3 Sejarah Pakaian Adat Maluku, Warisan Maritim yang Penuh Makna

3 Sejarah Pakaian Adat Maluku, Warisan Maritim yang Penuh Makna

Last Updated: 27 September 2026, 08:49

Bagikan:

3 Sejarah Pakaian Adat Maluku, Warisan Maritim yang Penuh Makna

Negerikami.id – Jika mendengar istilah Pakaian Adat Maluku, banyak orang mungkin langsung membayangkan Baju Cele dengan motif kotak-kotak dan warna yang mencolok. Padahal, gambaran tersebut baru sebagian kecil dari kekayaan busana di kepulauan Maluku. Sejak dahulu, wilayah ini menjadi ruang pertemuan berbagai masyarakat dan jalur perdagangan. Karena itu, di balik kain, warna, serta aksesori terdapat cerita tentang identitas, adat, dan hubungan antargenerasi.

Baju Cele memang menjadi salah satu busana khas Maluku yang paling dikenal. Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku mencatat Baju Cele atau Baju Ginggang dipadukan dengan kain salele dan digunakan dalam berbagai kegiatan, termasuk sejumlah upacara adat. Namun, Maluku memiliki wilayah dan komunitas dengan tradisi busana yang beragam. Oleh sebab itu, menyebut seluruh pakaian adat Maluku sebagai satu bentuk tunggal justru dapat menghilangkan kekayaan budaya yang ada di dalamnya.

1. Baju Cele Lahir dari Identitas Masyarakat Maluku

Baju Cele memiliki ciri visual yang cukup mudah dikenali. Sumber Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku menjelaskan bahwa busana ini memiliki corak garis geometris atau kotak-kotak kecil dan biasanya dipadukan dengan kain sarung yang warnanya dibuat serasi. Dalam penggunaannya, busana tersebut juga dapat dilengkapi kain salele yang diselempangkan atau dikenakan pada tubuh.

Warna dan perlengkapannya bukan sekadar persoalan penampilan. Dalam tradisi yang dicatat sumber tersebut, Baju Cele dapat dikenakan dalam acara seperti pelantikan raja, cuci negeri, pesta negeri dan panas pela. Bahkan, terdapat variasi busana untuk kegiatan adat tertentu. Artinya, pakaian menjadi bagian dari cara masyarakat menunjukkan identitas sekaligus menghormati sebuah acara.

2. Warna Hitam dan Merah Bisa Memiliki Makna Berbeda

Bagian yang jarang diketahui adalah penggunaan warna dalam konteks adat. Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku mencatat busana yang digunakan dalam ritual tertentu, seperti upacara berkaitan dengan rumah adat, dapat menggunakan warna hitam karena dikaitkan dengan kesakralan dan kewibawaan. Sementara kain Cele berwarna merah disebut melambangkan keberanian yang bertanggung jawab.

Ini menunjukkan bahwa pakaian adat tidak selalu dibuat semata-mata agar terlihat indah. Warna, kain dan cara mengenakannya dapat berhubungan dengan konteks acara yang dihadiri. Karena itu, pakaian tradisional tidak tepat jika hanya dinilai dari model atau motifnya. Ada aturan sosial dan simbol yang ikut hidup di balik busana tersebut.

3. Kain Tanimbar Membawa Cerita dari Jalur Laut

Jika Baju Cele memperlihatkan identitas Maluku Tengah, kain tenun Tanimbar menunjukkan betapa luasnya keragaman budaya di Maluku. Balai Bahasa Provinsi Maluku mencatat kain tenun atau tais memiliki nilai penting bagi masyarakat Tanimbar, bahkan dapat menjadi bagian dari keperluan adat. Masyarakat Tanimbar juga memiliki kelompok penenun yang menghasilkan beragam motif dan jenis kain.

Lebih menarik lagi, kajian Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya menyebut persebaran pengetahuan tenun Tanimbar berkaitan dengan perpindahan masyarakat dan jalur perdagangan di Nusantara. Jalur tersebut digambarkan menghubungkan berbagai wilayah, dari kawasan barat Nusantara menuju Lombok, Timor hingga kepulauan Maluku, serta jalur lain melalui Sulawesi dan Maluku Utara. Namun, sumber tersebut juga menegaskan bahwa penelitian khusus mengenai sejarah persebaran teknik tenun itu masih diperlukan.

Pakaian Adat Maluku Adalah Arsip yang Bisa Dipakai

Pakaian tradisional pada akhirnya bukan hanya benda yang dikenakan ketika acara budaya berlangsung. Pemerintah Provinsi Maluku sendiri masih menggunakan Baju Cele dan sejumlah busana khas daerah sebagai bagian dari upaya menampilkan identitas Maluku dalam kegiatan resmi. Pada 2023, misalnya, busana adat Tanimbar juga digunakan dalam acara kenegaraan di Jakarta dan menampilkan simbol-simbol dari kain tenun setempat.

Dari Baju Cele hingga kain Tanimbar, terlihat bahwa pakaian adat bekerja seperti arsip yang bisa dikenakan. Motif, warna, kain dan aksesori membawa informasi tentang masyarakat yang menciptakannya. Ketika generasi muda masih mengenakannya dalam acara adat maupun kegiatan publik, pengetahuan tersebut memiliki kesempatan untuk terus hidup.

Penutup

Pakaian Adat Maluku ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar busana tradisional. Baju Cele memperlihatkan identitas dan tata busana masyarakat Maluku Tengah, sementara kain tenun Tanimbar menunjukkan hubungan antara kerajinan, masyarakat dan perjalanan budaya di kepulauan Maluku.

Yang membuatnya menarik, sebuah pakaian bisa menjadi penanda identitas, simbol dalam upacara dan sekaligus pengingat perjalanan sejarah. Jadi, ketika Baju Cele atau kain Tanimbar dikenakan, yang terlihat bukan hanya kain dan warna, tetapi juga bagian dari ingatan budaya masyarakat Maluku.

Sumber Referensi

Search

Video

Budaya Detail

Maluku Utara

Pakaian Adat

Maluku Utara

Budaya

Budaya Lainnya