Negerikami.id – Sekilas, Wayang Golek Sunda hanya terlihat seperti boneka kayu yang dimainkan di atas panggung. Namun, anggapan itu justru membuat salah satu kesenian paling khas Jawa Barat ini terlihat jauh lebih sederhana daripada kenyataannya. Di tangan seorang dalang, boneka kayu bisa berubah menjadi tokoh yang berbicara, bertarung, bercanda, bahkan menyampaikan kritik kehidupan melalui cerita berbahasa Sunda. Wayang golek bukan sekadar benda seni, melainkan bagian dari tradisi pertunjukan yang memiliki sejarah panjang di Jawa Barat.
Yang menarik, sejarah kelahiran Wayang Golek tidak memiliki satu versi tunggal yang bisa diterima begitu saja. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemdikbud mencatat sejumlah pendapat mengenai perkembangannya di Jawa Barat, termasuk kaitannya dengan penyebaran pewayangan pada masa Kesultanan Cirebon dan perkembangan bentuk golek sekitar abad ke-18 hingga ke-19. Pada abad ke-20, bentuk Wayang Golek kemudian mengalami berbagai perubahan hingga mendekati bentuk yang dikenal masyarakat sekarang.
1. Wayang Golek Berbeda dari Wayang Kulit
Perbedaan paling mudah dilihat ada pada bahan dan bentuknya. Jika Wayang Kulit menggunakan figur datar dari kulit yang dimainkan sebagai bayangan di balik kelir, Wayang Golek menggunakan boneka kayu tiga dimensi. UNESCO sendiri memasukkan boneka kayu tiga dimensi sebagai salah satu bentuk utama tradisi wayang Indonesia, berdampingan dengan wayang kulit.
Dalam Wayang Golek, bagian tubuh tertentu dapat digerakkan menggunakan batang atau pegangan yang terhubung dengan boneka. Teknik tersebut membuat tokoh tampak lebih hidup ketika dimainkan dalang. Perubahan bentuk dari wayang kulit menuju wayang golek juga menjadi bagian penting dari perkembangan seni pewayangan di wilayah Jawa Barat.
2. Ceritanya Tidak Selalu Sekadar Ramayana dan Mahabharata
Banyak orang langsung menghubungkan wayang dengan Ramayana dan Mahabharata. Memang, kedua epos tersebut menjadi sumber penting dalam tradisi pewayangan, termasuk Wayang Golek. Namun, dokumentasi pemerintah menunjukkan bahwa pertunjukan Wayang Golek juga dapat mengambil cerita rakyat dan kisah lain, termasuk cerita yang berkaitan dengan penyebaran Islam di Jawa Barat.
Di sinilah kreativitas dalang menjadi sangat penting. Pertunjukan dapat menggunakan lakon galur yang mengikuti cerita pokok maupun carangan, yaitu cerita yang dikembangkan dari kreativitas dalang. Kemdikbud bahkan mencatat bahwa lakon carangan sering menjadi ukuran kemampuan seorang dalang dalam menciptakan cerita yang menarik bagi penonton.
3. Bahasa Sunda Membuat Identitasnya Semakin Kuat
Salah satu karakter paling kuat Wayang Golek Sunda adalah penggunaan bahasa Sunda dalam pertunjukannya. Bahasa tersebut membuat cerita yang berasal dari tradisi pewayangan terasa dekat dengan masyarakat Jawa Barat. Tokoh-tokoh yang sebenarnya berasal dari dunia cerita yang sangat tua dapat hadir dalam suasana, humor, dan gaya komunikasi yang dipahami penonton lokal.
Penggunaan bahasa Sunda juga membuat Wayang Golek tidak berhenti sebagai replika dari tradisi pewayangan lain. Ia berkembang menjadi bentuk seni dengan identitas regional yang kuat. Karena itulah ketika masyarakat mendengar dialog khas dalang Sunda, lengkap dengan humor dan permainan karakter, mereka dapat segera mengenali bahwa pertunjukan tersebut memiliki dunia budaya yang berbeda.
4. Cepot Membuat Wayang Golek Terasa Sangat Dekat
Salah satu daya tarik Wayang Golek adalah kehadiran tokoh-tokoh panakawan yang mampu membawa suasana menjadi lebih ringan. Tokoh seperti Cepot dikenal luas dalam tradisi wayang Sunda dan sering hadir dengan karakter jenaka. Kehadiran tokoh semacam ini membuat pertunjukan tidak selalu terasa serius meskipun cerita utamanya dapat mengangkat konflik besar.
Humor juga memberi ruang bagi dalang untuk menyampaikan komentar tentang kehidupan masyarakat. Karena itu, pertunjukan Wayang Golek bisa terasa seperti perpaduan antara cerita klasik, komedi, nasihat, dan hiburan. Kemampuan membuat lakon tetap hidup melalui improvisasi inilah yang membuat peran dalang tidak bisa digantikan hanya dengan boneka dan naskah.
5. Wayang Golek Bagian dari Tradisi Wayang yang Diakui UNESCO
Wayang Golek tidak tercatat UNESCO sebagai elemen terpisah bernama “Wayang Golek Sunda”. Yang diakui UNESCO pada 2008 adalah Wayang Puppet Theatre, sebuah tradisi wayang Indonesia yang sebelumnya diproklamasikan sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 2003. UNESCO menjelaskan bahwa tradisi tersebut berkembang selama sekitar sepuluh abad dan memiliki berbagai bentuk serta gaya pertunjukan.
Pengakuan itu menjadi penting karena menunjukkan bahwa yang bernilai bukan hanya boneka wayangnya. Di dalamnya terdapat keterampilan dalang, musik, penceritaan, pembuatan boneka, serta proses pewarisan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Bahkan UNESCO mencatat program pelindungan wayang Indonesia pada 2005–2007 yang mencakup penelitian, dokumentasi, materi audiovisual, dan pelatihan di sanggar-sanggar wayang.
Penutup
Wayang Golek Sunda membuktikan bahwa boneka kayu bisa menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada bentuk fisiknya. Ia berkembang di Jawa Barat dengan bahasa Sunda, lakon yang beragam, kreativitas dalang, musik gamelan Sunda, serta tokoh-tokoh yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Sejarah kemunculannya pun tidak sesederhana satu cerita tunggal karena terdapat beberapa versi mengenai proses perkembangannya. Justru perbedaan versi tersebut memperlihatkan bahwa Wayang Golek merupakan hasil perjalanan budaya yang panjang. Ketika UNESCO mengakui tradisi wayang Indonesia pada 2008, yang sebenarnya ikut mendapat perhatian adalah ekosistem seni dan pengetahuan yang membuat pertunjukan seperti Wayang Golek tetap hidup.
Sumber Referensi
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – Wayang Indonesia
Membahas perkembangan wayang di Indonesia,
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/wayang-indonesia/ - UNESCO – Wayang Puppet Theatre
https://ich.unesco.org/en/RL/wayang-puppet-theatre-00063 - UNESCO – Indonesia: Intangible Cultural Heritage
https://ich.unesco.org/en/state/indonesia-ID - UNESCO – National Action Plan for Safeguarding Indonesian Wayang
https://ich.unesco.org/en/projects/implementation-of-the-national-action-plan-for-the-safeguarding-of-the-wayang-puppet-theatre-of-indonesia-00020

