Negerikami.id – Sekilas, Tari Kipas Pakarena terlihat seperti pertunjukan perempuan yang bergerak lembut sambil memainkan kipas. Namun di balik gerakan yang perlahan itu tersimpan gambaran tentang kehidupan, tata krama, rasa syukur dan karakter perempuan dalam budaya Gowa. Bahkan, ketika musik pengiring terdengar dinamis dan menghentak, para penari justru tetap bergerak tenang dan teratur. Kontras inilah yang membuat Tari Kipas Pakarena memiliki daya tarik tersendiri.
Yang menarik, asal-usul Pakarena juga tidak hanya memiliki satu versi cerita. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan mencatat dua versi mengenai sejarahnya, termasuk kisah tentang penghuni Boting Langi atau negeri khayangan dan Lino atau bumi. Dalam kisah tersebut, penghuni Boting Langi mengajarkan berbagai tata cara kehidupan kepada manusia sebelum berpisah. Gerakan yang berkaitan dengan ajaran tersebut kemudian dipercaya menjadi bagian dari asal-usul tarian.
1. Gerakannya Menggambarkan Siklus Kehidupan
Rahasia pertama Tari Kipas Pakarena ada pada gerakannya. Modul pembelajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa gerakan berputar searah jarum jam dapat dimaknai sebagai gambaran siklus kehidupan manusia. Sementara gerakan naik dan turun menggambarkan kehidupan yang tidak selalu berada di atas, tetapi juga mengalami masa ketika berada di bawah.
Pesan tersebut membuat gerakan Pakarena terasa berbeda dari tarian yang hanya mengandalkan keindahan visual. Gerakan yang tampak sederhana sebenarnya dapat membawa simbol tentang perjalanan hidup manusia. Dalam konteks budaya Gowa, kelembutan gerakan juga dikaitkan dengan karakter perempuan yang sopan, setia, patuh dan menghormati orang lain.
2. Kipas Bukan Sekadar Properti Tari
Fakta kedua terletak pada kipas yang selalu menjadi bagian paling mudah dikenali dari tarian ini. Kipas bukan hanya aksesori untuk mempercantik penampilan penari, tetapi menjadi bagian dari bahasa gerak Pakarena. Gerakan membuka, menutup dan mengayunkan kipas berpadu dengan posisi tubuh serta langkah kaki yang dilakukan secara perlahan.
Dalam berbagai pengembangan koreografi Pakarena, nama-nama gerak juga memiliki makna tertentu. Kajian mengenai Pakarena mencatat adanya ragam gerak yang berkaitan dengan penghormatan, pengendalian diri hingga pesan tentang bagaimana seseorang membawa dirinya dalam pergaulan. Dengan begitu, kipas menjadi bagian dari simbol yang memperkuat pesan tarian.
3. Musiknya Menghentak, Tetapi Gerakannya Justru Lembut
Inilah salah satu kontras paling menarik dari Tari Kipas Pakarena. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan menjelaskan bahwa tarian ini diiringi instrumen seperti genrang, pui-pui dan sia-sia. Musiknya dapat terdengar dinamis dan menghentak, tetapi gerakan penarinya tetap gemulai dan luwes.
Perbedaan antara musik dan gerakan tersebut justru menjadi karakter kuat Pakarena. Penari tidak harus mengikuti energi musik dengan gerakan yang cepat. Sebaliknya, mereka mempertahankan ketenangan dan keteraturan tubuh. Pesan yang muncul adalah bahwa kelembutan tidak selalu berarti kelemahan, tetapi dapat menjadi bentuk pengendalian diri.
4. Pakarena Berkaitan dengan Cerita Boting Langi dan Lino
Fakta keempat datang dari cerita yang hidup di tengah masyarakat. Salah satu versi sejarah Pakarena berkaitan dengan perpisahan penghuni Boting Langi dan Lino. Sebelum berpisah, penghuni Boting Langi disebut mengajarkan manusia mengenai berbagai cara menjalani kehidupan, mulai dari bercocok tanam, beternak hingga berburu. Gerakan tubuh dalam cerita tersebut kemudian dikaitkan dengan lahirnya Pakarena.
Karena berasal dari tradisi lisan, kisah tersebut sebaiknya dipahami sebagai cerita budaya atau versi asal-usul, bukan sebagai catatan sejarah faktual yang dapat dibuktikan seperti dokumen sejarah. Justru keberadaan cerita inilah yang membuat Pakarena memiliki hubungan kuat dengan pandangan masyarakat mengenai kehidupan, alam dan rasa syukur.
5. Pakarena Bukan Hanya Milik Masa Lalu
Fakta terakhir menunjukkan bahwa Pakarena tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan menyebut Pakarena sebagai salah satu tari klasik Sulawesi Selatan yang terkenal dan berkembang dalam kultur Gowa, Takalar, Jeneponto serta Bulukumba. Dalam perkembangannya, jumlah penari juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan panggung.
Kajian tentang Pakarena Sambori’na bahkan menunjukkan bahwa tari tersebut kini dapat hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk acara pernikahan, aqiqah dan kegiatan lainnya. Artinya, tradisi tari terus beradaptasi dengan kehidupan masyarakat tanpa harus kehilangan seluruh identitas budayanya.
Penutup
Tari Kipas Pakarena membuktikan bahwa tarian tradisional tidak selalu bisa dipahami hanya dari gerakan yang terlihat di atas panggung. Di balik kipas dan langkah yang perlahan terdapat cerita tentang kehidupan, rasa syukur, tata krama, pengendalian diri dan karakter perempuan dalam kebudayaan Gowa.
Hal yang paling menarik justru ada pada kontradiksinya: musik bisa terdengar kuat, tetapi tubuh penari tetap tenang. Dari situlah Pakarena menyampaikan pesan bahwa kehidupan tidak selalu harus dijalani dengan tergesa-gesa. Ada saat untuk bergerak, ada saat untuk menahan diri, dan ada saat untuk menerima bahwa kehidupan selalu berputar.
Sumber Referensi
- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan – Tari Pakarena https://disbudpar.sulselprov.go.id/page/budaya/29/tari-pakarena
- Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – Pakarena https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/pakarena/
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan – Bahasa Indonesia Paket A, Tingkatan II Modul 1 https://emodul.kemdikbud.go.id/A-BId-1/A-BId-1.pdf


