Negerikami.id – Jika mendengar alat musik tradisional Indonesia, nama gamelan atau angklung mungkin lebih dulu muncul di kepala. Namun, ada satu musik dari Sulawesi Utara yang memiliki cerita tidak kalah menarik: kolintang Minahasa. Terbuat dari bilah-bilah kayu dan dimainkan dengan cara dipukul, kolintang sekilas tampak sederhana, tetapi di balik bentuknya tersimpan perjalanan budaya yang panjang.
Yang membuatnya semakin menarik, kolintang bukan lagi sekadar kesenian yang dikenal di daerah asalnya. Pada 2024, UNESCO memasukkan praktik budaya dan ekspresi yang berkaitan dengan balafon dan kolintang di Mali, Burkina Faso, Pantai Gading, dan Indonesia ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Pengakuan tersebut membuat nama kolintang Minahasa semakin mendapat perhatian di tingkat internasional.
1. Kolintang Benar-Benar Terbuat dari Kayu
Kolintang dikenal sebagai alat musik pukul berbahan kayu yang berkembang di lingkungan masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara. Bilah-bilah kayu dengan ukuran berbeda disusun dalam satu rangka sehingga dapat menghasilkan nada ketika dipukul menggunakan pemukul. Karena sumber bunyinya berasal dari getaran material kayu, kolintang termasuk kelompok alat musik yang secara organologis berbeda dari alat musik berdawai seperti sasando.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Kolintang – Ansambel Musik Kolintang Kayu Minahasa sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Provinsi Sulawesi Utara melalui SK Nomor 238/M/2013. Data tersebut menempatkan kolintang dalam domain seni pertunjukan dan memperkuat kedudukannya sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
2. Bukan Sekadar Alat Musik Pukul
Banyak orang mungkin mengira kolintang hanya terdiri dari beberapa bilah kayu yang dipukul secara bergantian. Kenyataannya, ansambel kolintang memiliki pembagian instrumen dengan fungsi dan wilayah nada yang berbeda. Penelitian musik mengenai kolintang Minahasa menjelaskan bahwa instrumen ini menggunakan bilah-bilah kayu dan dimainkan dengan teknik pukul sebagai bagian dari musik perkusi.
Dalam perkembangannya, susunan kolintang juga mengenal pembagian seperti melody, alto, tenor, cello, hingga bass. Penelitian yang terindeks dalam GARUDA Kemdikbud mencatat bahwa kolintang modern menggunakan tangga nada diatonik dan berkembang menjadi sebuah ansambel, bukan sekadar satu instrumen yang dimainkan sendirian.
3. Kolintang Punya Hubungan dengan Ritual
Salah satu sisi kolintang yang jarang diketahui adalah keterkaitannya dengan kehidupan sosial dan ritual masyarakat. UNESCO mencatat bahwa di Indonesia, kolintang dimainkan dalam upacara keagamaan dan ritual, sekaligus dikaitkan dengan nilai filosofis, etis, dan estetis. Artinya, keberadaan kolintang tidak hanya berkaitan dengan hiburan, tetapi juga dengan cara komunitas mempertahankan hubungan sosial dan budaya.
UNESCO juga menjelaskan bahwa praktik kolintang melibatkan musisi, perajin, peneliti, akademisi, serta berbagai kelompok masyarakat dalam proses pewarisannya. Pengetahuan tersebut tidak berhenti pada pemain lama karena ditransmisikan melalui pendidikan, kegiatan budaya, penelitian, dan berbagai aktivitas lintas sektor.
4. Pernah Dipandang sebagai Musik yang Perlu Terus Dihidupkan
Perjalanan kolintang tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Pelestarian alat musik tradisional membutuhkan pemain, pembuat instrumen, pengajar, dokumentasi, sekaligus generasi baru yang mau mempelajarinya. Karena itu, keberadaan komunitas menjadi bagian penting dalam menjaga agar pengetahuan mengenai cara membuat dan memainkan kolintang tidak berhenti pada satu generasi.
Kementerian Kebudayaan melalui kegiatan Kolintang Expo 2024 juga menekankan pentingnya membuat kolintang tetap hidup, berkembang, dan dipelajari generasi mendatang. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kolintang kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus memperkuat keberlanjutan praktik budayanya.
5. Kini Kolintang Sudah Diakui UNESCO
Fakta paling mengejutkan dari perjalanan kolintang adalah pengakuan UNESCO pada 2024. Kolintang Indonesia menjadi bagian dari elemen budaya multinasional yang menghubungkan praktik balafon di Afrika Barat dengan kolintang di Indonesia. UNESCO mencatat adanya kesamaan tertentu dalam bahan, bentuk, bilah, fungsi, proses pewarisan, dan nilai budaya di antara tradisi tersebut, meskipun masing-masing berkembang dalam lingkungan budaya yang berbeda.
Pengakuan UNESCO bukan berarti kolintang tiba-tiba menjadi budaya baru, melainkan menjadi pencatatan internasional terhadap praktik budaya yang telah hidup dan diwariskan oleh komunitas. Dalam keputusan UNESCO, komunitas kolintang Indonesia disebut terlibat dalam proses nominasi, termasuk melalui pertemuan, pertukaran pengetahuan, dokumentasi, dan rencana pelestarian.
Penutup
Kolintang Minahasa membuktikan bahwa alat musik berbahan kayu dapat membawa cerita jauh lebih besar daripada bentuk fisiknya. Dari bilah-bilah kayu di Sulawesi Utara, musik ini berkembang menjadi ansambel dengan struktur permainan yang kompleks dan memiliki hubungan dengan kehidupan sosial serta ritual masyarakat. Perjalanannya kemudian mencapai panggung internasional setelah praktik kolintang Indonesia masuk daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2024.
Yang menarik, pengakuan dunia bukanlah akhir dari perjalanan kolintang. Justru tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan tentang membuat, memainkan, dan memahami makna budaya kolintang terus diwariskan. Selama generasi muda masih mengenalnya dan para pelaku budaya terus mengajarkannya, suara kayu Minahasa ini tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup di masa depan.
Sumber Referensi
- UNESCO – Cultural practices and expressions linked to Balafon and Kolintang in Mali, Burkina Faso, Côte d’Ivoire and Indonesia
https://ich.unesco.org/en/RL/cultural-practices-and-expressions-linked-to-balafon-and-kolintang-in-mali-burkina-faso-cote-d-ivoire-and-indonesia-02131 - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – Warisan Budaya Takbenda: Kolintang
https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA000716 - Direktorat Jenderal Kebudayaan – Kolintang Expo 2024
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/kolintang-expo-2024-menteri-kebudayaan-tegaskan-bahwa-kolintang-harus-terus-hidup-berkembang-dan-dipelajari-oleh-generasi-generasi-mendatang/

