Negerikami.id – Gerak kaki yang cepat, iringan gambus, dan nuansa Melayu membuat Tari Zapin mudah dikenali. Tetapi ada satu cerita yang sering luput dari perhatian: tarian ini merupakan hasil pertemuan budaya yang berlangsung melalui jalur perdagangan dan perkembangan Islam di kawasan Nusantara.
Sumber Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa Zapin di kawasan Melayu terilhami unsur Zapin Arab. Seni ini kemudian berkembang di wilayah kerajaan Melayu dan mengalami pembauran dengan budaya setempat. Hasilnya bukan satu tarian yang seragam, melainkan berbagai ragam Zapin di daerah berbeda dengan pola dasar yang masih memiliki kemiripan.
Jadi, menyebut Zapin hanya sebagai “tarian Arab” juga tidak tepat. Sebaliknya, menganggapnya murni lahir tanpa pengaruh luar juga terlalu sederhana. Justru pertemuan berbagai budaya itulah yang membuat sejarah Zapin menarik.
1. Gerak Kakinya Menjadi Ciri Paling Kuat
Ciri yang paling mudah dikenali dari Zapin adalah permainan langkah kaki. Gerakannya memiliki pola yang teratur dan menjadi bagian penting dari identitas tari tersebut.
Sumber kebudayaan pemerintah mencatat bahwa Zapin berkembang dengan berbagai variasi sesuai daerah penerimanya, tetapi pola dasarnya tetap memiliki kesamaan. Di Riau, misalnya, berkembang Zapin Meskom, sementara di Kepulauan Riau terdapat Zapin Penyengat.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah kesenian dapat berubah ketika bertemu masyarakat baru. Gerakan yang dibawa dari luar tidak sekadar disalin, tetapi mengalami penyesuaian dengan selera, lingkungan sosial, dan tradisi lokal.
Karena itu, setiap daerah dapat memiliki gaya Zapin yang terasa berbeda meskipun masih berada dalam satu rumpun budaya.
2. Gambus dan Marwas Menguatkan Jejak Arab-Melayu
Kalau gerakan kaki menjadi identitas visual, musik menjadi salah satu petunjuk penting mengenai perjalanan Zapin. Dalam berbagai pertunjukannya, Zapin berkaitan erat dengan alat musik seperti gambus, rebana, dan marwas.
Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau mencatat bahwa Zapin Meskom berkembang dengan iringan gambus, rebana, dan marwas. Perpaduan musik dan tari tersebut kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Melayu di Riau.
Gambus sendiri memiliki sejarah panjang dalam hubungan budaya masyarakat Nusantara dengan dunia Islam dan kawasan Timur Tengah. Jalur perdagangan membuat pelabuhan-pelabuhan di Nusantara menjadi tempat bertemunya pedagang, ulama, seniman, dan masyarakat lokal.
Di sinilah Zapin menunjukkan wajahnya yang paling menarik: pengaruh dari luar tidak otomatis menghapus budaya lokal. Sebaliknya, unsur baru dapat melebur dan menghasilkan bentuk kesenian yang kemudian dianggap sebagai bagian dari identitas daerah.
3. Zapin Berkembang Bersamaan dengan Dunia Melayu dan Islam
Ciri ketiga terletak pada konteks sosialnya. Zapin tidak berkembang di ruang kosong. Penyebarannya berkaitan dengan jaringan masyarakat Melayu dan perkembangan Islam di wilayah pesisir.
Sumber resmi kebudayaan menyebutkan bahwa Zapin dibawa melalui hubungan perdagangan dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah Melayu. Dari kawasan pesisir Riau dan Kepulauan Riau, kesenian ini berkembang dengan karakter yang berbeda-beda.
Zapin Penyengat, misalnya, disebut sebagai jenis tari yang bernapaskan Islam dan berkembang di Pulau Penyengat. Sementara itu, Zapin di daerah lain mengalami penyesuaian dengan tradisi masyarakat setempat.
Hal tersebut menunjukkan bahwa sejarah budaya Nusantara tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Perdagangan, migrasi, agama, kerajaan, dan interaksi masyarakat ikut membentuk kesenian yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.
Mengapa Zapin Sering Disebut “Tarian Arab”?
Istilah tersebut memang memiliki dasar sejarah, tetapi perlu diberi konteks. Zapin memiliki akar pengaruh Arab, tetapi bentuk yang berkembang di Nusantara merupakan hasil proses akulturasi.
Sumber resmi kebudayaan bahkan menjelaskan bahwa Zapin dari Arab mengalami pembauran dengan budaya setempat hingga melahirkan berbagai variasi daerah.
Artinya, pertanyaan yang lebih menarik bukan “Zapin milik siapa?”, melainkan bagaimana sebuah kesenian bisa melakukan perjalanan begitu jauh lalu berubah menjadi bagian dari identitas masyarakat yang menerimanya.
Inilah salah satu karakter penting kebudayaan Nusantara: budaya berkembang melalui pertemuan. Unsur asing dapat diterima, diolah, lalu diberi makna baru oleh masyarakat lokal.
Dari Istana hingga Kampung
Perjalanan Zapin juga mengalami perubahan fungsi sosial. Di kawasan Melayu, kesenian ini pernah berkembang dalam lingkungan kerajaan sebelum kemudian menyebar ke masyarakat yang lebih luas.
Dalam sejarah Zapin Meskom, sumber Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau mencatat bahwa kesenian tersebut kemudian berkembang di kampung-kampung dan tampil dalam berbagai hajatan rakyat. Pada 2017, Zapin Meskom dan Zapin Api ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Provinsi Riau.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah seni pertunjukan dapat bertahan justru karena mampu berpindah ruang. Dari lingkungan istana menuju masyarakat luas, Zapin terus mendapatkan kehidupan baru.
Penutup
Tari Zapin menyimpan cerita tentang perjalanan budaya yang jauh lebih panjang daripada gerakan tari di atas panggung. Tiga cirinya—permainan langkah kaki, iringan musik seperti gambus dan marwas, serta kaitannya dengan jaringan Melayu dan Islam—menunjukkan proses pertemuan budaya Arab dengan masyarakat Nusantara.
Namun, menyebut Zapin sebagai kesenian Arab semata juga tidak cukup. Setelah berkembang di Nusantara, kesenian ini mengalami proses pembauran dan melahirkan banyak variasi lokal.
Pada akhirnya, kekuatan Zapin justru terletak pada kemampuannya berubah tanpa kehilangan jejak sejarah. Ia membawa pengaruh dari luar, tetapi tumbuh dengan wajah Nusantara.
Sumber Referensi
- Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV – Mengenal Zapin Penyengat https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpkw4/mengenal-zapin-penyengat
- Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau – Tari Zapin Meskom yang Makin Mendunia https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/tari-zapin-meskom-bengkalis-yang-makin-mendunia
- Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya – Zapin Api, Warisan Budaya Takbenda Indonesia https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/zapin-api-warisan-budaya-tak-benda-dari-riau-2017
- Direktorat Jenderal Kebudayaan – Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/penetapan-warisan-budaya-takbenda-indonesia-2014

