7 Fakta Batik Lasem, Perpaduan Budaya Jawa dan Tionghoa

7 Fakta Batik Lasem, Perpaduan Budaya Jawa dan Tionghoa

Last Updated: 9 October 2026, 04:36

Bagikan:

7 Fakta Batik Lasem, Perpaduan Budaya Jawa dan Tionghoa

Negerikami.id – Ada satu hal yang membuat Batik Lasem berbeda dari banyak kain tradisional Nusantara: warna dan motifnya seolah membawa dua dunia sekaligus. Di satu sisi, ia tumbuh dari tradisi masyarakat Jawa pesisir, tetapi di sisi lain pengaruh budaya Tionghoa terlihat kuat melalui motif naga, burung hong, bunga, hingga penggunaan warna merah yang khas. Karena itu, menyebut Batik Lasem sekadar sebagai kain bermotif Tionghoa justru terlalu sederhana. Batik ini merupakan hasil pertemuan budaya yang berlangsung panjang di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Menariknya, jejak tersebut bukan hanya cerita masa lalu. Pemerintah Kabupaten Rembang pada 2025 menetapkan Perda Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pelestarian Batik Tulis Lasem, yang secara khusus mengakui perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa sebagai bagian dari karakter batik tersebut. Artinya, Batik Lasem bukan sekadar produk fesyen, melainkan identitas budaya yang kini mendapat perhatian melalui kebijakan pelestarian daerah.

1. Batik Lasem Lahir dari Akulturasi Jawa dan Tionghoa

Batik Lasem berkembang di kawasan pesisir yang sejak lama menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat. Penelitian mengenai akulturasi Batik Lasem menunjukkan bahwa hubungan antara budaya Jawa dan Tionghoa ikut membentuk karakter visual batik tersebut. Bahkan, kajian sejarah menyebut Lasem sebagai salah satu kawasan tempat aktivitas perdagangan dan percampuran budaya berkembang kuat.

Pengaruh Tionghoa kemudian tidak menghapus karakter lokal Lasem. Sebaliknya, keduanya melebur melalui motif, warna, dan teknik yang berkembang di masyarakat. Karena itulah Batik Lasem lebih tepat dipahami sebagai hasil akulturasi daripada dianggap sebagai salinan budaya dari satu kelompok saja. Identitasnya justru terbentuk karena pertemuan berbagai tradisi.

2. Warna Merah Menjadi Ciri yang Sulit Dilupakan

Salah satu daya tarik paling mudah dikenali dari Batik Lasem adalah keberanian penggunaan warna merah. Pemerintah Kabupaten Rembang menyebut warna getih pitik, atau merah darah ayam, sebagai salah satu karakter yang melekat pada Batik Lasem. Selain merah, terdapat pula warna seperti hijau dan biru tua yang memperkaya tampilan kain.

Karakter warna tersebut membuat Batik Lasem berbeda dari kesan batik pedalaman yang cenderung lebih tenang. Kajian desain juga mengelompokkan Lasem sebagai batik pesisir dengan karakter warna yang lebih beragam dan cerah. Inilah salah satu alasan kain Lasem mudah dikenali bahkan sebelum orang melihat nama motifnya.

3. Naga dan Burung Hong Bukan Sekadar Hiasan

Pengaruh budaya Tionghoa paling jelas dapat ditemukan dalam beberapa motif Batik Lasem. Pemerintah Kabupaten Rembang mencatat adanya motif burung hong, naga, dan bambu yang dipadukan dengan motif lokal seperti Latohan serta Watu Pecah. Motif tersebut menunjukkan bahwa unsur budaya Tionghoa tidak berdiri sendiri, tetapi ditempatkan berdampingan dengan unsur lingkungan dan pengalaman masyarakat Lasem.

Penelitian akademik juga mencatat burung hong atau phoenix dan naga sebagai bagian dari karakter motif Lasem. Namun, makna simbolik setiap motif dapat berbeda berdasarkan sumber dan tradisi pembatiknya. Karena itu, pembaca sebaiknya tidak menganggap setiap motif memiliki satu tafsir tunggal yang berlaku untuk seluruh Batik Lasem.

