7 Fakta Congklak, Permainan Tradisional yang Ternyata Penuh Strateg

7 Fakta Congklak, Permainan Tradisional yang Ternyata Penuh Strateg

Last Updated: 11 October 2026, 05:00

Bagikan:

7 Fakta Congklak, Permainan Tradisional yang Ternyata Penuh Strateg

Negerikami.id – Bagi banyak orang Indonesia, congklak mungkin hanya permainan masa kecil yang dimainkan sambil duduk santai di teras rumah. Papan berlubang dan biji-biji kecil terlihat sederhana, tetapi di balik gerakan memindahkan biji satu per satu terdapat permainan strategi yang cukup rumit. Pemain harus memilih lubang, menghitung langkah, membaca kemungkinan gerakan berikutnya, sekaligus menjaga agar bijinya tidak mudah diambil lawan. Tidak mengherankan jika penelitian tentang congklak bahkan membahasnya dari sisi matematika dan pencarian langkah terbaik.

Yang lebih menarik, congklak ternyata memiliki banyak nama di berbagai daerah Indonesia. Kemdikbud mencatat permainan ini dikenal sebagai dakon atau dhakonan di Jawa, maggaleceng di beberapa wilayah Sulawesi, serta memiliki sebutan lain seperti noga­rata, makaotan, dan aggalacang. Jadi, permainan yang tampak sederhana ini sebenarnya merupakan bagian dari keragaman budaya permainan tradisional Indonesia.

1. Congklak Punya Banyak Nama di Indonesia

Nama “congklak” bukan satu-satunya sebutan untuk permainan ini. Di Jawa, masyarakat lebih mengenalnya sebagai dakon, sementara di sejumlah wilayah Sumatra digunakan istilah congkak. Di Sulawesi, Kemdikbud mencatat beberapa nama lokal seperti maggaleceng dan aggalacang. Perbedaan nama tersebut menunjukkan bahwa permainan dengan konsep lubang dan biji ini dikenal dalam lingkungan budaya yang berbeda.

Keragaman istilah juga membuat sejarah congklak tidak bisa dibaca hanya dari satu daerah. Bentuk papan, nama permainan, bahan biji, hingga aturan lokal dapat memiliki variasi. Karena itu, menyebut congklak sebagai permainan yang identik dengan satu wilayah saja akan mengabaikan perjalanan budaya permainan tersebut di Nusantara.

2. Papan Congklak Menyimpan Pola yang Sangat Teratur

Papan congklak tradisional umumnya memiliki lubang-lubang kecil yang menjadi tempat penyimpanan biji serta lubang besar di kedua ujung sebagai “rumah” pemain. Dalam dokumentasi Congklak Betawi, Kemdikbud menjelaskan pola permainan menggunakan 7 lubang kecil dengan 7 biji pada masing-masing lubang. Pola tersebut menghasilkan susunan awal yang membuat setiap pemain memiliki jumlah biji yang sama.

Susunan itu bukan hanya membuat papan terlihat rapi. Jumlah biji menentukan bagaimana permainan dimulai dan bagaimana pemain menghitung kemungkinan langkah. Setiap biji yang dipindahkan akan mengubah kondisi lubang berikutnya, sehingga satu keputusan kecil dapat memengaruhi beberapa langkah setelahnya.

3. Menang Congklak Tidak Cukup dengan Bergerak Cepat

Aturan congklak mengharuskan pemain mengambil biji dari salah satu lubang lalu membagikannya satu per satu ke lubang yang dilewati. Pada kondisi tertentu, biji terakhir dapat membuat pemain memperoleh biji dari lubang lawan. Artinya, memilih lubang bukan keputusan sembarangan karena jumlah biji di dalamnya menentukan ke mana rangkaian gerakan akan berakhir.

Penelitian tentang solusi langkah congklak bahkan menjelaskan bahwa permainan ini membutuhkan perhitungan matematis untuk memilih biji yang dimainkan secara tepat dan cepat. Penelitian tersebut menggunakan algoritma pencarian untuk mempelajari langkah dalam permainan congklak. Fakta ini menunjukkan bahwa permainan tradisional tersebut ternyata memiliki struktur yang cukup menarik untuk dianalisis secara komputasional.

