilah yang membuat Wayang Beber dapat dilihat sebagai perpaduan antara seni rupa dan seni pertunjukan.
3. Pacitan Menjadi Salah Satu Pusat Pentingnya
Nama Pacitan sangat kuat ketika membicarakan Wayang Beber di Indonesia. Basis data resmi Warisan Budaya Kemdikbud mencatat Wayang Beber sebagai karya budaya dari Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur, dengan domain Seni Pertunjukan. Penetapannya dilakukan pada 2015 melalui SK Nomor 186/M/2015.
Versi Pacitan dikenal dengan lakon Jaka Kembang Kuning dan memiliki karakter visual tersendiri. Kajian akademik bahkan mencatat bahwa Wayang Beber Pacitan memiliki seperangkat gulungan yang memuat cerita Panji tersebut. Fakta ini memperlihatkan bahwa Pacitan bukan sekadar lokasi keberadaan Wayang Beber, tetapi bagian penting dari sejarah keberlanjutan tradisi tersebut.
4. Gulungannya Justru Menjadi Bagian dari Cerita
Salah satu hal yang membuat Wayang Beber menarik adalah bentuk medianya. Cerita tidak disajikan dalam satu lembar gambar besar yang langsung terlihat seluruhnya, melainkan melalui beberapa bagian atau adegan yang dibuka secara bertahap. Penelitian seni menyebut setiap bagian adegan atau pejagongan memiliki unsur visual yang saling terhubung untuk membangun cerita.
Teknik tersebut membuat pertunjukan terasa seperti membuka halaman cerita secara perlahan. Penonton mendapatkan informasi sedikit demi sedikit sambil mendengarkan narasi dalang. Dalam konteks sekarang, cara ini terasa seperti bentuk awal dari seni visual berurutan yang menggabungkan gambar dan cerita dalam satu rangkaian.
5. Ada Dua Gaya Wayang Beber Klasik yang Sering Dibahas
Literatur akademik banyak membahas dua gaya Wayang Beber klasik, yaitu Wayang Beber Pacitan dan Wayang Beber Wonosari, Gunungkidul. Versi Wonosari dikenal dengan lakon Remeng Mangunjaya, sementara versi Pacitan membawa lakon Jaka Kembang Kuning. Keduanya sama-sama menggunakan gambar dalam gulungan, tetapi mempunyai karakter visual dan pertunjukan yang berbeda.
Perbedaan itu penting karena menunjukkan bahwa Wayang Beber tidak pernah benar-benar menjadi satu bentuk yang seragam. Setiap lingkungan dapat mengembangkan gaya, tokoh, dan cara bercerita sendiri. Bahkan penelitian mengenai Wayang Beber Priangan menunjukkan bahwa medium ini masih dapat dikembangkan untuk mengangkat cerita lokal lain seperti Lutung Kasarung.
6. Wayang Beber Pernah Berkaitan dengan Ritual
Wayang Beber juga memiliki hubungan dengan kehidupan ritual masyarakat. Salah satu kajian mengenai sejarah pewayangan mencatat bahwa pada masa lalu Wayang Beber banyak dipentaskan untuk keperluan ruwatan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa pertunjukan ini tidak selalu ditempatkan sebagai hiburan semata. (
Hubungan dengan ritual membuat Wayang Beber memiliki posisi yang berbeda dibandingkan pertunjukan visual biasa. Cerita, gambar, dalang, penonton, dan konteks pelaksanaan menjadi satu kesatuan. Namun, praktik dan fungsi Wayang Beber dapat berbeda menurut komunitas serta periode sejarahnya, sehingga tidak tepat menganggap semua pertunjukan Wayang Beber selalu memiliki fungsi ritual yang sama.
7. “Hampir Terlupakan” Bukan Berarti Sudah Hilang
Label “hampir terlupakan” memang menggambarkan tantangan yang dihadapi Wayang Beber, tetapi bukan berarti tradisi ini sudah benar-benar punah. SENA WANGI, organisasi yang diakreditasi UNESCO, mencatat bahwa Indonesia memiliki sedikitnya 60 gaya atau jenis wayang dan program pelestariannya juga mencakup gaya langka seperti Wayang Beber.
UNESCO sendiri pernah menjalankan program pelindungan Wayang Indonesia pada 2005–2007 dengan anggaran US$149.986, termasuk penelitian, dokumentasi, pengembangan sanggar, dan pelatihan generasi muda. Wayang Indonesia kemudian masuk Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2008. Walaupun pengakuan UNESCO tersebut berlaku untuk tradisi Wayang Indonesia secara keseluruhan, program tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan berbagai gaya wayang, termasuk yang langka, membutuhkan pewarisan pengetahuan secara aktif.
Penutup
Wayang Beber membuktikan bahwa masyarakat Jawa memiliki tradisi bercerita melalui gambar yang sangat unik. Gulungan gambar, lakon Panji, kemampuan dalang, dan cara membuka adegan secara bertahap membuat kesenian ini berbeda dari Wayang Kulit maupun Wayang Golek. Status Wayang Beber Pacitan sebagai WBTb Indonesia sejak 2015 menjadi salah satu bentuk pengakuan penting terhadap keberadaannya. Namun, status sebagai warisan budaya tidak otomatis membuat tradisi tersebut aman dari kepunahan. Selama masih ada orang yang mempelajari, mementaskan, mendokumentasikan, dan memperkenalkannya kepada generasi baru, Wayang Beber masih memiliki kesempatan untuk kembali dikenal. (Budaya Kemdikbud)
Sumber Referensi
- Kemdikbud – Warisan Budaya: Wayang Beber
https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA000263 - Kemdikbud – Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/wp-content/uploads/sites/5/2022/12/Penetapan-Warisan-Budaya-Takbenda-WBTb-Indonesia.pdf - GARUDA Kemdikbud – Wayang Beber Priangan
https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=3395684&title=Wayang+Beber+Priangan+Alih+Wahana+Cerita+Lutung+Kasarung+ke+dalam+Wayang+Beber&val=10363 - UNESCO – Wayang Puppet Theatre
https://ich.unesco.org/en/RL/wayang-puppet-theatre-00063 - UNESCO – National Action Plan for Safeguarding Indonesian Wayang
https://ich.unesco.org/en/projects/implementation-of-the-national-action-plan-for-the-safeguarding-of-the-wayang-puppet-theatre-of-indonesia-00020

