7 Fakta Unik Sasando, Alat Musik NTT yang Bentuknya Mirip Kipas

7 Fakta Unik Sasando, Alat Musik NTT yang Bentuknya Mirip Kipas

Last Updated: 30 September 2026, 04:03

Bagikan:

7 Fakta Unik Sasando, Alat Musik NTT yang Bentuknya Mirip Kipas

Negerikami.id – Sekilas, Sasando mungkin terlihat seperti alat musik biasa dengan bentuk yang tidak lazim. Namun, bagian berbentuk kipas yang mengelilingi tubuh alat musik ini justru menjadi ciri paling mudah dikenali dari Sasando asal Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Bagian tersebut bukan sekadar hiasan. Daun lontar yang membentuk kipas memiliki kaitan dengan karakter bunyi Sasando.

Yang membuatnya semakin menarik, Sasando tidak dimainkan dengan cara dipukul seperti gong atau ditiup seperti seruling. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipetik pada dawai yang membentang di sekitar tabung bambu. Di balik bentuknya yang unik, terdapat pengetahuan lokal tentang bahan, susunan dawai, resonansi, dan perkembangan musik masyarakat Rote.

1. Sasando Berasal dari Pulau Rote

Sasando dikenal sebagai alat musik tradisional yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Alat musik ini sangat lekat dengan masyarakat Kabupaten Rote Ndao. Seiring waktu, Sasando kemudian dikenal lebih luas sebagai salah satu alat musik tradisional Indonesia. Keberadaannya juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Rote.

Selain itu, Sasando telah diperkenalkan dalam berbagai pertunjukan budaya di Indonesia. Keunikan bentuk dan cara memainkannya membuat alat musik ini mudah dikenali. Bukan hanya menghasilkan musik, Sasando juga memperlihatkan bagaimana masyarakat setempat memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Karena itu, keberadaannya memiliki nilai budaya yang penting.

2. Bentuk “Kipas” Bukan Sekadar Hiasan

Bagian yang membuat Sasando terlihat seperti kipas berasal dari daun lontar. Bagian tersebut mengelilingi tabung bambu yang menjadi tubuh utama alat musik. Daun lontar berfungsi sebagai bagian dari sistem resonansi Sasando. Karena itu, bentuk kipas pada Sasando tidak dibuat hanya untuk mempercantik tampilannya.

Menariknya, penelitian mengenai Sasando juga membahas hubungan bentuk daun lontar dengan intensitas bunyi. Artinya, perubahan pada bagian tersebut dapat berkaitan dengan karakter suara yang dihasilkan. Dengan demikian, bentuk unik Sasando juga memperlihatkan adanya pengetahuan lokal mengenai bunyi dan bahan. Inilah salah satu hal yang membuat konstruksi Sasando berbeda dari banyak alat musik petik lainnya.

3. Tubuhnya Menggunakan Bambu

Di balik bentuk kipas tersebut terdapat tabung bambu yang menjadi bagian penting Sasando. Dawai-dawai dipasang mengelilingi tabung dan ditopang oleh bagian tertentu untuk menghasilkan nada. Ketika dawai dipetik, getarannya diteruskan melalui konstruksi alat musik. Selanjutnya, bagian resonator membantu menghasilkan suara yang menjadi ciri Sasando.

Penggunaan bambu juga menunjukkan pemanfaatan bahan alam dalam pembuatan alat musik tradisional. Bambu memiliki peran penting dalam konstruksi sekaligus karakter akustik alat musik. Sementara itu, daun lontar menjadi bagian yang membuat tampilan Sasando sangat khas. Perpaduan kedua bahan tersebut menghasilkan bentuk yang sederhana, tetapi memiliki fungsi musikal.

4. Sasando Termasuk Alat Musik Chordophone

Secara klasifikasi, Sasando termasuk alat musik chordophone. Kelompok ini mencakup alat musik yang sumber bunyinya berasal dari getaran dawai atau senar. Pada Sasando, bunyi muncul ketika pemain memetik dawai yang terpasang pada tabung bambu. Karena itu, cara memainkan Sasando memiliki karakter yang berbeda dari alat musik pukul atau tiup.