4. Biji Congklak Tidak Harus Berasal dari Bahan Mahal

Permainan congklak secara tradisional tidak membutuhkan perlengkapan mahal. Kemdikbud mencatat bahwa cangkang kerang dapat digunakan sebagai biji congklak, tetapi masyarakat juga menggunakan biji tumbuhan atau batu-batu kecil apabila bahan tersebut lebih mudah diperoleh. Hal tersebut memperlihatkan sifat permainan tradisional yang sangat dekat dengan lingkungan sekitar.

Bahkan dalam tradisi Betawi yang didokumentasikan Kemdikbud, congklak dapat dimainkan tanpa papan. Jika tidak memiliki media permainan, lubang-lubangnya dapat dibuat langsung di tanah menggunakan tumit atau batu. Sederhana, tetapi justru di situlah kekuatan permainan tradisional: kesenangan tidak selalu membutuhkan teknologi atau perlengkapan mahal.

5. Ada Filosofi di Balik Tujuh Lubang dan Tujuh Biji

Dalam dokumentasi Congklak Betawi, pola 7 lubang dan 7 biji dikaitkan dengan jumlah hari dalam satu minggu. Tafsir tersebut kemudian digunakan sebagai filosofi bahwa setiap orang mempunyai jatah waktu yang sama, yaitu tujuh hari. Ini merupakan interpretasi budaya yang berkembang dalam dokumentasi tersebut, bukan berarti semua komunitas congklak di Indonesia menggunakan filosofi yang sama.

Kemdikbud juga mencatat filosofi lain tentang bagaimana biji dipindahkan satu per satu dari lubang ke lubang. Gerakan tersebut ditafsirkan sebagai gambaran tentang memberi dan menerima, menabung, serta memikirkan konsekuensi dari tindakan hari ini terhadap masa depan. Dengan demikian, congklak tidak hanya dimainkan untuk menentukan siapa yang menang, tetapi juga dapat menjadi media penyampaian nilai dalam komunitas tertentu.

6. Congklak Bisa Melatih Cara Berpikir Strategis

Permainan ini memaksa pemain mempertimbangkan konsekuensi sebelum menentukan langkah. Salah memilih lubang dapat membuat distribusi biji berubah dan memberikan kesempatan kepada lawan. Karena itu, pemain yang hanya mengandalkan keberuntungan belum tentu dapat mengendalikan jalannya permainan.

Penelitian yang diterbitkan pada 2026 juga secara khusus mengkaji aktivitas congklak sebagai permainan strategi dalam kaitannya dengan perkembangan kognitif anak. Studi tersebut menyoroti fungsi eksekutif seperti memori kerja dan pengambilan keputusan, meskipun penelitian itu menggunakan studi kasus dengan tiga anak sehingga hasilnya tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh anak.

7. Congklak Masih Punya Tempat dalam Warisan Budaya Indonesia

Permainan tradisional merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya takbenda Indonesia. Kemdikbud menjelaskan bahwa Warisan Budaya Takbenda mencakup berbagai praktik, pengetahuan, keterampilan, serta objek budaya yang diwariskan antargenerasi dan terus diciptakan kembali oleh masyarakat. Hingga 2022, pemerintah mencatat 1.728 Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang telah ditetapkan sejak 2013.

Congklak sendiri juga terdokumentasi secara resmi, salah satunya sebagai Congklak Betawi dengan nomor registrasi 201900924 dan domain Tradisi dan Ekspresi Lisan. Artinya, permainan ini tidak sekadar kenangan masa kecil, tetapi bagian dari pengetahuan budaya yang masih didokumentasikan. Tantangannya sekarang adalah bagaimana permainan tersebut tetap dimainkan dan dikenalkan ketika anak-anak semakin terbiasa dengan hiburan digital.

Penutup

Congklak membuktikan bahwa permainan tradisional tidak selalu sesederhana tampilannya. Di balik papan berlubang dan biji-biji kecil terdapat aturan, perhitungan, strategi, serta nilai budaya yang diwariskan dalam berbagai komunitas Indonesia. Banyaknya nama lokal menunjukkan bahwa permainan ini memiliki jejak yang luas, sementara penelitian modern bahkan menjadikannya objek kajian matematika, algoritma, dan perkembangan kognitif. Justru karena terlihat sederhana, congklak sering luput dari perhatian. Padahal, permainan yang dulu dimainkan di teras rumah itu menyimpan satu pelajaran penting: sebelum melangkah, pemain harus memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya.

Sumber Referensi

Search

Video

Budaya Detail

DKI Jakarta

Adat Istiadat

DKI Jakarta

Budaya

Budaya Lainnya