4. Ada Motif Watu Pecah yang Menyimpan Cerita Kelam

Di antara berbagai motifnya, Watu Pecah menjadi salah satu yang paling menarik karena dikaitkan dengan pengalaman sejarah masyarakat. Pemerintah Kabupaten Rembang menjelaskan bahwa motif ini berkaitan dengan pembangunan jalan pada masa pemerintahan kolonial Belanda dan penderitaan masyarakat yang terlibat dalam pekerjaan pemecahan batu. Kisah tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam pola batu-batu yang terpecah.

Karena itu, Batik Lasem tidak selalu berbicara tentang keindahan. Beberapa motif justru menyimpan ingatan mengenai kondisi sosial dan sejarah masyarakat pada masa lalu. Watu Pecah memperlihatkan bagaimana sebuah pengalaman pahit dapat berubah menjadi bahasa visual yang diwariskan melalui kain.

5. Latohan Justru Berasal dari Lingkungan Pesisir Lasem

Tidak semua motif Batik Lasem berasal dari pengaruh budaya luar. Salah satu contohnya adalah Latohan, motif yang terinspirasi dari tanaman laut yang tumbuh di kawasan pesisir Lasem. Pemerintah Kabupaten Rembang mencatat bahwa tanaman tersebut dikenal masyarakat setempat dan kemudian digunakan sebagai inspirasi dalam motif batik.

Kehadiran Latohan menjadi bukti bahwa identitas Batik Lasem juga dibentuk oleh lingkungan tempat masyarakatnya hidup. Laut, tumbuhan, perdagangan, dan kehidupan masyarakat pesisir ikut masuk ke dalam bahasa visual batik. Jadi, pengaruh Tionghoa memang kuat, tetapi bukan satu-satunya unsur yang membentuk karakter Lasem.

6. Batik Tiga Negeri Membuat Nama Lasem Semakin Menarik

Nama Batik Tiga Negeri juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah Batik Lasem. Pemerintah Kabupaten Rembang menjelaskan bahwa sebutan tersebut berkaitan dengan proses pewarnaan yang dilakukan melalui tiga tahap. Tradisi ini kemudian menjadi salah satu bagian yang membuat Batik Tiga Negeri Lasem dikenal luas di kalangan pencinta batik.

Indonesia Travel juga mencatat bahwa masa kejayaan Batik Lasem berlangsung sekitar 1860-an ketika banyak pengusaha Tionghoa mendirikan usaha batik. Seiring waktu, jumlah produsennya mengalami perubahan sehingga batik ini semakin dipandang sebagai warisan yang bernilai.

7. Lasem Kini Punya Aturan Khusus untuk Melestarikan Batiknya

Fakta paling baru menunjukkan bahwa Batik Lasem tidak hanya dipertahankan melalui komunitas pembatik. Kabupaten Rembang menetapkan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pelestarian Batik Tulis Lasem, yang berstatus berlaku dan ditetapkan pada 21 April 2025. Kebijakan tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian Batik Lasem telah masuk ke ranah kebijakan daerah.

Dalam penjelasan perda tersebut, Batik Tulis Lasem disebut sebagai hasil penggabungan budaya China dan Jawa, dengan unsur seperti merah, naga, burung hong, serta motif lokal seperti Latohan dan Watu Pecah. Langkah tersebut menunjukkan bahwa keunikan Batik Lasem bukan hanya soal penjualan kain, tetapi juga berkaitan dengan upaya menjaga identitas budaya dan keberlanjutan ekonomi masyarakat Lasem.

Penutup

Batik Lasem membuktikan bahwa budaya tidak selalu lahir dari satu sumber yang berdiri sendiri. Pengaruh Tionghoa memang sangat kuat, tetapi karakter Lasem terbentuk melalui pertemuan dengan budaya Jawa, kehidupan pesisir, sejarah perdagangan, dan pengalaman masyarakat setempat. Dari warna merah getih pitik, naga dan burung hong, hingga Latohan serta Watu Pecah, setiap unsur membawa cerita yang berbeda. Bahkan pada 2025, pemerintah daerah memperkuat upaya pelestariannya melalui Perda Nomor 4 Tahun 2025. Pada akhirnya, kekuatan Batik Lasem justru terletak pada kemampuannya memperlihatkan bagaimana perbedaan budaya dapat menyatu menjadi identitas baru yang khas.

Sumber Referensi

Search

Video

Budaya Detail

Jawa Tengah

Adat Istiadat

Jawa Tengah

Budaya

Budaya Lainnya