Klasifikasi tersebut juga membantu menjelaskan bagaimana Sasando menghasilkan suara. Dawai menjadi sumber getaran utama, sedangkan bagian tubuh dan resonator membantu memperkuat karakter bunyi. Pemain kemudian menggunakan kedua tangan untuk memetik sejumlah dawai. Teknik tersebut memungkinkan Sasando menghasilkan rangkaian nada dan harmoni dalam sebuah pertunjukan.

5. Jenis Sasando Tidak Hanya Satu

Sasando berkembang dalam beberapa bentuk, di antaranya Sasando Gong dan Sasando Biola. Sasando Gong menggunakan sistem nada pentatonik yang berkaitan dengan tradisi musik masyarakat Rote. Sementara itu, Sasando Biola menggunakan sistem nada diatonik. Perbedaan sistem nada tersebut membuat karakter musikal keduanya tidak sepenuhnya sama.

Selain sistem nada, jumlah dawai dan konstruksinya juga dapat berbeda. Sasando Biola memiliki jumlah dawai yang lebih banyak sehingga memungkinkan jangkauan nada yang lebih luas. Perkembangan bentuk tersebut menunjukkan bahwa Sasando dapat beradaptasi dengan kebutuhan musikal. Namun, identitas dasarnya sebagai alat musik khas Rote tetap dipertahankan.

6. Sasando Pernah Berkembang Menjadi Versi Elektrik

Perkembangan zaman tidak membuat Sasando berhenti pada bentuk tradisional. Indonesia Kaya mencatat adanya pengembangan Sasando elektrik sejak sekitar 1960-an. Inovasi tersebut dikaitkan dengan Edu Pah, salah satu maestro Sasando dari Nusa Tenggara Timur. Perubahan tersebut memungkinkan suara Sasando digunakan dalam pertunjukan dengan kebutuhan tata suara yang lebih modern.

Namun, versi elektrik tidak serta-merta menghilangkan karakter dasar Sasando. Prinsip permainan dengan memetik dawai tetap menjadi bagian penting. Perbedaannya lebih terlihat pada sistem penguatan suara yang digunakan dalam pertunjukan. Dengan cara tersebut, Sasando dapat mengikuti perkembangan panggung musik tanpa sepenuhnya meninggalkan akar tradisionalnya.

7. Sasando Bukan Sekadar Alat Musik

Bagi masyarakat Rote, Sasando memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar instrumen pertunjukan. Alat musik ini hadir dalam berbagai kegiatan seni dan dapat digunakan untuk mengiringi lagu maupun tarian tradisional. Keberadaannya juga berkaitan dengan identitas budaya masyarakat Rote. Karena itu, Sasando menjadi bagian dari warisan budaya yang terus diperkenalkan.

Di tengah perkembangan musik modern, Sasando juga terus menemukan ruang baru. Alat musik ini dapat ditampilkan dalam pertunjukan budaya, festival, hingga berbagai kegiatan pengenalan kesenian Indonesia. Dengan demikian, generasi muda memiliki kesempatan untuk mengenal Sasando dalam bentuk yang lebih beragam. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa tradisi dapat berkembang tanpa harus kehilangan ciri khasnya.

Penutup

Sasando menunjukkan bahwa sebuah alat musik tradisional dapat menyimpan pengetahuan budaya yang sangat menarik. Daun lontar berbentuk kipas, tabung bambu, dan dawai bukan sekadar perpaduan bahan. Setiap bagian memiliki fungsi dalam membentuk karakter alat musik tersebut. Dari Pulau Rote, Sasando kemudian dikenal sebagai salah satu ikon musik tradisional Nusa Tenggara Timur.

Lebih dari itu, perkembangan Sasando menunjukkan kemampuan kesenian tradisional untuk beradaptasi dengan zaman. Kehadiran Sasando Gong, Sasando Biola, hingga Sasando elektrik memperlihatkan perjalanan tersebut. Meski bentuk dan penggunaannya dapat berkembang, identitas Sasando tetap berkaitan erat dengan masyarakat Rote. Itulah yang membuat Sasando layak dikenalkan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Sumber Referensi

Search

Video

Budaya Detail

Nusa Tenggara Timur

Adat Istiadat

Nusa Tenggara Timur

Budaya

Budaya Lainnya