Negerikami.id – Sembilan perempuan bergerak perlahan mengikuti irama gamelan dalam suasana yang nyaris hening. Tidak ada gerakan yang dibuat terburu-buru, sementara setiap posisi tubuh dan perpindahan penari tampak memiliki aturan tersendiri. Bagi sebagian orang, Tari Bedhaya mungkin terlihat seperti pertunjukan tari Jawa klasik biasa. Namun di lingkungan keraton, beberapa jenis Bedhaya memiliki kedudukan yang jauh lebih sakral dan berkaitan dengan upacara penting.
Inilah yang membuat Bedhaya menarik sekaligus berbeda dari tarian tradisional yang dipentaskan untuk hiburan umum. Bedhaya Ketawang, misalnya, merupakan salah satu tari gaya Surakarta yang secara tradisi dipentaskan dalam rangka Tingalan Jumenengan Dalem, yaitu peringatan naik takhta raja. Pemerintah Kota Surakarta mencatat tarian tersebut ditarikan oleh sembilan penari dengan karakter dan posisi masing-masing.
1. Sembilan Penari Bukan Sekadar Angka
Salah satu fakta paling menarik dari Bedhaya adalah jumlah penarinya. Dalam Bedhaya Ketawang, terdapat sembilan penari yang masing-masing memiliki sebutan posisi, antara lain Batak, Gulu, Dhadha, Buncit, Apit Ngarep, Apit Mburi, Apit Meneng, Endhel Ajeg, dan Endhel Weton. Pembagian tersebut menunjukkan bahwa tarian ini tidak dirancang sebagai gerakan kelompok yang dilakukan secara bebas. Setiap penari memiliki posisi dalam struktur koreografi yang telah diwariskan.
Hal tersebut sekaligus menjelaskan mengapa Bedhaya membutuhkan ketelitian tinggi. Keserasian sembilan penari menjadi bagian penting dari pertunjukan karena perpindahan posisi, arah gerak, ekspresi, hingga hubungan dengan iringan gamelan harus berjalan selaras. Bagi penonton modern, gerakan yang tampak sederhana justru menyimpan disiplin tradisi yang panjang.
2. Bedhaya Berkaitan dengan Upacara Keraton
Fakta kedua yang membuat Bedhaya berbeda adalah hubungannya dengan lingkungan keraton. Bedhaya Ketawang secara tradisional dipentaskan dalam upacara Tingalan Jumenengan Dalem di Keraton Surakarta. Kajian Pemerintah Kota Surakarta menyebut pertunjukan tersebut berlangsung di Pendapa Sasana Sewaka dan menjadi bagian dari peringatan penobatan raja.
Tradisi tersebut bukan sekadar cerita masa lalu. Pada 2025, Pemerintah Kota Surakarta mendokumentasikan rangkaian Tingalan Jumenengan di Pura Mangkunegaran yang juga menghadirkan tari Bedhaya dalam prosesi penting keraton. Di Mangkunegaran, tarian yang ditampilkan adalah Bedhaya Anglir Mendhung, yang disebut sebagai tarian sakral dan hanya ditampilkan dalam upacara tertentu.
3. Istilah “Bedhaya” Tidak Hanya Merujuk Satu Tarian
Ini bagian yang sering membuat orang keliru. Ketika menyebut Tari Bedhaya, masyarakat mungkin langsung menganggapnya sebagai satu tarian tertentu. Padahal lingkungan keraton memiliki berbagai karya tari Bedhaya. Pemerintah Kota Surakarta mencatat sejumlah karya seperti Bedhaya Ketawang, Bedhaya Duradasih, Bedhaya Pangkur dan Bedhaya Sukoharja dalam tradisi tari Keraton Surakarta.
Bahkan, Tari Bedhaya Pangkur telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2023, sedangkan pada 2024 sejumlah karya Bedhaya lain seperti Bedhaya Bedhah Madiun Mangkunegaran dan Bedhaya Ela-Ela juga tercatat dalam penetapan WBTb. Data tersebut memperlihatkan bahwa Bedhaya bukan satu karya tunggal, melainkan bagian dari tradisi tari keraton yang terus berkembang dan diwariskan.
Penutup
Tari Bedhaya memperlihatkan sisi lain budaya Jawa yang tidak selalu terlihat dari panggung pertunjukan. Di balik gerakan yang lembut terdapat struktur penari, aturan tradisi, iringan gamelan, serta hubungan dengan kehidupan keraton yang telah berlangsung lintas generasi.
Karena itu, menyebut Bedhaya hanya sebagai “tarian tradisional” terasa terlalu sederhana. Beberapa karya Bedhaya memang memiliki fungsi pertunjukan, tetapi karya tertentu memiliki kedudukan khusus dalam upacara keraton. Justru perbedaan inilah yang membuat Tari Bedhaya tetap menarik untuk dipelajari ketika budaya tradisional berhadapan dengan zaman modern.
Sumber Referensi
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi – Warisan Budaya: Bedhaya Ketawang https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA001304
- Pemerintah Kota Surakarta – Kajian Budaya Ekonomi Kreatif di Lima Kecamatan Kota Surakarta https://ekonomi.surakarta.go.id/assets_frontend/images/file_kajian/83528a4cd5c141064e8ed27db0a8c593.pdf
- Pemerintah Kota Surakarta – Rangkaian Acara Tingalan Jumenengan KGPAA Mangkunegara X https://surakarta.go.id/detail-berita/rangkaian-acara-tingalan-jumenengan-kgpaa-mangkunegara-x-2584
